Alami penurunan laporan kinerja pada kuartal I tahun 2026, Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, mengungkapkan bahwa profit maupun penjualan produk tetap stabil. Foto: kumparanPT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (Sido Muncul) mengalami penurunan laporan kinerja pada kuartal I tahun 2026. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada 31 Maret 2026, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp 640,5 miliar, atau melemah sekitar 19 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp 789,1 miliar.Meski begitu, Direktur Utama Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, mengungkapkan bahwa situasi itu bukan terjadi karena penurunan permintaan konsumen, melainkan akibat proses inventory adjustment atau pengoptimalan persediaan produk Sido Muncul di tingkat distributor.“Saya lakukan inventory adjustment ini. Sehingga ya, otomatis turun. Tapi penjualan enggak turun. Jadi laporan kinerjanya turun, tapi penjualannya stabil,” kata Irwan saat dijumpai di Kantor Sido Muncul, Cipete, Jakarta Selatan, pada Selasa (12/5).Irwan menambahkan, penyesuaian stok perlu dilakukan karena persediaan produk Sido Muncul di distributor masih cukup banyak. “Jadi kita stok di distributor itu banyak,” sebut Irwan.Kondisi tersebut terjadi karena sistem penjualan berjenjang dan pembelian distributor dengan harga lama pada akhir tahun 2025, sehingga membuat distributor mendapat harga lebih murah ketika mengambil produk Sido Muncul dalam jumlah besar. Lama-kelamaan, stok barang menumpuk dan menjadi tidak efisien.Penumpukan stok ini berdampak pada harga produk di pasar, karena akhirnya dijual dengan harga lebih murah. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat merusak harga pasaran.Selain itu, perusahaan juga menghentikan sementara program hadiah yang biasanya diberikan kepada distributor saat melakukan pembelian produk.“Nah sekarang ini triwulan pertama, saya melarang untuk menjual Tolak Angin. Jadi saya enggak pernah ngasih hadiah lagi karena itu mereka kan punya stok banyak,” ujarnya.Produk Sido Muncul yang Masih Jadi Market Leader di IndonesiaDi tengah berbagai tantangan, Irwan Hidayat menyebutkan bahwa profit maupun penjualan tetap stabil. Bahkan sejumlah produk unggulan Sido Muncul masih mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar di kategorinya masing-masing, mulai dari Kuku Bima, Esemag, Tolak Linu, hingga berbagai produk suplemen herbal dan jamu serbuk lainnya.Perseroan menilai prospek industri herbal pada tahun ini tetap positif. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, perubahan cuaca, mobilitas masyarakat, serta kuatnya budaya konsumsi herbal di Indonesia menjadi katalis utama pertumbuhan industri.Meski menghadapi berbagai tantangan, Irwan tetap menargetkan laba perusahaan bisa menyamai pencapaian tahun lalu, yakni sekitar Rp 1,22 triliun. Untuk mencapai target tersebut, ia mengatakan perusahaan telah menyiapkan sejumlah strategi yang diluncurkan, sekaligus bertepatan dengan peringatan ulang tahun Sido Muncul yang ke-75 pada November mendatang.Strategi pertama adalah peluncuran portal online SidoHerbalPedia (sidoherbalpedia.com) untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengobatan berbasis herbal, meningkatkan awareness masyarakat terhadap manfaat herbal Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan produk food supplement herbal.Kedua, melakukan riset pada tingkat hulu yang melibatkan sejumlah institusi maupun akademisi. Tujuannya untuk meneliti tanaman, bahan baku, hingga produk Sido Muncul guna meningkatkan kualitas bahan baku utama.Tak lupa, Sido Muncul juga mengembangkan riset tanaman obat untuk berbagai macam penyakit seperti kanker, Diabetes Melitus, hingga gangguan kesehatan yang berhubungan dengan imunitas.Selain itu, Sido Muncul konsisten melakukan penguatan riset ilmiah dan uji pra-klinis pada berbagai produknya sebagai upaya dalam menjaga mutu dan kualitas produk. Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Tolak Angin melewati uji praklinis, termasuk uji toksisitas, yang dilakukan bersama institusi akademik ternama.Sido Muncul juga terus memperluas pasar ekspornya dengan mulai memasuki pasar mainstream di luar negeri. Tahun ini, perusahaan berencana memperluas penetrasi pasar ke kawasan Arab Saudi dan China sebagai bagian dari strategi ekspansi globalnya.“Terus kemudian menggarap pasar ekspor. Salah satu targetnya kita sedang mendaftarkan di Arab Saudi. Kalau bisa, kami juga akan masuk ke China untuk bisa masuk di pasar mainstream itu,” pungkas Irwan.Di saat yang sama, perusahaan turut mengoptimalkan efisiensi biaya melalui peningkatan proses produksi, pengemasan, pengelolaan pemasok, strategi iklan dan promosi, hingga penguatan rantai pasok.Sido Muncul tetap mewaspadai sejumlah tantangan eksternal, termasuk dinamika geopolitik global yang turut mendorong kenaikan harga bahan kemasan. Meski begitu, perusahaan menilai kondisi tersebut masih dapat dikelola dengan baik karena sekitar 90 persen bahan baku yang digunakan berasal dari dalam negeri, sehingga dampak fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah relatif lebih terbatas.“Bahan baku packaging itu kan kira-kira hanya 5-7 persen. Bahan baku naik, tapi bahan baku kita yang impor mungkin cuma 5-10 persen,” jelasnya.Ke depan, Sido Muncul tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Optimisme tersebut didukung oleh permintaan pasar yang masih kuat, posisi merek yang dominan di berbagai kategori produk, serta penguatan inovasi dan ekspansi pasar yang terus dilakukan.