Ilustrasi emas. Foto: ShutterstockHarga emas global melanjutkan pelemahannya seiring kembali meningkatnya inflasi di Amerika Serikat (AS). Hal ini memperkuat spekulasi Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.Mengutip Bloomberg, emas batangan diperdagangkan di kisaran USD 4.695 per ons setelah turun 0,6 persen pada Rabu (13/5). Pelemahan terjadi setelah data menunjukkan inflasi harga produsen atau wholesale inflation AS pada April meningkat ke level tercepat sejak 2022.Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik mendekati level tertinggi sejak Juli. Kondisi tersebut umumnya berdampak negatif terhadap emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.Di sisi lain, Senat AS pada Rabu (13/5) secara tipis mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed. Namun, muncul kekhawatiran terkait apakah ia akan mempertahankan independensi bank sentral dalam menentukan kebijakan suku bunga tanpa tekanan politik.Isu independensi The Fed sebelumnya juga menjadi salah satu faktor utama yang mendorong harga emas mencetak rekor tertinggi pada Januari lalu.Pergerakan harga emas sendiri masih berada dalam rentang sempit setelah sempat jatuh tajam pada awal perang Iran. Investor saat ini berada di antara dua kekhawatiran, yakni risiko inflasi yang dapat membuat suku bunga tetap tinggi dan risiko perlambatan ekonomi yang berpotensi mendorong pelonggaran kebijakan apabila konflik berlangsung lebih lama.Pada perdagangan pukul 06.25 waktu Singapura, harga emas spot tercatat relatif stabil di level USD 4.696,77 per ons. Sementara itu, harga perak yang telah naik 19 persen sepanjang Mei bertambah 0,4 persen menjadi USD 87,87 per ons. Adapun Indeks Bloomberg Dollar Spot bergerak relatif datar.Sebelumnya, harga emas batangan diperdagangkan di kisaran USD 4.700 per ons pada Selasa (12/5), setelah sempat turun 0,4 persen. Pelemahan ini terjadi setelah indeks harga konsumen (CPI) AS pada April mencatat kenaikan terbesar sejak 2023, dipicu lonjakan harga bensin akibat perang Iran.Pelaku pasar swap suku bunga kini memperkirakan peluang sekitar sepertiga bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun, meningkat tajam dibandingkan hampir nol pada akhir bulan lalu. Kenaikan suku bunga umumnya berdampak negatif terhadap emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.Meski demikian, harga emas relatif tetap stabil di tengah optimisme yang lebih luas di pasar saham global.Ilustrasi investasi emas. Foto: ShutterstockHead of Rates and FX Strategy Asia JPMorgan Private Bank, Yuxuan Tang, mengatakan hubungan “asimetris” tersebut bukan hal baru di pasar emas. Menurutnya, pola serupa telah terlihat sejak 2022 ketika harga emas tetap tangguh meskipun suku bunga melonjak, dan cenderung menguat ketika suku bunga menurun.Ia menilai faktor utama yang menopang harga emas berasal dari sisi permintaan, khususnya pembelian besar-besaran oleh bank sentral. Kondisi itu dinilai mendukung pandangan bahwa emas mampu memberikan profil imbal hasil yang tidak berkorelasi dengan aset lainnya.Sementara itu, India sebagai konsumen emas terbesar kedua di dunia menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi sekitar 15 persen dari sebelumnya 6 persen. Langkah mengejutkan tersebut diambil pemerintah India untuk mempertahankan mata uang domestik serta memperkuat cadangan devisa negara.Pada perdagangan Selasa (12/5) pukul 10.03 waktu London, harga emas spot turun 0,3 persen menjadi USD 4.699,82 per ons. Harga perak yang telah naik 17 persen sepanjang Mei bergerak relatif stabil di level USD 86,50. Sementara itu, platinum dan paladium masing-masing turut melemah. Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,1 persen setelah sebelumnya menguat 0,3 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.