Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan Pemda DIY, Kamis (30/4/2026). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanGubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta wisatawan untuk tidak mendaki puncak Gunung Merapi. Gunung tersebut hingga saat ini masih berstatus Level III atau Siaga."Tapi ya harapan saya bagi turis, ya bagi pendatang, dalam arti dia memang mau berwisata, nah itu saya mohon memang jangan naik ke atas (Gunung Merapi), kan gitu," kata Sultan ditemui di DPRD DIY, Kamis (2/7).Sementara untuk warga sekitar, Sultan menilai mereka sudah paham dengan kondisi Gunung Merapi."Kalau masyarakat sekitarnya kan sudah paham. Tapi pendatang yang belum, ya sekadar mau bervakansi, berlibur, lah belum tentu tahu kalau ada aktivitas Merapi. Ya hati-hati, sementara ini jangan naik, gitu aja," ujarnya.Sultan melanjutkan, pihak yang paling mengetahui kondisi terkini Gunung Merapi adalah Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG)."Ya memang sebetulnya kalau masyarakat sekitar Merapi itu paham. Iya kan? Dia pun juga tidak mau turun karena hanya mengalir aja (guguran dan awan panas) paling-paling dari atas 2 kilometer, 2,5 kilometer. Berarti tidak sampai pemukiman. Mereka sudah tahu sebetulnya," ujarnya.Sebelumnya, pendakian Gunung Merapi masih ditutup. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) kembali mengingatkan potensi bahaya Gunung Merapi saat ini."Kami ingin menegaskan kembali bahwa aktivitas pendakian di Gunung Merapi saat ini sangat tidak disarankan demi keselamatan. Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat terlempar hingga mencapai radius 3 kilometer dari puncak," kata Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (1/7).Jangkauan lontaran material jika terjadi erupsi eksplosif dapat mencakup area yang selama ini menjadi jalur maupun batas akhir pendakian."Sehingga sangat mengancam nyawa siapa pun yang berada di zona tersebut," katanya.Agus Budi meminta masyarakat dan pendaki memahami dinamika aktivitas Gunung Merapi."Merapi memang sedang berada dalam fase erupsi efusif, yang ditandai dengan keluarnya magma ke permukaan secara perlahan. Namun, justru dalam kondisi inilah potensi terjadinya erupsi eksplosif sewaktu-waktu tetap tinggi. Bahaya ini dapat terpicu apabila jalan keluar magma mengalami sumbatan secara tiba-tiba," katanya.Ia menjelaskan sumbatan itu akan menyebabkan akumulasi tekanan gas yang kuat di dalam kawah. Pada akhirnya, kondisi tersebut dapat melepaskan energi berupa erupsi eksplosif secara mendadak."Kewaspadaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan didasarkan pada data historis aktivitas vulkanik Merapi itu sendiri," katanya."Dalam catatan tiga abad terakhir, Gunung Merapi pernah menunjukkan lima tipe erupsi yang berbeda, dan faktanya, tipe erupsi yang bersifat eksplosif adalah yang paling sering terjadi. Bahkan, pasca-erupsi 2010, telah tercatat 32 kali erupsi eksplosif yang didominasi oleh erupsi freatik. Oleh karena itu, selama potensi ancaman ini masih tinggi, penutupan aktivitas pendakian di daerah potensi bahaya merupakan langkah mitigasi utama yang harus dipatuhi," tegasnya.