● Penggunaan CT scan diduga bisa memicu kanker di kemudian hari.● Hingga kini belum ada bukti langsung bahwa CT scan memicu kanker pada manusia.● Bila dilakukan dengan tepat, manfaat CT scan hampir selalu lebih besar dibandingkan risikonya.Ketika seorang pasien datang ke instalasi gawat darurat dengan gejala stroke, cedera kepala akibat kecelakaan, atau nyeri perut hebat yang penyebabnya belum diketahui, dokter sering kali meminta mereka untuk menjalani pemeriksaan computed tomography scan alias CT scan. Ini adalah teknologi pemindaian menggunakan gabungan sinar-X dan sistem komputer khusus untuk menghasilkan gambar tiga dimensi bagian dalam organ tubuh pasien. Hasil pemeriksaan CT scan bisa muncul dalam hitungan menit.Sebagai radiolog, hampir setiap hari saya melihat teknologi tersebut membantu dokter mendeteksi lebih dini dan mendiagnosis penyakit dalam yang sulit diketahui. Hasil pemindaiannya juga menjadi dasar keputusan dokter dalam memilih terapi pengobatan yang sangat menentukan keselamatan pasien.Namun, kegunaan CT scan belakangan kembali dipertanyakan karena adanya temuan soal risiko teknologi ini dalam memicu kanker di masa mendatang. Isu ini sebenarnya sudah lama menjadi bahan diskusi ilmiah para ilmuwan, meski belum ada bukti langsung bahwa CT scan memicu kanker pada manusia hingga saat ini.Perbedaan pandangan antarilmuwanSebuah studi terbaru dalam JAMA Internal Medicine memperkirakan dampak penggunaan CT scan di Amerika Serikat selama 2023 bisa memicu lebih dari 100 ribu kasus kanker di masa depan. Risiko kian besar apabila teknologi pemindaian ini digunakan dalam jangka panjang. Perkiraan tersebut tiga kali lipat lebih besar daripada analisis tahun 2009 soal dampak CT scan yang diprediksi memicu 29 ribu kasus kanker di masa depan. Pertanyaannya, apakah setiap orang yang menjalani CT scan berisiko terkena kanker? Jawabannya belum tentu.CT scan menggunakan radiasi pengion (ionizing radiation) yang berenergi sangat tinggi. Dosis radiasi CT scan mencapai 5-7 milisievert (mSv), lebih besar jika dibandingkan dengan rontgen sinar-X yang berkisar antara 0,1-0,2 mSv. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa paparan radiasi pengion dosis tinggi dapat merusak DNA sel dan meningkatkan risiko kanker di kemudian hari. Namun, para ilmuwan memiliki perbedaan pandangan mengenai hal ini. Baca juga: Mengapa deteksi dini kanker lebih baik daripada mengobati saat sudah parah? Sebagian pakar berpendapat bahwa sekecil apa pun tambahan paparan radiasi berpotensi meningkatkan risiko kanker. Akan tetapi, sejumlah ilmuwan lain menilai bahwa radiasi dosis rendah seperti yang digunakan dalam CT scan berisiko terlalu kecil untuk memicu kanker pada manusia. Risiko terkena kanker setelah satu kali pemindaian diperkirakan jauh lebih rendah, meskipun tidak pula dianggap nol.Dibandingkan orang dewasa, anak-anak merupakan kelompok yang lebih sensitif terhadap radiasi karena organ dan jaringan mereka masih berkembang. Selain itu, harapan hidup mereka yang lebih panjang memberikan waktu lebih lama bagi kemungkinan munculnya efek samping di kemudian hari. Namun, karena lebih dari 90% pemindaian CT scan dilakukan pada orang dewasa, kelompok ini tetap menghadapi risiko terbesar. Belum ada bukti langsungHubungan antara CT scan dan kanker tidak sesederhana yang sering digambarkan. Dalam penelitian terkait, sebagian besar perkiraan risiko berasal dari model statistik yang menghitung kemungkinan terjadinya kanker berdasarkan dosis radiasi dan data epidemiologi populasi.Riset tersebut tidak mengungkap pengamatan langsung yang menunjukkan kepastian seseorang mengalami kanker usai menjalani CT scan. Bagian penting ini sering luput dari perhatian publik.American College of Radiology (ACR) menyatakan hingga saat ini belum ada bukti langsung yang menunjukkan bahwa CT scan menyebabkan kanker pada manusia, bahkan setelah mereka menjalani beberapa kali pemindaian. Manfaatnya sering kali jauh lebih besarDalam dunia kedokteran, setiap keputusan klinis selalu mempertimbangkan manfaat dan risiko secara bersamaan. Untuk mengurangi risiko efek samping radiasi, dokter dan radiolog menerapkan prinsip ALARA (as low as reasonably achievable), yaitu menggunakan dosis radiasi serendah mungkin sambil tetap menghasilkan kualitas gambar yang memadai untuk diagnosis. Konsep ini kemudian berkembang menjadi ALADAIP (as low as diagnosticallay acceptable being indication-oriented and patient-specific), yang menekankan bahwa setiap pemeriksaan harus sesuai dengan kebutuhan klinis dan kondisi masing-masing pasien.Dalam hal ini, tidak semua pasien memerlukan CT scan. Pada kondisi tertentu, dokter memilih teknologi pemindaian nonradiasi pengion. Misalnya, ultrasonografi (USG) yang memakai gelombang suara berfrekuensi tinggi, ataupun magnetic resonance imaging (MRI) yang memakai medan magnet kuat dan gelombang radio.Perkembangan teknologi juga membantu dokter menurunkan paparan radiasi pada pasien. Generasi terbaru CT scan, photon-counting CT, mampu menghasilkan gambar yang lebih detail dan tajam dengan dosis radiasi yang lebih rendah dibandingkan teknologi CT scan sebelumnya. Baca juga: Evaluasi pencegahan kanker di Indonesia: banyak peraturan dan aksi tapi tidak terbuka soal capaian program Kekhawatiran terhadap radiasi adalah hal yang wajar. Meski memiliki risiko, kita tidak perlu takut dengan penggunaan CT scan. Hal yang perlu diingat adalah teknologi pemindaian ini membantu dokter menemukan penyakit secara cepat dan akurat. Bila dilakukan dengan tepat, manfaatnya hampir selalu lebih besar dibandingkan kemungkinan risikonya.Bagi dokter dan radiolog, hal yang perlu dicermati adalah mengurangi pemindaian yang tidak perlu pada pasien, penggunaan alternatif teknologi yang lebih aman jika memungkinkan, dan pemakaian dosis radiasi serendah mungkin.Herlina Uinarni tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.