Subari menjual es tebu dan kerupuk di pinggir jalan. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanSubari (62) duduk termenung di bawah sengatan matahari Kudus siang ini. Ia sabar menanti pembeli di pinggir jalan, sesekali menyentuh batang-batang tebu yang siap digiling jadi minuman menyegarkan. Di belakangnya, berjajar beragam kerupuk. Niatnya, es tebu dan kerupuk jadi pasangan yang pas sejenak beristirahat di bawah panasnya Kudus.Subari merupakan warga Desa Jurang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Ia biasa berjualan di tepi jalan raya di Desa Jurang.Lalu, pelan-pelan ia bercerita kepada kumparan. Dulu, pada 2022, ia pernah mengalami peristiwa pahit. Ia pernah kena hipnotis, duit dagangannya sebesar Rp 500 ribu, raib. Saat itu, ia hanya berjualan kerupuk."Sore setelah ashar ada orang datang ke sini bilang mau beli kerupuk dan tukar uang. Saat itu saya langsung tidak sadar dan menyerahkan uang begitu saja," katanya, Rabu (13/5).Subari menjual es tebu dan kerupuk di pinggir jalan. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanSetelah orang tersebut pergi, dia mengecek uang di dompetnya. Ternyata ia kehilangan uang sejumlah Rp 500 ribu. Subari baru mengetahui kalau dirinya terhipnotis."Orangnya laki-laki dan posturnya gagah. Saya baru tahu kehilangan uang setelah dia pergi. Tetapi dagangan kerupuk saya masih utuh," terangnya.Nominal Rp 500 ribu begitu berarti untuknya. Subari membutuhkan uang tersebut untuk modal membeli kerupuk untuk dijual esok harinya. Kehilangan uang pada hari itu membuatnya tak bisa membeli stok kerupuk untuk berjualan di esok hari.Akhirnya, ia hanya ikhlas bahwa duitnya hilang diambil orang tak bertanggung jawab. Tapi, ia tak kapok berjualan di pinggir jalan, sebab roda kehidupan mesti berjalan.Kini, ia merambah berjualan es tebu guna menambah penghasilannya untuk dibawa pulang ke rumah. Es tebu buatannya murni menggunakan air tebu dan es batu. Segelas es tebu, ia beri harga Rp 3 ribu. Meski sudah punya 2 dagangan, hidupnya tak mendadak mulus. Ia berkata, cuaca bisa jadi kawan atau lawan. Kalau hujan, ia bisa pulang dengan tangan hampa. Kalau panas, harapannya sedikit merekah. "Kalau cuaca mendung pasti tidak ada pembeli. Apalagi kalau hujan dipastikan saya tidak bawa uang untuk kebutuhan di rumah," terangnya.Subari menjual es tebu dan kerupuk di pinggir jalan. Foto: Vega Ma'arrijil Ula/kumparanPenghasilan dirinya berdagang es tebu dan kerupuk hanya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Terkadang uang hasil berjualan juga diberikan ke cucunya untuk membeli jajan.Ia berusaha seorang diri untuk memenuhi kebutuhan rumah. Istrinya telah meninggal tiga tahun yang lalu."Sejujurnya uang hasil jualan hanya untuk bertahan hidup supaya tidak kelaparan. Selain itu untuk jajan cucu dan modal jualan," jelasnya.Es tebu dijualnya seharga Rp 3 ribu per porsi. Dalam sehari penghasilannya berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu. Namun, nominal itu bukanlah laba bersih. Ia tak menampik penghasilannya terbilang mepet untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Meski demikian, ia tetap berikhtiar. Setiap harinya ia selalu berjualan di pinggir jalan. Ia berdagang es tebu dan kerupuk mulai pukul 10.00 WIB sampai 15.00 WIB."Saya tetap ikhtiar untuk berjualan es tebu dan kerupuk. Semoga tetap ada pembeli," imbuhnya.