Bukan Malas, Mereka Hanya Kehabisan Kesempatan

Wait 5 sec.

Coba tanya ke teman-teman yang baru lulus kuliah tahun ini. Hampir dipastikan ada yang cerita hal yang sama: sudah kirim puluhan lamaran, tapi belum ada yang masuk. Ada yang sampai ratusan lamaran dalam beberapa bulan. Bukan karena tidak berusaha. Bukan karena IPK-nya jelek. Tapi memang begitulah kondisinya sekarang — dunia kerja jauh lebih sempit dari yang dijanjikan bangku kuliah.Fenomena ini bukan sekadar cerita dari mulut ke mulut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024 mencatat tingkat pengangguran terbuka dari lulusan diploma dan universitas masih berada di angka yang cukup mengkhawatirkan — masing-masing 5,72% dan 4,97%. Lebih mengejutkan lagi, ada sekitar 9,9 juta anak muda usia 15–24 tahun yang masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training). Mereka bukan generasi yang tidak mau kerja. Mereka hanya tidak punya tempat untuk masuk.Sumber: Unreal ImagesIjazah bukan lagi tiket masukDulu, punya gelar sarjana rasanya sudah cukup untuk membuka pintu. Sekarang? Gelar itu lebih mirip syarat administrasi — perlu ada, tapi tidak otomatis bikin kamu dipilih. Persaingan sudah berubah drastis. Setiap lowongan kerja yang dibuka di platform seperti LinkedIn atau Jobstreet bisa menarik ribuan pelamar dalam hitungan hari. Satu posisi staf administrasi bisa diperebutkan oleh ratusan orang dengan latar belakang pendidikan yang hampir identik.Masalahnya bukan hanya soal jumlah. Ada gap yang cukup serius antara apa yang diajarkan di kampus dan apa yang sebenarnya dibutuhkan industri. Perusahaan menginginkan orang yang bisa langsung kerja — paham tools digital, punya pengalaman nyata, bisa berpikir kritis, dan mampu beradaptasi cepat. Sementara banyak kurikulum perguruan tinggi masih bergerak lambat, memperbarui silabus bukan setiap semester tapi kadang setiap dekade.World Economic Forum dalam laporannya Future of Jobs 2023 memprediksi bahwa sekitar 44% keterampilan inti pekerja akan berubah dalam lima tahun ke depan. Teknologi AI dan otomasi bukan hanya mengubah cara kerja — mereka menghapus beberapa jenis pekerjaan dan menciptakan yang baru dengan cepat. Sarjana akuntansi yang lulus hari ini harus siap menghadapi kenyataan bahwa banyak tugas yang dulu mereka pelajari sudah bisa dikerjakan oleh perangkat lunak.Masalah struktural yang tidak sederhanaAkan terlalu mudah kalau kita menyalahkan satu pihak. Bukan salah mahasiswanya yang "kurang usaha." Bukan juga sepenuhnya salah kampus. Dan bukan murni salah perusahaan yang "terlalu selektif."Ini adalah masalah sistemik. Ekonomi yang tumbuh tidak selalu diikuti dengan pertumbuhan lapangan kerja yang proporsional — terutama untuk lulusan baru. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5% per tahun belum cukup untuk menyerap jutaan lulusan baru setiap tahunnya. Ditambah lagi, sebagian besar pertumbuhan ekonomi kita masih bertumpu pada sektor yang padat modal, bukan padat karya.Ada juga masalah geografis. Peluang kerja terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Sementara sebagian besar lulusan berasal dari daerah dengan akses jaringan yang lebih terbatas. Networking — yang seringkali menjadi faktor penentu dapat atau tidaknya seseorang menembus lingkaran profesional — tidak diajarkan di kelas.Beban yang dibawa dalam diamYang sering luput dari perbincangan adalah dampak psikologisnya. Mengirim lamaran ke-50 dan masih belum dapat balasan itu melelahkan bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Ada rasa tidak berharga yang pelan-pelan tumbuh. Ada pertanyaan yang terus berputar: Apa yang salah dengan aku?Tekanan sosial memperparah semuanya. Di usia yang dianggap "seharusnya sudah produktif," tekanan dari keluarga dan lingkungan bisa terasa seperti tembok yang semakin dekat. Teman sebaya yang sudah kerja — atau yang terlihat sudah kerja di media sosial — menjadi perbandingan yang tidak adil. Padahal banyak dari mereka pun masih berjuang di balik layar.Kondisi ini bukan sekadar keluhan generasi muda yang tidak mau berjuang keras. Ini adalah respons wajar terhadap sistem yang belum siap menampung mereka.Apa yang bisa dilakukan?Tidak ada solusi tunggal untuk masalah yang sekompleks ini, tapi ada beberapa langkah yang bisa diambil dari berbagai arah.Pemerintah perlu memperkuat ekosistem pelatihan vokasional yang benar-benar terhubung dengan kebutuhan industri — bukan sekadar program seremonial. Insentif bagi perusahaan yang mau membuka entry-level position dan program magang berbayar juga perlu diperluas.Kampus harus lebih lincah. Kolaborasi dengan industri bukan hanya soal kunjungan pabrik atau kuliah tamu satu semester sekali. Kurikulum perlu diperbarui secara berkala, dan mahasiswa perlu didorong punya pengalaman kerja nyata sebelum lulus — bukan sekadar kerja praktik formalitas.Perusahaan pun perlu meninjau kembali standar rekrutmen mereka. Mensyaratkan pengalaman dua tahun untuk posisi fresh graduate adalah kontradiksi yang nyata. Memberi ruang bagi kandidat tanpa pengalaman namun punya potensi adalah investasi jangka panjang yang sering diremehkan.Dan untuk para mahasiswa dan lulusan baru: mulai membangun keterampilan di luar kelas sejak dini. Portofolio, proyek nyata, kontribusi di komunitas — hal-hal itu kini berbicara lebih keras dari transkrip nilai. Tapi ini bukan berarti beban sepenuhnya ada di pundak kalian. Ini hanya cara untuk tetap bergerak di dalam sistem yang memang belum sempurna.Pendidikan tetap penting — tapi bukan satu-satunya jalanDi tengah semua ini, penting untuk tidak membuang nilai pendidikan begitu saja. Kuliah bukan hanya soal dapat kerja — ada pembentukan cara berpikir, kemampuan analisis, dan jaringan sosial yang terbentuk di sana. Tapi kita juga perlu jujur: sistem pendidikan tinggi kita belum sepenuhnya siap menjawab tantangan dunia kerja yang bergerak begitu cepat.Generasi yang kini berjuang mencari kerja bukan generasi yang malas. Mereka adalah generasi yang tumbuh dengan harapan besar dari keluarga, masuk kuliah dengan tekad, dan keluar dengan ijazah di tangan — hanya untuk menemukan bahwa pintu yang dijanjikan ternyata jauh lebih sempit dari yang dibayangkan.Mereka bukan kehabisan semangat. Mereka hanya kehabisan kesempatan. Dan itu adalah masalah kita bersama untuk diselesaikan — bukan hanya masalah mereka untuk ditanggung sendiri.