Ketika Guru Tak Lagi Didengar: Pelajaran Sosiologis dari Teach You a Lesson

Wait 5 sec.

“Kalau guru sudah takut menegur, siapa yang akan mendidik?”Pertanyaan yang muncul setelah menonton serial Korea berjudul Teach You a Lesson rilis tahun 2026. Dibalik adanya berbagai adegan aksi dalam serial tersebut, tetapi memiliki makna yang mendalam tiap episodenya. Serial tersebut menyampaikan sebuah kritik yang tajam terhadap dunia pendidikan. Serial yang tidak hanya menggambarkan tentang siswa yang melanggar aturan, justru serial ini juga membahas tentang sekolah yang perlahan kehilangan wibawa sebagai tempat untuk membentuk karakter pada siswa.Tokoh bernama Na Hwa-jin, ia adalah seorang penyidik di bidang Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP) dibawah naungan Kementrian Pendidikan. Pada serial tersebut, penonton diperlihatkan dengan berbagai konflik yang terjadi di sekolah, seperti perundungan, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga campur tangan orang tua yang membuat guru kesulitan dalam menerapkan aturan. Walau terlihat dramatis, tetapi justru persoalan ini sangat dekat dengan realitas pendidikan di Indonesia saat ini.Di Indonesia, persoalan seperti pada serial tersebut juga masih menjadi sebuah tantangan. Berdasarkan data pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdapat 329 pengaduan kasus terkait kekerasan di lingkungan pendidikan per tahun 2023. Ternyata, kasus perundungan merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan dan banyak korban yang memilih untuk diam.Dalam kacamata sosiologi yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, sekolah seharusnya menjadi sebuah lembaga yang berfungsi untuk menanamkan nilai dan norma kepada generasi muda. Pendidikan sendiri bukan hanya sebagai jembatan ilmu saja tetapi juga membentuk karakter siswa untuk bisa hidup bersama dalam masyarakat. Jika seorang guru kehilangan akan wibawanya dan aturan sudah tidak lagi dihormati, maka fungsi sekolah yang tadinya sebagai agen sosialisasi justru akan ikut melemah.Pada serial Teach You a Lesson, guru juga digambarkan sebagai guru yang takut untuk bertindak karena khawatir akan menjadi sebuah permasalahan dan takut menimbulkan dampak negatif bagi gurunya karean sebagian siswa merasa memiliki kuasa yang lebih dari guru untuk bisa melanggar aturan tanpa menerima konsekuensi. Hal tersebut, memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya menghadapi tentang akademik saja tetapi juga tentang krisis otoritas dan nilai.Menurut teori Pierre Bourdieu, sekolah tidak selalu harus menempatkan dirinya sebagai ruang yang netral karena relasi kuasa terkadang menjadi pengaruh kuat bagaimana aturan diterapkan. Pada serial tersebut, siswa yang berasal dari keluarga yang memiliki pengaruh kuat cenderung diperlakukan berbeda dibandingkan siswa lain. Hal tersebut menggambarkan bahwa kekuasaan dapat memengaruhi sebuah keadilan di dunia pendidikan.Kalimat “Kalau guru takut murid, dunia akan hancur” pada serial Teach You a Lesson, sebenarnya memiliki sebuah pesan sederhana. Pendidikan seharusnya memiliki keseimbangan antara perlindungan siswa dengan kewenangan guru untuk bisa mendidik secara professional dan sesuai aturan yang berlaku. Disiplin tidak boleh digambarkan sebagai kekerasan tetapi juga tidak boleh dihilangkan karena kebebasan. Tanpa adanya aturan yang dihormati, sekolah justru akan kehilangan fungsinya sebagai tempat untuk membentuk karakter pada siswa.Pada serial ini, mengingatkan bahwa pendidikan bukan sepenuhnya tanggung jawab seorang guru melainkan juga tanggung jawab orang tua, sekolah, pemerintah dan juga masyarakat. Sekolah yang baik bukan cuman sekolah yang bebas dari masalah melainkan sekolah yang mampu menyelesaikan permasalahan dengan mengutamakan keadilan, tanggung jawab dan kemanusiaan.Di tengah meningkatnya tantangan pendidikan saat ini, mungkin pelajaran terbesar dari Teach You a Lesson bukanlah tentang bagaimana menghukum siswa yang melanggar aturan, melainkan bagaimana mengembalikan sekolah sebagai tempat yang dihormati oleh semua pihak. Karena ketika guru tak lagi didengar, yang dipertaruhkan bukan hanya wibawa sekolah, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.