Foodbank Bandung (sumber foto: keylasuryaputri)Di sebuah sudut hotel berbintang di kawasan Bandung, makanan masih tersusun rapi di meja prasmanan. Ayam bakar, kentang goreng, tumis sayuran, hingga potongan buah dan kue tampak masih segar dan layak makan. Tanpa ada yang menjemputnya, semua itu akan berakhir di tempat sampah sebelum siang benar-benar usai.Namun, pagi itu seseorang datang menjemputnya.Sebuah Pertanyaan dari Belanda yang Mengubah SegalanyaGumilang Pramuwidyatama tidak pernah membayangkan akan mendirikan sebuah “bank”, apalagi bank yang menyimpan makanan, bukan uang. Hidup membawanya ke sebuah pengalaman yang perlahan mengubah cara pandangnya.Ia dan istrinya, Gendis, pernah tinggal di Wageningen, kota kecil di Belanda yang dikenal sebagai pusat ilmu pangan dan pertanian. Di sana, mereka aktif menjadi relawan di food bank setempat, sebuah lembaga yang mengumpulkan makanan surplus untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan.Dari pengalaman itulah, satu pertanyaan sederhana terus muncul di benak mereka: Mengapa hal seperti ini tidak dikembangkan di Bandung?“Kami lihat potensinya ada di mana-mana,” ujar pria yang akrab disapa Gumi itu. “Di kota besar, makanan surplus ada di mana-mana. Kalau tidak didonasikan, akhirnya jadi sampah. Padahal di saat yang sama, masih banyak orang yang lapar.”Kalimat itu lahir dari ironi yang benar-benar terjadi. Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pemborosan makanan yang tinggi. Jutaan ton makanan terbuang setiap tahun, sementara di kota yang sama, banyak orang masih kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Sebuah ironi yang akhirnya membuat Gumilang memilih untuk tidak hanya diam menatapnya.Mengawali Langkah dari Masyarakat SekitarFoodbank Bandung lahir bukan dari kantor besar atau pendanaan melimpah, melainkan dari langkah kecil yang dimulai di kampung-kampung binaan sekitar Bandung.Saat itu, Gumilang dan tim mendatangi kader-kader posyandu untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Banyak keluarga kehilangan pekerjaan, sementara kebutuhan pangan terus berjalan. Anak-anak yang sebelumnya sudah rentan gizi buruk menjadi semakin rawan karena orang tua mereka kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.“Kami mulai sangat kecil sekali,” kenang Gumilang. “Kami mulai dengan kader posyandu di beberapa kampung binaan, karena banyak informasi bahwa banyak orang tua yang di-PHK.”Di titik itulah persoalan itu terasa begitu nyata. Bukan lagi sekadar data statistik atau angka kemiskinan, melainkan wajah seorang ibu yang kebingungan memikirkan makanan untuk anaknya esok pagi.Bank Itu Nyata, Tapi yang Disimpan Bukan UangSistem yang dijalankan Foodbank Bandung sesederhana namanya, sebuah bank. Bedanya, yang disimpan bukan uang, melainkan makanan surplus.Sumbernya datang dari berbagai tempat, mulai dari pertanian, gudang distributor, gerai ritel, hotel, hingga rumah tangga yang memiliki kelebihan bahan pangan. Dari seluruh mitra tersebut, hotel menjadi salah satu penyumbang terbesar.Hingga kini, empat hotel di kawasan Dago telah bekerja sama dengan Foodbank Bandung. Dari sana, sekitar lima hingga enam kuintal makanan surplus berhasil diselamatkan setiap bulan. Artinya, ratusan kilogram makanan yang seharusnya berakhir menjadi limbah berhasil dialihkan menjadi bantuan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan.