Rupiah Melemah, Pasar Mobil Rp 200 Jutaan Bisa Makin Ramai

Wait 5 sec.

Honda Brio di GIIAS 2023. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanPelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya berdampak pada biaya produksi dan harga kendaraan, tetapi juga berpotensi mengubah perilaku konsumen di pasar otomotif. Pergeseran preferensi dinilai bisa terjadi, terutama di segmen menengah yang sensitif terhadap kenaikan harga dan cicilan.Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai, peluang terjadinya penurunan kelas atau down grade dari segmen mobil Rp350 jutaan ke kisaran Rp200 jutaan cukup besar. “Pergeseran pasar dari mobil sekitar Rp350 juta ke segmen Rp200 jutaan sangat mungkin terjadi jika rupiah lemah berlangsung lama,” kata Josua kepada kumparan, Senin (11/5/2026).Ia menjelaskan, fenomena tersebut bukan sekadar asumsi, melainkan sudah mulai terlihat dari perubahan perilaku konsumen. Kenaikan harga kendaraan dan cicilan membuat pembeli punya pertimbangan lebih kompleks dalam mengambil keputusan.Toyota Agya di GIIAS 2022. Foto: Rizki Fajar Novanto/kumparan“Ini bukan hanya dugaan, karena gejala turun kelas sudah terlihat dari perilaku konsumen yang lebih selektif. Ketika harga mobil baru naik dan cicilan makin berat, sebagian konsumen akan menunda pembelian, sebagian beralih ke mobil bekas, dan sebagian lain memilih mobil baru dengan harga lebih rendah,” ujarnya.Menurutnya, segmen kendaraan di kisaran Rp 200 juta hingga Rp 300 juta berpotensi menjadi lebih menarik. Faktor efisiensi bahan bakar dan biaya kepemilikan yang lebih rendah menjadi pertimbangan utama konsumen.“Segmen Rp 200 juta sampai Rp 300 juta berpotensi menjadi lebih menarik, apalagi jika ada model yang menawarkan efisiensi bahan bakar, biaya kepemilikan rendah, dan fitur cukup memadai,” tegasnya.Ia juga menyoroti kehadiran kendaraan listrik di rentang harga tersebut yang mulai menjadi alternatif baru kepemilikan kendaraan.Daihatsu Ayla di IIMS 2024. Foto: Sena Pratama/kumparan“Masuknya kendaraan listrik di kisaran tersebut menjadi tawaran menarik sekaligus tantangan bagi kendaraan konvensional, sementara pertumbuhan kendaraan listrik sebelumnya banyak terbantu oleh insentif dan daya beli kelompok menengah atas,” ungkapnya.Josua menegaskan pergeseran ini tidak akan terjadi secara merata di semua segmen konsumen. Kelompok atas dinilai masih relatif stabil, sementara kelompok menengah lebih rentan terdampak. Kondisi ini berpotensi membuat struktur pasar otomotif menjadi semakin terfragmentasi. “Jadi, pola yang mungkin terjadi adalah pasar menjadi lebih terbelah. Segmen premium dan konsumen kaya masih berjalan, meski lebih selektif. Segmen menengah turun ke kendaraan lebih murah atau mobil bekas,” paparnya.Suasana booth Daihatsu pada pegelaran GIIAS (Gaikindo Indonesia International Auto Show) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanSementara itu, segmen bawah cenderung akan menunda pembelian atau beralih ke moda transportasi lain seperti sepeda motor. Dampaknya, perubahan tidak hanya terjadi pada volume penjualan, tetapi juga struktur pasar.“Karena itu, dampak rupiah lemah terhadap otomotif bukan hanya penurunan volume, tetapi juga perubahan struktur pasar menuju kendaraan yang lebih murah, lebih hemat energi, dan biaya kepemilikannya lebih rendah,” jelasnya.Dari sisi kebijakan, ia menilai langkah Bank Indonesia sudah berada di jalur yang tepat dalam menjaga stabilitas. Namun, dukungan dari sisi fiskal dan industri tetap diperlukan untuk menjaga daya tahan sektor otomotif.“BI sudah berada pada jalur yang relatif tepat dengan mempertahankan BI Rate di 4,75% dan menegaskan stabilisasi rupiah sebagai prioritas. Tidak ada isu signifikan dari sisi moneter,” ujarnya.Suasana booth Toyota di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (24/7/2025). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanIa menambahkan, pemerintah perlu memperkuat fondasi industri untuk meredam dampak jangka panjang. Salah satunya dengan meningkatkan kandungan lokal dalam industri otomotif.“Untuk membantu otomotif dan sektor riil, pemerintah perlu memperkuat sisi yang lebih mendasar: menjaga kredibilitas fiskal, mengendalikan subsidi energi secara terukur, mempercepat masuknya devisa hasil ekspor, mengurangi ketidakpastian regulasi, dan memperkuat kandungan lokal otomotif,” tuntasnya.