Ilustrasi Siswa SMAN 94 JAKARTA (Sumber: Dokumentasi Pribadi)"Besok semua membawa laptop untuk presentasi, ya."Kalimat itu mungkin terdengar biasa di banyak ruang kelas. Sebagian peserta didik langsung mengangguk karena laptop sudah tersedia di rumah, internet mudah diakses, dan orang tua siap membantu apabila mereka mengalami kesulitan. Namun, tidak semua peserta didik memiliki kondisi yang sama. Ada yang mulai memikirkan harus meminjam laptop milik saudara, menunggu orang tua pulang agar dapat menggunakan telepon genggam mereka, atau mencari jaringan internet gratis supaya tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Padahal, tugas yang diberikan, tenggat waktu, dan standar penilaiannya tetap sama bagi seluruh peserta didik. Sekilas situasi tersebut tampak wajar, tetapi jika dicermati lebih dalam, setiap peserta didik sebenarnya telah memulai proses belajarnya dari kondisi yang berbeda. Ada yang melangkah dengan berbagai fasilitas dan dukungan belajar, sementara yang lain harus mengatasi berbagai keterbatasan terlebih dahulu hanya untuk memenuhi tuntutan pembelajaran. Lantas, dapatkah hasil belajar mereka dibandingkan menggunakan ukuran yang sama?Guru memberikan tugas yang sama. Penilaiannya juga sama. Namun, apakah semua peserta didik benar-benar memulai dari garis start yang sama?Pertanyaan tersebut membawa kita pada pembahasan yang lebih luas mengenai kurikulum. Kurikulum memang dirancang sebagai pedoman pembelajaran yang berlaku bagi seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang mereka. Semua mempelajari materi yang sama, mengikuti penilaian yang sama, dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sama. Dari sisi kebijakan, sistem tersebut tampak adil. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa setiap peserta didik datang ke sekolah dengan bekal yang tidak selalu sama.Ada anak yang tumbuh di rumah dengan rak buku, akses internet tanpa batas, ruang belajar yang nyaman, bahkan orang tua yang dapat membantu ketika mengalami kesulitan belajar. Di sisi lain, ada anak yang sepulang sekolah harus membantu orang tua bekerja, berbagi telepon genggam dengan anggota keluarga lain, atau belajar di lingkungan yang kurang mendukung. Perbedaan tersebut sering kali tidak terlihat di ruang kelas, tetapi sangat memengaruhi proses belajar mereka.Lalu muncul pertanyaan lain, apakah hasil belajar dapat dibandingkan secara adil jika kesempatan untuk belajar sejak awal sudah berbeda?Persoalan tersebut dapat dijelaskan melalui perspektif sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, keberhasilan seseorang di sekolah tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kerja keras. Ada faktor lain yang disebut modal budaya (cultural capital), yaitu berbagai pengetahuan, kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga pengalaman yang diperoleh seseorang dari lingkungan keluarganya.Modal budaya bukan hanya soal banyaknya buku yang dimiliki di rumah. Cara orang tua berdiskusi dengan anak, kebiasaan membaca, keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan menggunakan teknologi, hingga lingkungan yang mendukung belajar juga merupakan bagian dari modal budaya. Semua itu secara perlahan membentuk kesiapan seorang peserta didik ketika mengikuti proses pembelajaran di sekolah.Tidak mengherankan jika ada peserta didik yang terlihat lebih percaya diri saat presentasi atau lebih mudah memahami materi. Bukan berarti mereka selalu lebih pintar, tetapi mereka mungkin telah terbiasa dengan situasi serupa sejak kecil. Sebaliknya, peserta didik yang jarang memperoleh pengalaman tersebut membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Mereka harus belajar memahami materi sekaligus menyesuaikan diri dengan cara belajar yang diharapkan sekolah.Kondisi ini semakin terlihat ketika kurikulum mendorong pembelajaran berbasis proyek, diskusi, presentasi, serta pemanfaatan teknologi. Pendekatan tersebut tentu membawa banyak manfaat karena mampu melatih kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah semua peserta didik memiliki fasilitas dan pengalaman yang cukup untuk memenuhi tuntutan tersebut?Bourdieu juga memperkenalkan konsep habitus, yaitu kebiasaan dan cara berpikir yang terbentuk dari lingkungan tempat seseorang tumbuh. Habitus inilah yang memengaruhi cara peserta didik menyelesaikan masalah, berinteraksi dengan guru, hingga memandang pendidikan. Ketika habitus yang dimiliki peserta didik selaras dengan budaya sekolah, mereka cenderung lebih mudah mengikuti pembelajaran. Sebaliknya, peserta didik yang memiliki pengalaman hidup berbeda sering kali memerlukan usaha lebih besar untuk mencapai hasil yang sama.Di sinilah sekolah tanpa disadari dapat menjadi ruang yang mereproduksi ketimpangan sosial. Bukan karena sekolah sengaja membedakan peserta didik, melainkan karena sistem pembelajaran sering kali menganggap semua anak memiliki titik awal yang sama. Akibatnya, peserta didik yang telah memiliki modal budaya sejak awal lebih mudah memenuhi ekspektasi kurikulum, sedangkan peserta didik lainnya harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk mencapai posisi yang setara.Banyak orang kemudian menganggap bahwa peserta didik yang memperoleh nilai tinggi pasti lebih rajin atau lebih cerdas. Padahal, usaha setiap anak berlangsung dalam kondisi yang berbeda. Ada yang dapat belajar dengan tenang setiap malam, sementara yang lain harus membantu pekerjaan keluarga atau menghadapi keterbatasan fasilitas belajar. Kerja keras tetap penting, tetapi kesempatan untuk bekerja keras juga tidak selalu dimiliki secara setara.Hal ini bukan berarti kurikulum yang berlaku saat ini tidak baik. Sebaliknya, kurikulum terus berkembang agar mampu menjawab tantangan zaman dan mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan di masa depan. Namun, keberhasilan kurikulum tidak cukup diukur dari perubahan materi atau metode pembelajaran. Yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana pelaksanaannya mampu menjangkau peserta didik dengan latar belakang sosial yang beragam.Pendidikan yang setara bukan berarti memberikan perlakuan yang sama kepada semua peserta didik, melainkan memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Ketika sekolah mampu memahami bahwa setiap peserta didik memulai perjalanan belajarnya dari garis start yang berbeda, kurikulum tidak hanya menjadi pedoman pembelajaran, tetapi juga menjadi jembatan untuk mengurangi kesenjangan sosial. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan nilai yang tinggi, melainkan memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai potensinya.