“Kita mulai dari satu hotel, terus akhirnya jadi empat hotel,” kata Gumilang. “Bayangkan kalau nanti kita bisa menjangkau seluruh hotel di Bandung.”Menyelamatkan Sebelum TerlambatPagi masih dingin ketika para relawan Foodbank Bandung tiba di belakang salah satu hotel mitra di kawasan Dago. Tidak ada seremonial, tidak ada sorotan kamera. Hanya beberapa relawan dengan sepeda motor, membawa kontainer besar dan kantong-kantong bersih yang telah disiapkan sebelumnya.Dari dapur hotel, makanan yang masih layak sudah dipisahkan. Lauk-pauk, nasi, buah, hingga aneka kue. Satu per satu makanan diperiksa kembali. Aromanya, tampilannya, hingga kondisi wadahnya di cek dengan teliti. Tidak semua bisa lolos.Makanan yang masih baik dimasukkan ke dalam kontainer dan dicatat jumlahnya. Sementara makanan yang kurang layak, dijadikan pakan maggot agar tidak terbuang sia-sia.Perjalanan kemudian berlanjut menuju basecamp Foodbank Bandung. Di tempat inilah denyut utama operasional mereka berlangsung.Proses seleksi makanan oleh Foodbank Bandung (sumber foto: keylasuryaputri)Begitu kontainer tiba, para relawan langsung bergerak cepat. Meja panjang telah disiapkan. Wadah-wadah bersih berjajar rapi. Makanan dipilah kembali, sebagian langsung dibagikan hari itu juga, sebagian lain diporsi ulang agar bisa menjangkau lebih banyak orang.Nasi dan lauk dibungkus satu per satu. Buah dimasukkan ke dalam kantong-kantong kecil. Semua diberi label, semua dijaga kebersihannya. Suasananya ramai, tetapi tetap teratur, menyerupai dapur umum yang bekerja dengan sepenuh hati.Di Ujung Perjalanan, Ada Wajah-Wajah yang MenungguSetelah semua siap, distribusi dimulai. Para relawan berpencar menuju berbagai titik, salah satunya panti asuhan yang menjadi mitra Foodbank Bandung.Di ujung perjalanan itu, selalu ada wajah-wajah yang menunggu.“Bersyukurlah ada program bantuan seperti ini. Bantuan ini sangat berarti buat anak-anak panti. Saya tahu betul artinya bantuan ini buat mereka,” ujar Ida, salah satu kader posyandu mitra Foodbank Bandung.Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan. Para relawan pun membawa pulang pengalaman yang mengubah cara pandang mereka.“Ada rasa syukur yang susah dijelasin setiap kali ngajak anak-anak ikut menjadi relawan di Foodbank Bandung,” tutur Dyah, salah satu pengelola yayasan homeschooling di Bandung. “Lihat mereka memilah makanan, mengemas, sampai nyiapin bantuan buat dibagiin, rasanya senang sekali. Mereka jadi belajar bahwa hal-hal sederhana, bisa bikin senyuman untuk anak anak yang membutuhkan. Buat saya, dua hal itu adalah bagian yang paling membahagiakan.”Bagi Dyah, momen yang paling membekas bukan hanya saat melihat anak-anak binaannya sibuk mengangkat kontainer atau membungkus makanan, tetapi juga ketika menyaksikan senyum anak-anak di panti asuhan saat menerima bantuan.Tembok Terbesar: KetidakpercayaanNamun, perjalanan Foodbank Bandung tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar mereka bukan sekadar keterbatasan logistik, melainkan ketidakpercayaan.“Tantangan terbesar masih banyak perusahaan yang belum kenal atau belum menerima sistem bank makanan,” ujar Gumilang. “Untuk mengajak mereka mendonasikan makanan surplus masih perlu waktu panjang dan edukasi.”Sebagian perusahaan khawatir terhadap tanggung jawab hukum apabila makanan yang didonasikan menyebabkan masalah kesehatan. Sebagian lainnya takut reputasi merek mereka terdampak.Hambatan seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan semangat. Dibutuhkan dialog, pendampingan, dan proses edukasi yang panjang.Namun perlahan, angin mulai berpihak. Pada akhir 2023, Gubernur Jawa Barat mengeluarkan surat edaran yang mengimbau pelaku usaha untuk menyelamatkan makanan surplus dan menyalurkannya melalui food bank maupun organisasi sosial lainnya. Badan Pangan Nasional juga menggulirkan program Gerakan Selamatkan Pangan.Bagi Gumilang, langkah itu menjadi tanda bahwa gerakan penyelamatan pangan mulai dipandang sebagai bagian penting dari ketahanan pangan nasional.Mimpi yang Kini Punya Peta JalanDi masa depan, mereka ingin melihat lebih banyak kota yang saling menjaga, bukan membiarkan makanan terbuang begitu saja. Foodbank Bandung ingin memperluas program food drive bersama komunitas, menjalin lebih banyak kemitraan dengan usaha lokal di Bandung dan Jawa Barat, hingga membuka cabang di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.Dari meja-meja yang nyaris melupakannya, makanan itu menemukan jalan pulang menuju mereka yang paling membutuhkannya.