BorneoFlash.com, BALIKPAPAN – Persoalan bahan bakar minyak (BBM), khususnya ketersediaan Pertalite dan wacana kenaikan harga energi, memicu gelombang aksi mahasiswa di sejumlah daerah. Di Kalimantan Timur, Aliansi Balikpapan Bergerak menggelar demonstrasi di depan Kantor DPRD Balikpapan dengan membawa berbagai tuntutan kepada pemerintah pusat maupun daerah.Dalam aksi yang berlangsung Senin (15/6/2026) tersebut, isu BBM menjadi sorotan utama. Massa menilai kelangkaan Pertalite masih sering terjadi di Balikpapan dan berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat, terutama pengemudi ojek online dan kelompok ekonomi kecil.Koordinator Lapangan Aliansi Balikpapan Bergerak, Wisnu Nugroha, mengatakan pemerintah pusat perlu mengevaluasi kebijakan fiskal agar subsidi energi memperoleh porsi perhatian yang lebih besar di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global.“Kami meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi ruang fiskal APBN. Jangan hanya fokus pada program-program tertentu, tetapi juga memperhatikan subsidi energi yang saat ini sangat dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.Menurut Wisnu, kenaikan harga BBM akan menimbulkan efek domino terhadap berbagai sektor, mulai dari meningkatnya harga bahan pokok hingga biaya transportasi. Karena itu, pemerintah diminta memastikan ketersediaan dan distribusi BBM bersubsidi berjalan optimal.Aliansi Balikpapan Bergerak juga mendesak Pemerintah Kota Balikpapan untuk mengevaluasi distribusi Pertalite dan jam operasional penyaluran BBM bersubsidi di SPBU. Berdasarkan hasil pemantauan mereka di lapangan, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh Pertalite.Selain itu, massa meminta aparat kepolisian memperketat pengawasan terhadap dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi yang masih ditemukan di sejumlah SPBU.Tidak hanya isu energi, mahasiswa turut menyoroti berbagai persoalan daerah seperti meningkatnya kriminalitas, maraknya kendaraan parkir di bahu jalan, minimnya penerangan jalan umum (PJU), hingga pelayanan publik di sektor kesehatan.Di sela aksi, mahasiswa membawa spanduk dan poster berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah. Mereka juga melakukan dialog dengan pimpinan DPRD Balikpapan serta perwakilan Pemerintah Kota Balikpapan untuk menyampaikan berbagai tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut.Gelombang protes serupa juga terjadi di Jakarta. Ribuan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan menggelar demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR RI. Salah satu tuntutan yang disuarakan adalah penolakan terhadap kenaikan harga BBM dan desakan agar pemerintah menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.Mahasiswa menilai persoalan BBM bersubsidi telah berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok sehingga membebani masyarakat. Aspirasi tersebut kemudian diterima dalam audiensi oleh pimpinan DPR RI yang berjanji meneruskan tuntutan mahasiswa kepada pemerintah.Sementara itu di Samarinda, aksi demonstrasi yang digelar Gerakan Rakyat Menggugat (GERAM) di kawasan Jembatan Mahakam dan Kantor Gubernur Kalimantan Timur sempat berlangsung tegang. Massa aksi membawa lima tuntutan utama, termasuk evaluasi kondisi ekonomi, penolakan kenaikan harga BBM, evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penghentian operasional Koperasi Desa Merah Putih, serta penolakan keterlibatan militerisme di ruang sipil.Aksi di Samarinda sempat diwarnai saling dorong antara mahasiswa dan aparat keamanan ketika massa berupaya menutup akses jalan menuju Jembatan Mahakam dan meminta bertemu langsung dengan pejabat pemerintah.Rangkaian aksi yang terjadi di Balikpapan, Samarinda, hingga Jakarta menunjukkan persoalan energi dan daya beli masyarakat kini menjadi perhatian utama kalangan mahasiswa. Mereka berharap pemerintah segera menghadirkan solusi konkret terhadap distribusi BBM bersubsidi serta menjaga stabilitas harga agar tidak semakin membebani masyarakat. (*)