‘Consent’ adalah prinsip utama dalam ‘Kamasutra’: Apa yang bisa kita pelajari darinya?

Wait 5 sec.

Selama ini kita kerap berasumsi bahwa suara perempuan dalam urusan seksual baru mulai didengar di era modern. Namun nyatanya, kekuatan seksual dan pembebasan perempuan telah tertuang dalam kitab Kamasutra, yang telah ada sejak abad ke-3.Wajar jika kamu menganggap Kamasutra bukanlah kitab yang memberdayakan atau berpikiran maju, setidaknya berdasarkan apa yang kita asumsikan selama ini. Persepsi ini sebenarnya berakar pada kesalahpahaman era kolonial yang terus dilanggengkan melalui representasi budaya populer sebagai sekadar ‘panduan seks’.Sosok di balik kesalahpahaman ini adalah Richard Francis Burton, yang menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1883. Sayangnya, ‘terjemahan’ ini jauh dari naskah aslinya. Ia lebih merupakan sebuah interpretasi yang disusun melalui sudut pandang laki-laki yang sangat sempit.Dalam penelitian yang saya lakukan, saya menemukan sisi teks yang sangat berbeda—sebuah karya yang bahkan dapat dipandang feminis menurut standar modern. Teks asli dari abad ketiga yang diatribusikan kepada filsuf Vatsyayana—serta berbagai terjemahan dan interpretasi terbaru—justru menampilkan sosok perempuan sebagai partisipan yang aktif dan vokal dalam mengekspresikan hasrat seksual mereka.Jauh dari sekadar manual seks biasa, Kamasutra menempatkan consent (persetujuan) sebagai inti dari kebebasan seksual, dengan menekankan pada aspek timbal balik, antusiasme, serta hak untuk menolak. Pakar asal India, Kumkum Roy, memaparkan bagaimana Vatsyayana meyakini bahwa hasrat seksual dapat mendorong harmoni, mendukung kepedulian etis, dan memupuk kasih sayang antarpasangan.Dalam naskah asli Vatsyayana serta terjemahan yang lebih akurat, sebuah hubungan digambarkan sebagai bentuk pertukaran yang dinegosiasikan atas dasar hasrat, komunikasi, dan kepekaan emosional. Di sini, perempuan tidaklah pasif. Mereka mampu menyuarakan preferensi, menetapkan batasan, menginisiasi keintiman, hingga mengejar kesenangan mereka sendiri.Bait-bait di dalamnya menggambarkan interaksi yang jenaka dan hangat di antara individu yang memiliki kedekatan. Mereka berbagi kenyamanan melalui humor, candaan, serta penggunaan bahasa isyarat ketimbang kata-kata langsung, sehingga tercipta suasana akrab yang membawa mereka ke dalam keintiman dan kesenangan. Salah satu kutipan ini misalnya:Mereka saling berbincang tentang segala hal yang telah mereka lalui bersama sebelumnya, bercanda dan saling menggoda, menyentuh segala hal yang tersembunyi dan menggairahkan.“ – Buku dua, bab sepuluh.Sebagaimana yang tergambar di sini, consent tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga lewat gestur, ekspresi, dan sinyal-sinyal responsif yang menuntut kepekaan, alih-alih sekadar asumsi. Vatsyayana menyatakan bahwa seorang laki-laki harus mampu menafsirkan gestur dan sinyal hasrat seksual perempuan untuk membangun kepercayaan sebelum melakukan kontak fisik:Ketika berbagai suasana erotis ini dibangkitkanSesuai dengan karakter khas sang perempuanDan asal-usul wilayahnya, hal itu akan memupuk rasa kasih, gairah, dan penghormatan perempuan.” – Buku dua, bab enam.Pakar Hindia Belanda, Wendy Doniger, berpendapat bahwa Kamasutra mengajarkan ‘bahasa seksual’ yang melampaui urusan ranjang. Hal ini berkaitan dengan kemampuan membaca isyarat, menghormati otonomi, dan mengakui bahwa hasrat adalah sesuatu yang diciptakan bersama, bukan dipaksakan—keterampilan yang seharusnya diterapkan dalam seluruh interaksi sosial. Halaman manuskrip ‘Kamasutra’ dalam bahasa Sanskerta yang tersimpan di dalam ruang penyimpanan Kuil Raghunath di Jammu & Kashmir. Wikimedia Merujuk pada bait-bait tersebut, menunjukkan kepekaan dan pemahaman dalam urusan asmara dapat memperkuat perasaan serta rasa hormat seorang perempuan. Lebih krusial lagi, teks ini menegaskan secara gamblang: tanpa izin dari perempuan, seorang laki-laki tidak boleh menyentuhnya.Hal ini sangat kontras dengan banyak realitas yang terjadi saat ini. Berbagai penelitian—termasuk riset saya sendiri yang merujuk pada lebih dari 1.000 pengakuan perempuan terkait pemaksaan—menunjukkan bagaimana consent sering kali menjadi kabur, tidak terucap, atau sekadar akting. Sebagaimana didokumentasikan oleh akademisi sekaligus aktivis feminis Fiona Vera-Gray, perempuan kerap merasa tertekan untuk patuh, bahkan terkadang memalsukan hasrat atau orgasme demi memenuhi ekspektasi pasangan.Mengkaji ulang Kamasutra melalui sudut pandang feminis mengungkap sesuatu yang mengejutkan: sebuah kerangka kuno yang justru menitikberatkan pada agensi, kesenangan, dan pilihan perempuan. Teks ini membayangkan perempuan sebagai subjek hasrat yang percaya diri—sosok yang mampu berucap ‘ya’, ‘tidak’, atau memilih untuk pergi. Dalam pemahaman ini, consent bukan sekadar batasan hukum, melainkan praktik yang dibentuk oleh momentum, timbal balik, dan pengakuan satu sama lain.Apa yang muncul kemudian bukanlah sekadar ‘manual seks’, melainkan filosofi yang menegaskan bahwa kualitas hubungan seksual sangat bergantung pada atensi, kesabaran, dan persetujuan yang tulus.Bahkan pada akhirnya, jalinan asmara yang diperkuat oleh tindakan penuh perhatian serta pertukaran kata dan perbuatan rahasia akan melahirkan ekspektasi yang tertinggi. Menyambut perasaan tulus satu sama lain, membangkitkan cinta yang saling mengisi. – Buku dua, bab sepuluhBait-bait tersebut mengingatkan kita bahwa perhatian, kepercayaan, dan kejujuran emosionallah yang membuat cinta menjadi benar-benar bermakna dan memuaskan. Vatsyayana pun menyarankan laki-laki untuk mendengarkan suara perempuan dan menjadi pasangan yang lembut.Kamasutra dalam wujud aslinya membongkar gagasan bahwa perempuan harus selalu menuruti hasrat laki-laki. Sebaliknya, teks ini memosisikan suara perempuan sebagai elemen esensial dalam setiap hubungan yang bermakna. Memulihkan perspektif ini menjadi hal yang sangat penting.Ketika perempuan didukung untuk mengenali dan mengekspresikan agensi seksual mereka, keseimbangan kuasa pun bergeser. Consent menjadi lebih jelas dan setara, sehingga keintiman pun berubah menjadi sesuatu yang dinikmati, bukan terpaksa dijalani.Sharha tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.