Mendaki gunung dan berkemah. Foto: Lutfi Rinaldi.Sejak tahun 2013, jagad pendakian gunung di Indonesia mengalami lonjakan yang sangat masif, dipicu oleh pengaruh budaya populer seperti film bertema pendakian gunung serta maraknya paparan keindahan alam yang bersliweran di media sosial. Sayangnya, popularitas yang meningkat pesat ini tidak selalu dibarengi dengan kesiapan para pendakinya. Banyak dari mereka yang nekat mendaki tanpa modal fisik yang prima, mental yang tangguh, pengetahuan dan keterampilan mendaki gunung, hingga kelengkapan peralatan dan perbekalan yang memadai.Akibat fenomena tersebut, angka kecelakaan di gunung-gunung populer Indonesia pun ikut merangkak naik. Ratusan kasus insiden fatal tercatat sepanjang dekade terakhir, mulai dari pendaki yang tersesat, terjatuh ke jurang, hingga terkena hipotermia akut yang berujung pada kematian. Kelalaian manusia (human negligence) dan minimnya manajemen risiko tetap menjadi faktor terbesar di balik bergaai tragedi ini, melampaui faktor risiko dari cuaca ekstrem dan bencana alam itu sendiri.Mengintip Fatalitas di GunungSepanjang rentang tahun 2013 hingga 2025, tercatat setidaknya 248 kecelakaan fatal yang berujung pada kematian di wilayah pegunungan Indonesia. Angka ini bukan murni berasal dari pendaki gunung, tetapi ada yang berasal dari latar belakang lain, seperti peziarah ataupun pemburu. Lokasi kejadian tersebar di 70 gunung yang telah menjadi destinasi pendakian gunung serta juga terletak pada 18 wilayah provinsi di Indonesia.Di bawah ini adalah grafik statistik kecelakaan dengan akibat kematian selama 13 tahun terakhir.Statistik Kecelakaan dengan Kematian di Gunung. Grafik dibuat oleh penulis.Berdasarkan grafik di atas, terdapat dua lonjakan angka kematian yang sangat mencolok, yaitu pada tahun 2023 dan 2025:• Tahun 2023 (37 Kematian): Lonjakan drastis ini dipicu oleh satu peristiwa katastropik tunggal, yaitu letusan freatik Gunung Marapi di Sumatera Barat yang merenggut 24 nyawa sekaligus.• Tahun 2025 (36 Kematian): Wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah mendominasi angka kecelakaan secara masif, menyumbang hampir setengah dari total kematian nasional pada tahun tersebut. Hal ini berbanding lurus dengan tingginya mobilitas, di mana kedua wilayah ini mengantongi sekitar 1,5 juta perjalanan pendakian (sekitar 50% dari total perjalanan pendakian di Indonesia).Insiden Penyebab UtamaJika membedah faktor penyebab, insiden Jatuh (53 kasus) dan Hipotermia (44 kasus) bertengger sebagai pembunuh tertinggi. Akumulasi dari kedua insiden ini mencakup hampir 40% dari total keseluruhan kasus kematian yang ada. Kedua insiden ini lebih condong disebabkan oleh kelengahan manusia ketimbang faktor eksternal, yaitu medan pendakian maupun cuaca.Insiden Utama dengan Fatalitas. Grafik dibuat oleh penulis.Grafik di atas menunjukkan bahwa diantara tahun 2013 dan 2025:• Insiden Hipotermia relatih stabil yaitu naik turun pada rentang 0 (tidak ada kejadian) hingga 6 kali.• Insiden Jatuh, yang awalnya berada pada rentang 1 hingga 5 kali kejadian, kemudian terdapat peningkatan pada 2024 (6 kali) dan secara signifikan pada 2025 (15 kali).Meski belum ada kajian ilmiah formal, lonjakan tajam insiden Jatuh pada 2024–2025 disinyalir kuat akibat bergesernya tren pendakian, yaitu maraknya pendakian tek-tok atau pendakian yang diselesaikan dalam waktu satu hari saja (hiking), serta dominannya pendaki gunung berusia muda.Anomali Musiman dan Usia PendakiInsiden Hipotermia dan Jatuh dalam sebaran bulan. Grafik dibuat oleh penulis.Korelasi antara waktu pelaksanaan pendakian dengan jenis kecelakaan memperlihatkan pola yang unik:A. Hipotermia: Bahaya Musim Hujan vs Anomali Agustus• Desember – Maret: Kasus hipotermia sangat mungkin terjadi pada periode ini karena bertepatan dengan puncak musim hujan. Di sinilah pentingnya Manajemen Peralatan, Perlengkapan dan Perbekalan, seperti jas hujan, pakaian ganti, pemenuhan kalori, hingga ketahanan fisik.