IHSG Anjlok Lebih dari 3%, Analis Soroti Jual Bersih Investor Asing

Wait 5 sec.

Pengunjung mengamati layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama SIndeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka langsung terperosok pada perdagangan Selasa (30/6). Hingga pukul 09.35 WIB, IHSG anjlok 175,95 poin atau 3,02 persen ke level 5.644,84 setelah sempat dibuka di posisi 5.801,45.Berdasarkan data RTI, sejak awal sesi, tekanan jual mendominasi pergerakan pasar. IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.811,67, tetapi kemudian terus melemah hingga menyentuh level terendah di 5.644,63.Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menyatakan pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini dipicu minimnya katalis positif yang mampu menggerakkan pasar.Menurutnya, pelaku pasar masih bersikap hati-hati karena belum ada rilis data makroekonomi domestik, sementara sejumlah indikator penting seperti inflasi, neraca perdagangan, dan indeks PMI manufaktur baru akan diumumkan pada 1 Juli.“Di sisi lain kita melihat prospek perdagangan terakhir AS dan Iran setelah kedua negara ini saling melancarkan serangan militer yang akan diakibatkan terjadi perbedaan tafsir, kepercayaan perdagangan khususnya sedikit dari Selat Hormuz,” kata Nafan saat dihubungi kumparan.Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanNafan juga menyoroti masih derasnya aksi jual asing atau foreign sell oleh investor asing di pasar saham Indonesia yang secara kumulatif telah melampaui Rp 80 triliun.“Ibaratnya IHSG itu sudah diguyur karena kalau secara bobot indeks kita, ya, bobot indeks Indonesia misalnya di MSCI saja sudah menurun di 0,45 persen misalnya, kan,” ucap Nafan.Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai sentimen perdagangan hari ini lebih banyak dipengaruhi oleh sikap wait and see investor terhadap hasil penilaian dari lembaga pemeringkat S&P.“Belum lagi memang situasi dan kondisi dalam negeri yang tidak kunjung membaik. Amerika dan Iran, mulai kembali pembicaraan, namun kita justru masih seperti enggan untuk berinvestasi,” ucap Nico kepada kumparan.Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama SIa mengungkapkan, meski pembicaraan antara AS dan Iran mulai kembali berlangsung dan mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat, IHSG justru terkoreksi tajam. “Itu artinya, ada yang salah dengan kebijakan kita, sebuah kebijakan yang harus diperbaiki, tapi juga memikirkan posisi kita sebagai Emerging Market, yang suka atau tidak suka masih membutuhkan investor asing,” tutur Nico.Ia menilai, perubahan kebijakan tetap diperlukan, tetapi sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang mampu menjaga kepercayaan pasar tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap IHSG.“IHSG secara jangka pendek masih akan mengalami tekanan dengan rentang 5.520 hingga 5.740,” sebut Nico.