Ketika Anak Terlalu Banyak Bertanya

Wait 5 sec.

Ilustrasi anak. Foto: PeopleImages/ShutterstockSuatu hari, seorang murid menghampiri saya sesaat setelah pelajaran dimulai. Ia bertanya mengapa awan bisa mengambang di langit. Saya menjawab singkat, lalu melanjutkan pelajaran. Namun beberapa menit kemudian, ia kembali mengangkat tangan dan bertanya: Mengapa awan yang terlihat besar dan berat tidak jatuh ke bumi?Belum selesai saya menjawab, pertanyaan lain muncul tentang hujan, angin, dan berbagai hal yang menurutnya menarik. Sebagai guru, saya mengakui bahwa pada saat-saat tertentu, pertanyaan yang datang bertubi-tubi seperti itu bisa terasa melelahkan. Ketika target materi harus diselesaikan dan waktu belajar terbatas, anak yang terlalu banyak bertanya kadang dianggap mengganggu jalannya pembelajaran.Namun semakin lama saya mengajar, semakin saya menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan karena anak terlalu banyak bertanya. Bisa jadi kita lah yang terlalu terbiasa dengan jawaban.Dalam dunia pendidikan, kita sering lebih fokus pada kemampuan anak menjawab soal daripada kemampuannya mengajukan pertanyaan. Padahal, hampir semua penemuan besar dalam sejarah manusia berawal dari satu hal yang sederhana: seseorang yang cukup penasaran untuk bertanya mengapa.Ilustrasi anak. Foto: Irina WS/ShutterstockBerbagai penelitian tentang perkembangan anak menunjukkan bahwa rasa ingin tahu merupakan salah satu mesin utama pembelajaran. Anak-anak usia dini dapat mengajukan puluhan, bahkan ratusan pertanyaan dalam sehari untuk memahami dunia di sekitarnya.Mereka tidak sedang asal berbicara atau mencari perhatian semata. Ketika seorang anak bertanya "mengapa?", sesungguhnya ia sedang melakukan proses berpikir yang sangat kompleks. Ia mengamati sesuatu, menemukan kejanggalan, lalu berusaha mencari penjelasan yang masuk akal. Dengan kata lain, anak yang banyak bertanya sebenarnya sedang mempraktikkan dasar-dasar metode ilmiah jauh sebelum ia mengenal istilah tersebut.Penelitian juga menunjukkan bahwa rasa ingin tahu memiliki hubungan erat dengan keberhasilan akademik. Anak-anak yang memiliki tingkat penasaran yang tinggi cenderung lebih terlibat dalam pembelajaran, memiliki kemampuan membaca yang lebih baik, dan menunjukkan ketekunan yang lebih tinggi ketika menghadapi kesulitan.Pertanyaan yang mereka ajukan bukan penghambat belajar, melainkan tanda bahwa proses belajar sedang berlangsung. Sayangnya, dalam praktik pendidikan sehari-hari, pertanyaan sering kali dianggap sebagai gangguan terhadap alur pembelajaran yang telah direncanakan.Ilustrasi pendidikan. Foto: Dok. KemendikdasmenDi balik itu semua, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian orang dewasa. Tidak semua pertanyaan lahir karena anak membutuhkan informasi. Sebagian pertanyaan lahir karena anak membutuhkan hubungan. Banyak orang tua maupun guru pernah mengalami situasi ketika seorang anak terus bertanya meskipun sebenarnya ia sudah mengetahui jawabannya.Setelah satu pertanyaan dijawab, muncul pertanyaan lain yang tidak kalah sederhana. Dalam banyak kasus, yang sedang dicari anak bukan sekadar pengetahuan, melainkan juga kehadiran. Pertanyaan menjadi cara mereka membangun percakapan dan memastikan bahwa ada orang dewasa yang bersedia mendengarkan.Pandangan ini mengingatkan saya pada bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan anak-anak. Dalam berbagai riwayat, Rasulullah dikenal sebagai sosok yang dekat dengan dunia anak. Beliau tidak menjaga jarak, tidak memandang mereka sebagai pengganggu, dan tidak memperlakukan mereka sebagai manusia yang harus selalu diam mendengarkan. Rasulullah menyapa mereka, bercanda bersama mereka, mendoakan mereka, bahkan menyesuaikan diri dengan dunia mereka.Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dalam Kanzul Ummal, Rasulullah bersabda, "Siapa yang mempunyai anak kecil hendaknya berperilaku seperti mereka." Pesan ini menunjukkan bahwa memahami anak tidak cukup dilakukan dari sudut pandang orang dewasa. Kita perlu bersedia memasuki dunia mereka, melihat dengan cara mereka melihat, dan mendengar dengan kesabaran yang mereka butuhkan.Ilustrasi siswa bertanya. Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO Karena itu, ketika seorang anak terus bertanya, mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukanlah "Kapan ia akan berhenti bertanya?" Pertanyaan yang lebih penting adalah "Apakah kita masih memiliki kesabaran untuk mendengarkannya?" Tentu tidak semua pertanyaan harus dijawab panjang lebar. Tidak semua rasa ingin tahu harus dipenuhi saat itu juga.Namun cara kita merespons pertanyaan anak akan menentukan apakah rasa ingin tahunya tumbuh atau perlahan padam. Anak yang berulang kali diabaikan mungkin akan berhenti bertanya. Masalahnya, ketika pertanyaan berhenti, sering kali rasa ingin tahu ikut berhenti tumbuh.Pada akhirnya, anak yang banyak bertanya mungkin memang menguji kesabaran kita. Namun sejarah kemajuan manusia dibangun oleh orang-orang yang tidak pernah berhenti mempertanyakan dunia di sekelilingnya. Para ilmuwan, penemu, pemikir, dan pembaru lahir dari keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang dianggap sederhana oleh orang lain.Karena itu, tugas kita sebagai orang tua dan pendidik bukan membuat anak berhenti bertanya. Tugas kita adalah menjaga agar mereka tidak kehilangan keberanian untuk melakukannya. Sebab bisa jadi, di balik pertanyaan-pertanyaan yang tampak remeh hari ini, sedang tumbuh kemampuan berpikir yang akan mereka bawa sepanjang hidupnya.