Ilustrasi hewan kurban saat perayaan Idul Adha. Foto: Canva.Pada umumnya, daging kurban dibagikan dalam bungkus plastik sekali pakai. Padahal, penggunaan plastik sekali pakai seperti kresek pada momen Idul Adha berpotensi menciptakan timbulan sampah yang cukup tinggi.Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah hewan kurban pada 2024 mencapai 1,97 juta ekor. Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memperkirakan timbulan sampah plastik selama Idul Adha 2024 mencapai 608 ton. Jumlah itu berasal dari sekitar 121,5 juta lembar kantong kresek.Berangkat dari masalah ini, Ketua Program Studi Gizi Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Agung Nugroho, menilai momentum Idul Adha dapat menjadi waktu yang tepat untuk menyampaikan edukasi tentang penggunaan plastik sekali pakai.Ketua Program Studi Gizi Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Agung Nugroho. Foto: Dok. Istimewa.“Momentum Idul Adha seharusnya juga menjadi sarana edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan,” kata Agung kepada awak media, Jumat (8/5).Ia mengingatkan bahwa kantong plastik, terutama hasil daur ulang, berpotensi membahayakan kesehatan. Mengacu pada penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2019, sebagian besar plastik kresek berasal dari daur ulang limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida yang dalam proses pembuatannya menggunakan zat berbahaya."Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam," paparnya.Menurut Agung, penggunaan wadah ramah lingkungan saat membagikan daging kurban akan lebih baik untuk mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan.Agung menilai upaya mengurangi sampah plastik juga sejalan dengan ajaran Islam tentang menjaga lingkungan. Ia menyebut, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk tidak merusak alam."Umat Islam harus menjadi aktor utama dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah agama," lanjut Agung.Ilustrasi besek, alternatif wadah ramah lingkungan pengganti plastik. Foto: CanvaSelama ini, pemerintah telah menghimbau panitia kurban untuk mengganti kantong plastik dengan wadah ramah lingkungan seperti daun pisang, daun jati, anyaman bambu, atau besek. Namun, menurut Agung, penggunaan pembungkus organik juga masih menyisakan persoalan sampah apabila tidak dikelola dengan baik."Sampah organik memang bisa dijadikan kompos, tetapi kenyataannya di tingkat rumah tangga sebagian besar tetap bercampur dengan sampah lain dan berakhir di tempat pembuangan," tuturnya.Sebagai alternatif, KLHK mendorong penggunaan wadah yang dapat dipakai berulang atau reusable. Agung mencontohkan konsep ini mulai diterapkan Masjid Quwatul Islam (MQI) Perumnas Condongcatur, Sleman.Masjid yang menaungi jamaah dari empat RT tersebut melakukan eksperimen sosial dengan membagikan daging kurban menggunakan kontainer food grade dan wadah reusable sejak 2004. Kontainer diberi label nama warga dan digunakan kembali setiap tahun.Pada Idul Adha 2025, MQI memperluas penggunaan kontainer reusable kepada sohibul kurban dan penerima lainnya menggunakan wadah thinwall yang dapat dipakai ulang."Hasilnya luar biasa. Tidak ada lagi sampah plastik maupun sampah organik pembungkus daging kurban yang menumpuk di tempat sampah," pungkas Agung.