Red Bull Cliff Diving World Series. Foto: kumparanIndonesia kembali menjadi sorotan dunia olahraga ekstrem. Tahun ini, Red Bull Cliff Diving World Series resmi memilih Bali sebagai tuan rumah pembuka musim ke-17 kompetisi cliff diving paling bergengsi di dunia.Ajang tersebut akan digelar pada 20 hingga 23 Mei 2026 di dua lokasi ikonik Bali, yakni Air Terjun Kroya dan Pantai Kelingking.Sebanyak 24 atlet elit dunia yang terdiri dari 12 pria dan 12 wanita akan bersaing memperebutkan King Kahekili Trophy.Namun di balik aksi terjun bebas dari tebing tinggi yang memacu adrenalin, ternyata ada sejarah panjang dan filosofi mendalam yang melatarbelakangi olahraga ini.Berawal dari Tradisi Sakral Prajurit HawaiiCliff diving modern ternyata berakar dari tradisi kuno Hawaii bernama Lele Kawa yang sudah ada sejak abad ke-18.Tradisi tersebut dipelopori Raja Kahekili di tebing suci Kaunolo, Hawaii. Nama sang raja kini diabadikan menjadi King Kahekili Trophy yang diperebutkan dalam Red Bull Cliff Diving.Secara filosofis, lompatan itu dipercaya sebagai cara untuk menghubungkan diri dengan leluhur sekaligus pembuktian kendali penuh atas rasa takut.Red Bull Cliff Diving World Series. Foto: kumparanDalam tradisi tersebut dikenal konsep "Mana" dan "Pono". Mana diartikan sebagai kekuatan, sementara Pono berarti keseimbangan. Dua prinsip mental tersebut masih menjadi fondasi penting bagi para atlet cliff diving hingga sekarang.Lele Kawa sendiri berarti “melompat tanpa cipratan”. Filosofi itu melahirkan aturan zero-splash rule yang hingga kini menjadi standar tertinggi dalam penilaian kompetisi cliff diving modern.Terjun 90 Km/Jam dalam 3 DetikAksi para atlet cliff diving ternyata berlangsung sangat cepat sekaligus berbahaya.Dalam waktu sekitar tiga detik, atlet dapat meluncur dengan kecepatan mencapai 85 hingga 90 kilometer per jam saat terjun bebas dari tebing.Benturan saat tubuh menyentuh air bahkan bisa mencapai sembilan kali gravitasi atau 9G.Red Bull Cliff Diving World Series. Foto: kumparanKarena itu, atlet diwajibkan melakukan feet-first entry atau masuk ke air menggunakan kaki terlebih dahulu. Teknik masuk dengan kepala dinilai sangat fatal dari ketinggian lebih dari 20 meter karena berisiko menyebabkan cedera serius pada leher dan tulang belakang.Selain itu, atlet juga harus melakukan rotasi akrobatik hingga 2,4 kali per detik dengan tingkat presisi yang sangat tinggi sebelum akhirnya masuk ke air.Bedanya dengan Diving OlimpiadeMeski sama-sama olahraga loncat air, cliff diving memiliki tingkat risiko yang jauh berbeda dibanding diving Olimpiade.Pada Olimpiade, atlet melompat dari platform setinggi 10 meter atau setara gedung tiga lantai. Sementara dalam Red Bull Cliff Diving, atlet pria melompat dari ketinggian 27 meter atau setara gedung sembilan lantai.Red Bull Cliff Diving World Series. Foto: kumparanKecepatan jatuhnya pun berbeda signifikan. Atlet diving Olimpiade meluncur sekitar 50 kilometer per jam dalam waktu 1,5 detik. Sedangkan atlet cliff diving bisa mencapai 85 kilometer per jam dengan durasi terjun sekitar tiga detik penuh gravitasi.Teknik masuk ke air juga berbeda. Diving Olimpiade mengutamakan estetika dengan teknik tangan terlebih dahulu agar minim cipratan. Sementara cliff diving mewajibkan atlet masuk menggunakan kaki demi keselamatan.Perbedaan lainnya terletak pada medan pertandingan. Diving Olimpiade dilakukan di kolam renang steril dan tenang, sedangkan cliff diving berlangsung di alam liar dengan tantangan angin, ombak laut, hingga kondisi kedalaman air yang berubah-ubah.Standar keamanannya pun jauh lebih kompleks. Selain tim medis, kompetisi ini juga melibatkan penyelam profesional, termasuk personel TNI AL yang bersiaga di dalam air untuk melakukan evakuasi instan jika terjadi keadaan darurat.