• Agustus (Puncak Hipotermia, 8 kasus): Ini merupakan sebuah anomali. Agustus adalah puncak musim kemarau, dimana suhu di siang hari sangat panas. Namun, suhu gunung justru merosot tajam di bawah rata-rata pada malam hari. Fenomena ini didorong oleh hembusan angin monsun Australia yang dingin, tipisnya kandungan uap air, serta langit bersih tanpa awan yang membuat panas bumi menguap instan ke angkasa.• Fakta Unik: Dari 8 kasus hipotermia di bulan Agustus, 5 di antaranya terjadi di Gunung Bawakaraeng. Hal ini menunjukkan bahwa topografi spesifik suatu gunung ikut berperan dalam membentuk suhu dingin ekstrem. Ketidaksiapan secara peralatan, asupan kalori, dan stamina kemudian berakibat hipotermia.B. Insiden Jatuh: Tidak Kenal MusimBerbeda dengan hipotermia, insiden Jatuh tampaknya tidak dipengaruhi oleh cuaca. Pada bulan Mei, Juni, dan Agustus, yaitu saat jalur pendakian kering dan tidak licin, angka insidennya justru terpantau tinggi. Faktor psikologis pendaki seperti lengah, terburu-buru, merasa aman karena jalur kering atau nekat memotong jalur resmi menjadi pemicu paling dominan.C. Sebaran pada Kelompok UmurInsiden Hipotermia dan Jatuh dalam sebaran umur. Grafik dibuat oleh penulis.Grafik di atas menunjukkan bahwa kelompok umur 17–25 tahun mendominasi angka kecelakaan fatal dengan total 17 insiden Jatuh dan 20 insiden Hipotermia selama periode 2013–2025. Sebaliknya, angka kecelakaan terpantau jauh lebih rendah dan cenderung menurun secara signifikan pada kelompok usia yang lebih tua maupun anak-anak di bawah 12 tahun. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan bahwa puncak kerentanan terhadap dua ancaman utama di gunung tersebut berada pada fase usia remaja akhir hingga dewasa muda.Mengapa Kelompok Usia Muda Paling Rentan?Data demografi menunjukkan pola yang seragam: kelompok umur 17–25 tahun menjadi penyumbang korban jiwa terbesar, yakni menguasai hampir 40% (101 kematian) dari total keseluruhan tragedi di gunung. Di luar Jatuh dan hipotermia, kelompok usia ini juga mendominasi korban pada kasus Tersesat, Degradasi fisik, Tersambar petir, hingga Menghirup gas beracun.Statistik Kecelakaan dengan Kematian per Kelompok Umur. Grafik dibuat oleh penulis.Secara psikologis dan sosiologis, ada beberapa alasan fundamental mengapa fase usia ini sangat rentan di alam bebas:• Ego dan Minim Pengalaman: Remaja di rentang usia ini memiliki dorongan independensi dan kemandirian yang menggebu-gebu, namun tidak diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan mendaki gunung serta juga jam terbang yang memadai.• Pencarian Identitas: Proses pencarian jati diri kerap memicu pengambilan keputusan yang emosional dan impulsif di tengah situasi kritis.• Fear of Rejection (Takut Ditolak): Adanya kecemasan sosial atau rasa takut tidak diakui dan dihargai oleh kelompok sepergaulannya, membuat mereka sering memaksakan diri melampaui batas kemampuan hanya demi validasi lingkungan.Bergerak Maju: Mengubah Tragedi Menjadi PembelajaranRatusan nyawa yang hilang di jalur pendakian Indonesia sepanjang dekade terakhir merupakan alarm keras bagi dunia petualangan alam bebas kita. Data dengan gamblang memperlihatkan bahwa gunung tidak pernah menjadi musuh utama, melainkan ketidaksiapan, ego, dan kelalaian manusialah yang kerap kali berujung maut. Mendaki gunung sejatinya bukanlah ajang pembuktian diri yang instan demi sebuah validasi di media sosial ataupun di kehidupan sehari-hari, melainkan sebuah kegiatan terukur yang menuntut rasa hormat yang tinggi terhadap alam, kesiapan fisik yang matang, serta manajemen risiko yang mutlak.Ke depan, edukasi pendakian yang komprehensif harus digalakkan secara masif, terutama menyasar kelompok usia muda yang menjadi korban paling dominan. Standardisasi keamanan di setiap jalur pendakian, pengetatan registrasi, hingga kesadaran kolektif dari setiap individu untuk berani melatih diri sebelum mendaki adalah kunci utama. Hanya dengan mengubah cara pandang dan meningkatkan tanggung jawab, kita dapat menikmati keindahan megahnya puncak-puncak Indonesia tanpa harus mengorbankan nyawa.