Ilustrasi konten disabilitas di media sosial. Foto: Generated by AIBelakangan ini, konten disabilitas di media sosial semakin sering muncul dan viral. Video yang menampilkan interaksi dengan penyandang disabilitas dalam situasi yang dianggap lucu kerap meraup jutaan penonton, dibagikan berkali-kali, dan dibanjiri komentar positif. Tidak sedikit warganet yang menganggapnya sebagai hiburan biasa. Bahkan ketika muncul kritik, kalimat yang sering terdengar adalah, "Orangnya saja ketawa, kok netizen yang repot?"Sekilas memang tidak ada yang tampak bermasalah. Tidak terlihat adanya paksaan, tidak ada kata-kata kasar, dan individu yang direkam pun tampak tersenyum atau tertawa. Namun, benarkah tawa selalu menjadi tanda bahwa sebuah situasi berlangsung secara setara?Pertanyaan ini menjadi penting di tengah perkembangan media sosial yang semakin menjadikan hampir segala hal sebagai konten. Sebab, tidak semua bentuk ketimpangan hadir dalam wujud yang kasar dan mudah dikenali. Ada kalanya ketimpangan bekerja secara halus hingga terlihat wajar dan tidak lagi dipertanyakan.Relasi Kuasa di Balik Konten DisabilitasSosiolog Pierre Bourdieu memperkenalkan konsep kekerasan simbolik (symbolic violence) untuk menjelaskan bentuk dominasi yang bekerja secara halus melalui bahasa, kebiasaan, simbol, maupun cara pandang yang diterima sebagai sesuatu yang normal. Berbeda dengan kekerasan fisik yang mudah terlihat, kekerasan simbolik sering kali tidak disadari oleh masyarakat, bahkan oleh pihak yang mengalaminya.Ilustrasi media sosial. Foto: Vasin Lee/ShutterstockDalam konteks konten disabilitas di media sosial, relasi antara pembuat konten dan individu yang direkam sebenarnya tidak selalu berada dalam posisi yang setara. Satu pihak memegang kendali atas kamera, menentukan sudut pengambilan gambar, menyunting video, menyusun narasi, hingga mengunggahnya kepada jutaan pengguna internet. Di sisi lain, pihak yang direkam sering kali hanya menjadi objek yang menarik perhatian publik.Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika sebuah video menghasilkan keuntungan berupa popularitas, peningkatan jumlah pengikut, kerja sama komersial, hingga pendapatan dari platform digital. Pada titik inilah muncul pertanyaan yang lebih mendasar: Siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat terbesar dari konten tersebut?Bourdieu menjelaskan bahwa dominasi yang paling efektif adalah dominasi yang tidak lagi dikenali sebagai dominasi. Ketika masyarakat menganggap suatu praktik sebagai sesuatu yang wajar—bahkan menghibur—relasi kuasa yang bekerja di baliknya menjadi semakin sulit terlihat.Konten Disabilitas: Empati atau Komoditas?Tentu saja, tidak semua konten yang melibatkan penyandang disabilitas dapat langsung dianggap sebagai bentuk eksploitasi. Banyak kreator yang justru menggunakan media sosial untuk menghadirkan edukasi, meningkatkan kesadaran publik, serta memperluas representasi kelompok disabilitas di ruang digital.Ilustrasi disabilitas. Foto: Art_Photo/ShutterstockNamun, persoalannya menjadi berbeda ketika kondisi disabilitas itu sendiri dijadikan daya tarik utama untuk memancing perhatian dan tawa penonton. Dalam situasi seperti ini, batas antara empati dan eksploitasi menjadi sangat tipis.Media sosial bekerja melalui logika perhatian. Semakin unik, menghibur, atau mengundang reaksi sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk memperoleh jangkauan yang luas. Akibatnya, pengalaman hidup kelompok rentan berisiko direduksi menjadi komoditas yang dipertontonkan demi mendapatkan jumlah penonton, komentar, dan interaksi yang lebih tinggi.Tidak jarang, tawa penonton dan persetujuan dari individu yang direkam kemudian dijadikan alasan bahwa tidak ada persoalan etis yang terjadi. Padahal, persoalannya bukan semata-mata soal ada atau tidaknya tawa, melainkan juga bagaimana seseorang diposisikan di dalam konten tersebut.Ketika seseorang lebih dikenal karena keterbatasannya daripada karena pengalaman, kemampuan, atau identitas dirinya sebagai manusia yang utuh, ada risiko bahwa martabatnya sedang dipersempit menjadi sekadar objek hiburan.Siapa yang Diuntungkan dari Konten Disabilitas?Ilustrasi membuat konten. Foto: syahrilnggilu/ShutterstockFenomena ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi kita sebagai pengguna media sosial. Sebelum menekan tombol suka, membagikan video, atau meninggalkan komentar, mungkin ada baiknya kita bertanya lebih jauh: Apa yang sebenarnya sedang kita nikmati dari konten tersebut?Apakah yang membuat kita tertawa adalah situasi yang terjadi? Atau justru kondisi individu yang ditampilkan?Pertanyaan ini penting karena tidak semua tawa lahir dari relasi yang setara. Dalam beberapa kasus, tawa dapat menjadi cara yang sangat halus untuk menyamarkan ketimpangan yang terjadi di balik layar. Ketika suatu kelompok terus-menerus ditempatkan sebagai objek hiburan, masyarakat perlahan dapat menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.Pada akhirnya, isu ini bukan tentang melarang orang untuk tertawa atau membatasi kreativitas di media sosial. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa ruang digital tidak menjadikan kelompok rentan sebagai sekadar alat untuk mencari perhatian dan popularitas. Sebab, ketika martabat manusia mulai dikalahkan oleh kebutuhan akan konten dan interaksi digital, yang hilang tidak hanya empati, tetapi juga kemampuan kita untuk melihat sesama sebagai manusia yang setara.