Kepala Tiga: Ketika Seseorang Dinilai dari Pencapaian

Wait 5 sec.

https://unsplash.com/photos/black-and-white-number-2-bDI4HdLsIe4“Kenapa umur 35 tahun kalau menikah dianggap tua, tetapi kalau mati dianggap muda?”, timpal saya kepada teman yang menyuruh saya untuk segera ke pelaminan daripada ketuaan. Umur saya memang belum menyentuh kepala tiga, tetapi hampir. Begitulah kalau manusia sudah dianggap matang, maka lingkungan akan menuntut ini itu.Saya bisa menangkap niat baik mereka. Hanya saja kalau dilakukan secara repetitif lama kelamaan mual juga. Mau dijelaskan sampai berbuih-buih, besoknya bakal menanyakan “kapan nikah?” lagi. Lebih ekstrem lagi kalau sampai meledek bujang lapuk. Duh, kalau bisa saya tidak bertemu kata-kata itu.Omong-omong soal umur kepala tiga. Manusia akan dilihat dari berbagai pencapaian. Selain pencapaian sudah menikah tadi, jenis pekerjaan dan kendaraan yang dimiliki tidak luput dari penilaian orang. Dan tentu saja mulut orang-orang lebih seram daripada film horornya Joko Anwar.Sayangnya in this economy tantangan orang-orang dalam menyambung hidup sungguh berat. Apalagi mewujudkan pencapaian. Kisah lulusan sarjana yang ambil pekerjaan seadanya asalkan bisa bertahan hidup bertebaran di media sosial. Beberapa waktu lalu saya membaca buku 30 Tahun dan Gagal: Kamu Tidak Bahagia dan Mungkin itu Salah Negara yang ditulis oleh Arman Dhani. Saya menemukan kalimat pada halaman ke 5, bunyinya begini “Kita bekerja, punya gaji, tetapi tetap gak bisa keluar dari rasa sesak tak berdaya”. Kalimat itu relate dengan kondisi WNI saat ini.Belum lagi soal PHK dan pengangguran. Mereka yang terkena layoff di usia 30-an tahun seperti vonis mati. Bagaimana tidak? Ketika ingin mencari pekerjaan lagi, mereka harus memandang syarat maksimal 25 tahun yang selalu diulang-ulang. Sangat beruntung apabila mempunyai relasi yang kuat, bisa menggunakan teknik orang dalam. Namun, tidak semua orang memilikinya. Toh, belum tentu juga relasi yang dikenalnya membutuhkan pegawai baru.Kondisi acakadut seperti ini tidak mudah dipahami oleh generasi di atasnya. Rumus mereka untuk orang berkepala tiga-terlebih lagi bagi seorang sarjana-kerja kantoran, jabatan mentereng, punya gaji besar. mobil, rumah, dan yang tidak boleh dilupakan tentu sudah menikah. Selama belum mencapai itu, siap-siap saja bakal menjadi sasaran empuk untuk diberi nasihat yang sebenarnya lebih cocok disebut mengganggu. Kamu akan dianggap seperti orang bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan. “Sarjana kok kerjanya seperti itu” bakal menjadi makanan sehari-hari.Semua ini tentu bisa membuat mental rapuh. Kuatnya seseorang dalam menghadapi tekanan berbeda-beda. Setiap orang mempunyai caranya masing-masing untuk bertahan. Bahkan sampai di level bisa membercandakan dari perkataan-perkataan yang datang.Untuk bisa menerima keadaan sulit ini tentu membutuhkan proses yang tidak sebentar. Tak heran lagu-lagu bertema mental health cukup diterima banyak orang. Sebut saja lagu Jiwa yang Bersedih dari Ghea Indrawari yang cukup magis yang membuat orang menerima diri sendiri. Lalu ada Bernadya dengan lagu Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan mempunyai makna pantang menyerah dalam melanjutkan hidup. Tak lupa ada Idgitaf, lagunya yang berjudul Berakhir di Aku tentang bagaimana beban yang dipikul cukup berat. Setidaknya itu yang saya tangkap dari lagu-lagu mereka.Jujur saja, orang-orang yang berada di kondisi seperti ini justru membutuhkan dukungan yang kuat bukan ditekan. Saya teringat dengan film Tunggu Aku Sukses Nanti yang saya tonton saat libur lebaran kemarin. Terdapat adegan karakter Arga mengatakan yang intinya dia meminta maaf karena belum bisa sukses kepada keluarganya saat berada di meja makan. Keluarganya justru mengatakan bahwa Arga sudah melakukan yang terbaik. Melihat adegan itu air mata saya hampir saja keluar.Dari film tersebut, saya bisa ambil pelajaran bahwa sebuah dukungan bisa membuat seseorang bertahan dan melanjutkan hidup dengan semangat. Bukan cacian, hinaan, atau membandingkan dengan orang lain yang lebih mujur. Jadi, mari kita memberi semangat kepada orang-orang yang berjuang.