● Pengurangan emisi sudah tak bisa lagi disepelekan mengingat krisis iklim yang kian nyata.● Aplikator mulai menginisiasi fitur hijau seperti kendaraan hemat emisi dan memberi opsi kemasan.● Namun hingga kini dampaknya belum signifikan, perlu ada pembenahan lebih lanjut.Memesan kendaraan antar jemput lewat aplikasi ride-hailing kini tak terpisahkan dari hidup banyak orang, khususnya warga kota. Mau bepergian, makan, kirim dokumen, dan belanja bulanan bisa dilakukan kapan dan di mana saja hanya dengan beberapa ketukan jempol saja. Namun, layanan ini ikut menambah ramai kendaraan di jalan yang berarti adanya peningkatan konsumsi bahan bakar, kemacetan, dan emisi.Untuk merespons masalah tersebut, sejumlah platform transportasi digital mulai menawarkan program ramah lingkungan. Ada yang mendorong penggunaan kendaraan listrik, menawarkan opsi carbon-neutral, atau mengajak pengguna berkontribusi pada program pengurangan emisi.Masalahnya, menyediakan fitur hijau di aplikasi juga tidak otomatis membuat pengguna ikut berpartisipasi. Banyak pengguna mungkin melihat pilihan ini, tetapi mengabaikannya. Sebagian lain mungkin bertanya: apakah kontribusi ini benar-benar berdampak? Apakah perusahaan sungguh-sungguh peduli pada lingkungan, atau polesan citra hijau saja?Perlu ada bukti pada konsumenDalam layanan ride-hailing, pengguna adalah konsumen pasif. Mereka membuka aplikasi, memilih tujuan, membayar, lalu duduk manis dan sampai ke tempat tujuan. Dengan kata lain, proses penyediaan layanan menjadi tanggung jawab platform dan pengemudi. Pengguna hanya menerima manfaatnya.Namun, dalam program keberlanjutan, posisi pengguna harus didorong menjadi lebih aktif. Kita memilih opsi kendaraan yang lebih rendah emisi, berdonasi untuk penanaman pohon, atau mengikuti tantangan mengurangi jejak karbon.Di sinilah tantangannya. Bagaimana cara mengajak masyarakat untuk ikut secara sukarela menciptakan nilai lingkungan bersama platform atau disebut green customer co-creation behavior.Supaya warga semakin banyak terlibat, kampanye hijau tidak cukup hanya memakai slogan seperti “ramah lingkungan” atau “selamatkan Bumi”. Pengguna butuh melihat bukti yang lebih jelas: sejauh mana perhitungan kontribusi mereka, ke mana dana disalurkan, program apa yang didukung, serta dampak yang terukur.Jika informasi seperti ini tidak tersedia, pengguna bisa meragu. Bahkan, mereka bisa menganggap program hijau hanya gimik marketing semata. Kecurigaan terhadap potensi greenwashing bisa muncul dan ini bukan tanpa alasan. Dalam banyak sektor, klaim ramah lingkungan sering dipakai untuk memperbaiki citra tanpa perubahan operasional yang berarti. Fitur hijau dalam aplikasi adalah langkah awal. Baca juga: Nasib ojol di tengah cuaca ekstrem: Panas kepanasan, hujan kehujanan Jadi intinya, fitur hijau saja tidak cukup. Pengguna perlu percaya bahwa perusahaan bertindak etis, programnya transparan, dan kontribusi mereka benar-benar menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar. Kepercayaan saja belum cukupTemuan krusial dalam riset kami adalah kepercayaan (300 pengguna yang kami wawancara) terhadap reputasi suatu platform/brand memang penting, tetapi bukan faktor yang langsung membuat pengguna memilih opsi hijau.Kepercayaan hanya membuka pintu. Tetapi agar pengguna benar-benar bertindak, kepercayaan perlu berubah menjadi nilai, keyakinan, dan norma pribadi. Mereka perlu meyakini perjalanan harian punya dampak terhadap lingkungan. Karena dinamika penggunaan aplikasi ride-hailing tergolong cepat, desain aplikasi berperan besar. Tentunya, pengguna tidak punya waktu lama untuk membaca penjelasan panjang tentang emisi. Karena itu, aplikator perlu menerjemahkan komitmen lingkungan ke dalam desain yang sederhana dan berguna. Misalnya, aplikasi bisa menampilkan ringkasan dampak bulanan pengguna atau menunjukkan kemajuan kolektif pengguna di satu kota. Para aplikator juga bisa memberi pengingat setelah perjalanan, seperti bahwa pengguna telah ikut mendukung opsi mobilitas rendah emisi bersama pengguna lain yang bisa dihiasi dengan gamifikasi dan promo menarik bagi pengguna. Pengguna tetap perlu tahu apa arti partisipasi mereka secara konkret. Jika tidak, fitur hijau hanya menjadi ornamen aplikasi. Baca juga: Krisis ojol: Promo selalu mencekik pengemudi, jam-jam padat malah bikin rugi Tak boleh membebankan penggunaHal yang perlu menjadi catatan kritis adalah perusahaan bisa saja terlihat seolah-olah sudah “hijau” hanya karena menyediakan pilihan bagi pengguna untuk membayar kontribusi lingkungan.Namun, tanggung jawab utama tetap ada pada perusahaan dengan memperbaiki operasi seperti mengurangi perjalanan kosong, memperbaiki efisiensi algoritma, mendukung kendaraan rendah emisi, memberi insentif yang adil bagi pengemudi, dan memastikan program carbon-neutral benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.Partisipasi pengguna sebaiknya dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti tanggung jawab korporasi. Dengan kata lain, pengguna dapat menjadi mitra dalam menciptakan nilai lingkungan. Mereka tidak boleh dijadikan alat untuk menutup kekurangan strategi keberlanjutan perusahaan.Inilah mengapa etika menjadi sangat penting. Pengguna akan lebih bersedia berpartisipasi jika mereka melihat perusahaan tidak hanya meminta kontribusi, tetapi juga melakukan perubahan nyata dari sisi operasional.Pembelajaran ke depanTemuan ini punya implikasi lebih luas bagi masa depan transportasi kota.Pertama, keberlanjutan dalam ride-hailing tidak cukup dibahas sebagai persoalan teknologi. Kendaraan listrik, algoritma yang lebih efisien, dan program pengurangan emisi memang penting. Namun, perilaku pengguna juga menentukan apakah fitur hijau digunakan secara konsisten.Kedua, komunikasi keberlanjutan harus lebih spesifik. Platform perlu menjelaskan program hijau dengan bahasa sederhana, data yang dapat diverifikasi, dan mekanisme yang mudah dipahami.Ketiga, perusahaan perlu membangun norma sosial yang sehat. Pilihan hijau sebaiknya ditampilkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, bukan sebagai beban individual semata.Keempat, pemerintah dan regulator juga punya peran. Mereka dapat mendorong standar transparansi untuk klaim lingkungan dalam aplikasi digital, termasuk bagaimana program carbon-neutral dihitung, diaudit, dan dilaporkan kepada publik.Tanpa standar yang jelas, pengguna akan sulit membedakan antara komitmen lingkungan yang serius dan promosi hijau yang dangkal. Baca juga: Pesan makanan ‘online’ memang memudahkan, tapi berdampak buruk bagi kesehatan Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.