Ilustrasi logam tanah jarang atau rare earth element. Foto: Phawat/ShutterstockKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memprediksi permintaan mineral kritis, termasuk logam tanah jarang (rare earth element), meningkat drastis pada tahun 2040 di saat menurunnya kebutuhan batu bara.Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batu bara (Ditjen Minerba), Cecep Mochammad Yasin, mengatakan transisi energi semakin mendesak di saat tekanan perubahan iklim hingga konflik geopolitik di berbagai kawasan.Hal ini dinilai akan mengubah struktur kebutuhan energi dunia, dari energi fosil yang utamanya disokong oleh batu bara, menjadi energi baru terbarukan yang membutuhkan peran mineral kritis."Permintaan terhadap mineral kritis seperti litium, kobalt, grafit, tembaga, dan rare earth elements diproyeksikan terus meningkat hingga tahun 2040 untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik, baterai, energi terbarukan, dan jaringan listrik modern," jelasnya saat Diskusi INDEF, Rabu (17/6).Cecep mengatakan, mineral kritis akan menjadi salah satu penentu utama daya saing ekonomi global di masa depan, di saat permintaan batu bara yang menurun."Di sisi lain, batu bara secara global masih memainkan peran penting dan volumenya masih sangat besar, namun secara struktural telah memasuki fase yang relatif mendatar dan mulai mengalami penurunan secara bertahap seiring berkembangnya energi baru dan terbarukan," ungkapnya.Ilustrasi logam tanah jarang atau rare earth element. Foto: Phawat/ShutterstockMenurutnya, Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk menghadapi perubahan tersebut. Sebab, Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, cadangan timah terbesar kedua di dunia, cadangan bauksit terbesar keempat dunia, serta tembaga, emas, perak, dan besi yang cukup signifikan.Di sisi lain, lanjut dia, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan sumber daya dan cadangan batu bara terbesar di dunia yang masih berperan penting dalam menjaga ketahanan energi nasional."Mungkin saat ini kita sedang menghadapi kebutuhan batu bara sebagai substitusi daripada adanya disrupsi pasokan gas untuk kebutuhan listrik di Jawa. Namun demikian, kepemilikan sumber daya itu tidak cukup," tutur Cecep.Cecep menuturkan, hampir semua teknologi energi bersih saat ini membutuhkan mineral kritis, mulai dari panel surya, turbin angin, jaringan listrik, penyimpanan energi, kendaraan listrik, hingga pengembangan hidrogen.Dia memaparkan, tembaga menjadi tulang punggung elektrifikasi, nikel, kobalt, dan litium menjadi komponen penting dalam industri baterai, kemudian rare earth elements berperan penting dalam teknologi magnet permanen untuk berbagai aplikasi energi bersih."Implikasi strategis bagi Indonesia adalah bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah menjadi nilai tambah ekonomi, lapangan kerja, penguasaan teknologi, dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global," katanya.Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Imaduddin Abdullah, menjelaskan hingga tahun 2020, porsi pendapatan batu bara masih lebih tinggi dibandingkan mineral transisi energi."Tapi di tahun 2040 akan terjadi pergeseran di mana pendapatan dari mineral transisi energi ini diperkirakan naik hingga 532 persen. Sebaliknya, justru pendapatan untuk batu bara itu justru mengalami penurunan di diproyeksikan hingga 2040 sekitar 59 persen," ungkapnya.Ilustrasi logam tanah jarang atau rare earth element. Foto: Phawat/ShutterstockDengan demikian, Imaduddin menilai mineral transisi energi sebagai bahan baku energi hijau akan menjadi tulang punggung perekonomian ke depannya. Permintaan ini utamanya berasal dari pengembangan kendaraan listrik (EV), Battery Energy Storage System (BESS), maupun sistem ketenagalistrikan.Dia menyebutkan, salah satu potensi permintaan yang sangat besar terhadap mineral kritis di dalam negeri yakni dari program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 gigawatt (GW)."Kita lihat menjadi salah satu potensinya terutama dalam konteks program pemerintah yang berkaitan dengan (PLTS) 100 GW misalnya, karena agenda 100 GW ini misalnya bisa meningkatkan kebutuhan panel surya, baterai, kabel, aluminium, kaca tembaga dan komponen listrik," jelas Imaduddin.Meskipun Indonesia sudah memiliki basis cadangan mineral kritis yang besar, namun Imaduddin menilai masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi di sektor hulu. Pasalnya, industri komponen pendukung belum semua terbangun."Misalnya katakanlah solar wafer ini yang nilai tambahnya bisa lebih sampai 68 kali lipat. Tapi sayangnya sampai saat ini masih belum tersedia dan kita masih bergantung pada impor," kata Imaduddin.