‘Umah pitu ruang’: Arsitektur tahan bencana berbasis kearifan lokal Gayo

Wait 5 sec.

● Pembangunan desa di Dataran Tinggi Gayo yang tidak teratur dan mengabaikan kondisi lahan membuatnya rentan bencana alam.● ‘Umah pitu ruang’ adalah teknologi lokal yang terbukti kokoh hadapi bencana.● Penataan kampung Gayo di masa depan perlu memadukan pelestarian budaya, zonasi wilayah aman, dan mitigasi bencana.Dataran Tinggi Gayo di Aceh tergolong rentan risiko geologis karena terletak di zona patahan aktif dan hidrometeorologi karena alih fungsi lahan. Alhasil, tidak semua areanya layak untuk dihuni. Karena itu, perkampungan tradisional berkembang di tempat yang dianggap aman seperti area yang tinggi dan dekat dengan akses sumber air.Struktur ruang kampung memiliki sistem ekologi yang harmonis dan juga nilai kosmologis tinggi. Setiap tempat memiliki makna yang secara tidak langsung menjaga keberlanjutan kehidupan perdesaan. Setiap perkampungan, misalnya, memiliki beberapa umah pitu ruang—sekitar 3-5 bangunan dalam suatu kelompok kecil—dan terdapat rumah pemimpin desa.Umah pitu ruang, sebagai rumah pemimpin, merupakan rumah adat yang memiliki struktur unik dengan tujuh ruangan dan berfungsi tidak hanya untuk hunian tapi juga untuk fungsi administrasi desa.Namun, sejak masa kolonial Belanda, umah pitu ruang mulai hilang. Masyarakat mulai membangun hunian yang lebih sederhana, berkembang dari rumah-rumah kebun yang didirikan di lahan-lahan yang ada. Apalagi, kebijakan pemerintah menetapkan kawasan dataran tinggi Gayo sebagai kawasan pertanian, perkebunan dan perhutanan. Akhirnya tidak banyak lahan yang tersisa untuk permukiman. Perkampungan kemudian bertumbuh di pinggir jalan secara tidak beraturan, kurang terencana dengan baik, dan umumnya tidak memiliki fasilitas publik yang memadai.Pembangunan desa tanpa perencanaan tersebut sering mengabaikan karakter lahan. Rumah tumbuh tanpa memperhatikan konteks tempat, sehingga mengabaikan tantangan geografis pergunungan Gayo. Selain itu, perubahan fungsi lahan membuat kawasan tersebut rentan bencana alam.Tak heran, saat banjir Senyar melanda Sumatra pada November 2025, banyak perkampungan yang rusak, sementara banyak desa-desa yang tidak memiliki tempat evakuasi yang memadai.Selain itu, perkampungan baru tidak lagi memiliki umah pitu ruang yang mencerminkan tradisi budaya hunian Gayo. Perkampungan saat ini berupa rumah-rumah biasa dengan fasilitas publik yang terpisah. Padahal, arsitektur umah pitu ruang yang lahir dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan adat, telah terbukti lebih ramah lingkungan dan tahan bencana, termasuk saat banjir Senyar kemarin.Fakta ini membuka peluang untuk menggalakkan kembali revitalisasi umah pitu ruang dengan memaknai ulang fungsinya sebagai ruang publik desa.‘Umah Pitu Ruang’: Bukan bangunan tua tapi teknologi lokalSecara filosofi arsitektur tradisional/vernakular, wujud awal umah pitu ruang merupakan bangunan besar yang terdiri dari beberapa kamar yang biasa dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Sebagai tempat tinggal, di dalam umah pitu ruang berlangsung beragam aktivitas hunian, termasuk pendidikan dan pembinaan generasi muda.Konsep huniannya antara lain: kepala keluarga yang sudah senior, biasanya melakukan aktivitas pendidikan ke anak cucu ketika malam hari melalui kesenian didong. Seni pertunjukan tradisional ini memadukan sastra, vokal, dan gerak serta berfungsi sebagai media komunikasi, kritik sosial, serta pendidikan karakter.Dengan desain arsitektur yang luas, umah pitu ruang dapat diadopsi menjadi ruang publik multifungsi. Ini terbukti saat bencana longsor dan banjir senyar pada November 2025, umah pitu ruang di desa Genuren, Kecamatan Bintang, menjadi tempat evakuasi masyarakat khususnya kaum perempuan, lansia dan anak-anak.Di beberapa desa pedalaman Gayo, warga kesulitan mendapatkan tempat evakuasi, kecuali di masjid yang sudah dirancang tinggi. Namun, masjid tidak didesain sebagai tempat tinggal sementara.Karena itu, tradisi rumah adat seperti umah pitu ruang yang berfungsi sebagai ruang komunal untuk menampung peristiwa ekstrem, perlu dimunculkan kembali sebagai bagian dari strategi adaptasi bencana di masa depan.Menuju ‘smart village’ berbudaya lokalPemulihan kawasan Gayo dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali umah pitu ruang sebagai salah satu dasar penataan kampung pascabencana. Bangunan ini dapat menjadi simbol kebersamaan sekaligus pusat aktivitas warga kampung. Dalam konsep perencanaan desa berbasis smart village yang kami buat, umah pitu ruang terletak di zona pusat desa. Zona ini turut memuat bangunan ataupun kawasan publik lainnya seperti masjid, ruang terbuka, meunasah/balai adat, hingga koperasi desa. Pengembangan zona pusat desa merupakan hal yang penting, karena terkait keberlanjutan desa secara umum. Zona ini menghubungkan kebutuhan masyarakat dan program pemerintah.Selain itu, zona pusat desa juga dapat menjadi tempat evakuasi jika terjadi bencana alam.Selanjutnya adalah zona permukiman. Di zona ini, warga kampung mengembangkan hunian yang adaptif terhadap berbagai aktivitas sosial budaya dan ekonomi. Hunian di dalamnya dirancang sebagai hunian tipe kecil-sedang, dengan pekarangan berisikan tanaman pangan harian.Dalam zona permukiman, jarak beberapa rumah rumah juga bisa ditiadakan. Harapannya, pembatas dinding antarrumah dapat dilepas agar ruangnya bisa digunakan untuk kegiatan besar.Sementara itu, zona pertanian dan konservasi fokus pada kebutuhan nasional sekaligus lokal seperti pertanian organik, kopi Gayo, agroforestri, tanaman pangan lokal, dan kebun komunitas. Lewat desain umah pitu ruang dan penataan kampung yang memerhatikan kelestarian dan kondisi lingkungan, program ini dapat menggeliatkan ekonomi desa melalui pertanian budi daya dan pertukangan tradisional. Selain itu, secara fisik, material konstruksinya yang berbasis potensi sumber daya lokal akan menghidupkan kembali keberadaan hutan adat di sekitar kampung.Kombinasi inilah yang membuat gagasan ini menarik: sebuah perpaduan antara penyelamatan warisan budaya (heritage) dan mitigasi bencana. Intinya adalah melihat kembali sistem masa lalu dan menyesuaikan dengan apa yang kita butuhkan hari ini.Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama CommsLab dan The Conversation Indonesia. Saya sebagai anggota Ikatan Arsitek Indonesia cabang Aceh. juga ikut dalam Jatingan Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (Valid 31 Desember 2027).Dana penelitian pernah diterima terkait penelitian di dataran Tinggi Gayo, seperti Program Matching Fund/ Kedaireka 2022, dari PTNBH USK 2023, Dari Bima DRPM Dikti 2024 (sebagai peneliti dari Universitas Syiah KualaLaina Hilma Sari dan Pratitou Arafat tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.