Waduk Saguling yang jadi lokasi pembangunan PLTS Terapung Saguling. Foto: Dok. PLNPT PLN (Persero) berencana mempercepat pembangunan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik.Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan PLN akan memanfaatkan berbagai kerja sama untuk mengatasi keterbatasan lahan dan mengurangi biaya pokok penyediaan (BPP) listrik. Misalnya, PLTS yang membutuhkan lahan luas bisa dibangun di waduk atau danau.PLN rencananya akan membangun PLTS di waduk seluas 10.300 hektare di Pulau Jawa saja yang dapat menghasilkan listrik 10,3 GW peak, serta PLTS sekaligus Battery Energy Storage System (BESS) beberapa wilayah di Pulau Bali maupun di Pulau Madura untuk mengurangi konsumsi BBM."Penambahan PLTS menggunakan pemanfaatan waduk, yaitu 10.300 hektare atau 10,3 gigawatt hour, 3 gigawatt peak ditambah dengan 30 gigawatt hour (BESS), tentu saja karena ini adalah waduk, lahannya sudah tersedia dan tentu saja kami perlu bekerja sama dengan Kementerian PUPR dan Kementerian ESDM," jelasnya saat RDP Komisi XII DPR, Kamis (2/7).Pasalnya, Darmawan mengakui penggunaan PLTS dan BESS sangat sensitif dengan lahan, sehingga ketika harga lahan bisa mencapai Rp 200 ribu per meter, maka peningkatan harga listrik mencapai 1 sen per KWh."Jadi kalau harga lahannya Rp 600 ribu per meter, itu nambahnya 3 sen per kwh. Nah khusus untuk program ini, karena program ini tanah sudah disediakan oleh pemerintah dan juga menggunakan waduk-waduk, tentu saja ini membuat menjadikan program PLTS dan BESS menjadi program yang secara keekonomian menjadi sangat kompetitif," tutur Darmawan.Ke depannya, program ini akan menambah kapasitas hingga 19,1 GW sampai 2030, yang diharapkan dapat memfasilitasi bukan hanya penguatan daya listrik di Pulau Jawa, tapi juga meningkatkan keandalan dan mengurangi konsumsi BBM yang berbasis pada impor.Selain itu, PLN juga berencana membangun super teknologi green corridor, berupa proyek PLTS dan PLTB, dengan memanfaatkan lahan di pinggir jalan tol, misalnya di tol milik PT Jasa Marga (Persero). Salah satunya akan berjalan di jalan tol Bali Mandara."Jalan tol milik Jasa Marga dengan panjang 802 kilometer, apabila di kedua sisi lebarnya sekitar 3-5 meter, maka ada sekitar 400 sampai 500 hektare, artinya ini ada 0,5 gigawatt peak, dan tentu saja artinya dikalikan tiga, kami bisa menambah BESS sebesar 1,5 gigawatt hour," jelas Darmawan.