Disabilitas Menjadi Lelucon: Apa yang Salah dengan Pendidikan Empati Kita?

Wait 5 sec.

Dok: IstockDalam beberapa waktu terakhir, media sosial diramaikan dengan konten parodi oleh beberapa kreator konten yang menirukan kondisi penyandang disabilitas. Banyak orang yang beranggapan bahwa parodi disabilitas hanyalah sebagai hiburan tetapi sebagian dari pengguna media sosial juga mengkritik karena dinilai nirempati dan merendahkan kelompok penyandang disabilitas. Fenomena ini memicu pertanyaan yang mendasar terhadap masyarakat yang menganggap disabilitas sebagai bahan candaan.Kontroversi muncul ketika ramainya konten kreator yang membuat video meniru cara bicara, cara berjalan maupun kondisi fisik yang identik dengan penyandang disabilitas. Konten tersebut memicu respons masyarakat yang dapat dilihat pada banyaknya tayangan dan ribuan komentar. Munculnya perdebatan antara “sekadar bercanda” dan “diskriminasi”, sebagian besar konten tersebut dianggap sebagai hiburan yang lucu tetapi juga mendapatkan kritik dari masyarakat seperti komunitas disabilitas, kerabat yang anaknya menyandang disabilitas, serta masyarakat yang secara sadar menganggap hal tersebut salah.Ableisme yang Tidak Terlihat dibalik LeluconDalam perspektif sosiologi, permasalahan utama terletak pada pesan sosial yang diciptakan. Fenomena ini dapat dilihat dalam perspektif Howard Becker yaitu pelabelan sosial pada individu bukan hasil dari tindakan yang dilakukan, melainkan proses sosial yang melibatkan penilaian, interaksi dan kekuasaan dalam masyarakat. Pelabelan ini akan membentuk identitas sosial individu dengan mengubah cara pandang individu terhadap dirinya sendiri, sehingga memengaruhi perilaku mereka ke depannya. Ketika disabilitas dijadikan objek lelucon, masyarakat akan menormalisasikan hal tersebut dengan menganggap kondisi penyandang disabilitas sebagai sesuatu yang pantas ditertawakan.Adanya fenomena ini menunjukkan bahwa ableisme masih hidup dalam masyarakat. Ablesime merupakan pandangan yang merendahkan dan membedakan kelompok dengan kemampuan berbeda atau disabilitas melalui kemampuan tubuh yang disetarakan dengan orang yang memiliki kemampuan lebih unggul. Hal tersebut memicu diskriminasi yang ditunjukkan lewat perkataan maupun tindakan, diskriminasi yang dialami oleh kelompok disabilitas muncul dalam berbagai bentuk seperti sosial, hukum, ekonomi, agama serta pemenuhan hak dasar pada penyediaan fasilitas umum bagi kelompok disabilitas. Dalam hal ini, kelompok disabilitas tidak selalu mengalami diskriminasi dalam bentuk penolakan langsung, tetapi juga melalui representasi yang merendahkan dalam budaya populer dan media sosial.Membangun Budaya Inklusif Bukan Sekadar Sekolah InklusifFenomena ini juga menyoroti bahwa pendidikan inklusif tidak sekadar menyediakan fasilitas fisik atau penerimaan siswa disabilitas tetapi terdapat masalah mendasar yang masih menjadi tantangan besar saat ini yaitu kurangnya budaya inklusi dalam kesadaran kolektif masyarakat. Sejauh ini, pendidikan inklusif hanya dianggap sebagai penyediaan kesempatan pendidikan bagi siswa penyandang disabilitas. Padahal, tujuan sebenarnya terletak pada keberhasilan menciptakan lingkungan sosial yang menghargai keragaman dan perbedaan.Dalam perspektif pedagogi kritis, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membentuk pemahaman siswa tentang realitas sosial, seringkali sekolah mengutamakan prestasi akademik dengan mengorbankan empati sosial. Akibatnya, siswa boleh jadi memahami konsep disabilitas secara teoritis tetapi kurang peka terhadap pengalaman hidup kelompok disabilitas. Dalam pembelajaran di sekolah, penting untuk mengangkat isu kesetaraan, hak-hak penyandang disabilitas, dan pengalaman kelompok yang rentan secara sosial.Apa yang Salah dengan Pendidikan Empati Kita?Fenomena ini dapat dijelaskan oleh pemikiran Paulo Freire yang menekankan bahwa pendidikan harus menumbuhkan keterampilan berpikir kritis agar setiap manusia memahami dan mengubah realitas sosial mereka, maka pendidikan tidak boleh menjadi alat dominasi melainkan menjadi sarana pembebasan bagi mereka yang tertindas. Dalam konteks parodi disabilitas ini, berpikir kritis sangat penting agar masyarakat dapat memahami bahwa sesuatu yang tampak lucu bagi beberapa orang dapat menjadi bentuk penghinaan bagi orang lain. Kelompok disabilitas yang menonton perilaku ableisme tersebut mengancam kesehatan mental yang dapat memicu rasa malu, kecemasan maupun depresi.Tantangan terbesar pada masyarakat modern saat ini adalah menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah arus informasi yang cepat. Keberhasilan pendidikan dapat diukur dari kemampuan untuk menghormati keragaman dan memperlakukan semua kelompok dengan nilai yang sama. Masyarakat yang benar-benar inklusif adalah masyarakat yang memastikan bahwa tidak ada kelompok yang direndahkan karena memiliki kemampuan berbeda.Pada hakikatnya, tanggung jawab atas permasalahan yang melekat pada parodi tentang penyandang disabilitas bukan hanya pada para konten kreator yang membuat konten parodi tersebut. Fenomena ini menggambarkan masyarakat yang terus membiarkan bentuk-bentuk diskriminasi halus yang dianggap lucu. Perubahan tidak dapat bergantung pada satu individu saja tetapi sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, media perlu memastikan citra yang adil dan platform digital harus mencegah penyebaran konten yang merendahkan. Pada saat yang sama, masyarakat bertanggung jawab untuk menciptakan budaya yang menghormati keragaman.