Ironi seni ‘Didong’ Gayo: Ramai di festival tapi minim fungsi sosial

Wait 5 sec.

● Bencana alam di dataran tinggi Gayo, Aceh, diperparah oleh hilangnya batasan budaya dalam memperlakukan alam.● Kesenian ‘Didong’ yang dulunya menjadi kontrol sosial kini bergeser menjadi sekadar tontonan dan ajang kompetisi.● Fungsi sosial ‘Didong’ harus dihidupkan kembali sebagai media kritik dan edukasi untuk merespons krisis ekologis saat ini.Banjir dan longsor yang kembali berulang di kawasan dataran tinggi Gayo, Aceh dalam beberapa tahun terakhir tidak lagi dapat dipahami semata sebagai peristiwa alam.Di balik air yang meluap, lereng yang runtuh, dan hutan yang terus menyusut tersimpan perubahan lain: melemahnya ruang-ruang budaya yang dulu mengingatkan masyarakat tentang batas dalam memperlakukan alam.Dahulu, ada bunyi tepukan yang sering terdengar di malam hari. Tepukan itu merupakan bagian dari Didong, seni pertunjukan tradisional Gayo yang mengintegrasikan musik tubuh, seni suara, sastra lisan, dan tepukan ritmis sebagai sarana ekspresi budaya, pembentukan identitas masyarakat, serta pewarisan nilai-nilai sosial dan budaya kepada generasi berikutnya.Orang-orang berkumpul selepas Isya. Ada yang duduk di tikar, ada yang berdiri di pinggir gelanggang sambil menyeruput kopi. Anak-anak berlarian di sela penonton. Di tengah lingkaran, seorang pelantun syair, atau ceh, melantunkan syair tentang hidup, adat, kampung, juga tentang hutan yang tidak boleh diperlakukan semaunya.Puluhan tahun berlalu, suara-suara Didong kini semakin jarang terdengar di tengah pembabatan alam Gayo di berbagai wilayah. Sementara itu bencana ekologis semakin sering menjadi bagian dari pengalaman masyarakat. Hutan perlahan semakin dekat dengan logika komoditas daripada ruang hidup bersama.Dalam situasi seperti inilah, perangkat-perangkat budaya seperti Didong perlu dikembalikan fungsinya sebagai pengingat bahwa ada hubungan moral yang menghubungkan manusia dengan hutan, tanah, dan air yang menopang kehidupannya.Kritik berbalut hiburanDidong lebih dari sekadar hiburan. Dia adalah ruang pergulatan rasa dan pikiran masyarakat Gayo. Melalui syair, para ceh menyampaikan kritik tentang kehidupan kampung, hubungan sosial, bahkan keputusan-keputusan yang dianggap merugikan masyarakat.Kritik tersebut tidak hadir dalam bentuk kemarahan. Ia disampaikan melalui sindiran, humor, permainan kata, dan kehalusan bahasa yang membuat orang merenung tanpa merasa dipermalukan.Salah satu syair yang masih dikenang hingga kini adalah Uten karya Ceh Sali Gobal pada dekade 1960-an:“Donya munaos laguAtu tareng penghalang.”(Dunia membuat lagu hanya tinggal batu yang menjadi penghalang)Menurut Ceh Sukri dari kelompok Kemara Bujang*kelompok apakah ini?* dalam salah satu sesi wawancara dengan penulis, syair tersebut lahir setelah pembukaan hutan memicu banjir besar di wilayah Gayo. Kegelisahan yang disampaikan tidak berhenti pada persoalan pohon. Syair tersebut berbicara tentang hilangnya pelindung hidup masyarakat ketika alam mulai diperlakukan tanpa kendali.Seorang ceh bukanlah sekadar pelantun syair. Ia dituntut peka terhadap perubahan sosial, kemampuan mengolah simbol, dan keberanian menyuarakan kegelisahan kolektif masyarakatnya.Dalam konteks itu, Didong bekerja sebagai perangkat kontrol sosial.Melalui syair, masyarakat diingatkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Alih fungsi ‘Didong’Festival budaya memang terus melestarikan Didong. Generasi muda masih antusias memainkannya. Bahkan dalam banyak hal, pertunjukannya kini lebih meriah dibanding masa lalu.Namun, konteks sosial tempat Didong hidup terus berubah. Selain menjadi ruang penyampaian pesan sosial, Didong kini juga hadir sebagai pertunjukan budaya dan ajang kompetisi yang menonjolkan kemampuan vokal, kreativitas syair, serta kekompakan kelompok.Tradisi tetap hidup, tetapi tantangan yang dihadapinya tidak lagi sama. Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, pertanyaan yang penting diajukan adalah sejauh mana Didong masih diberi ruang untuk menjalankan fungsi reflektifnya sebagai media yang mengajak masyarakat memikirkan persoalan-persoalan bersama, termasuk hubungan mereka dengan lingkungan.Dalam situasi semacam itu, pembicaraan mengenai Didong tidak cukup berhenti pada upaya mempertahankan bentuk pertunjukannya. Menjaga agar fungsi sosial yang hidup di dalamnya tetap relevan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tak kalah penting.Menghidupkan kembali makna ‘Didong’Fungsi tersebut sesungguhnya belum sepenuhnya hilang. Ketika gelombang penolakan tambang muncul di wilayah Gayo pada 2019, para ceh kembali melantunkan syair tentang kerusakan alam, hilangnya ruang hidup, dan kegelisahan masyarakat terhadap masa depan kampung mereka. Momen itu memperlihatkan bahwa Didong masih memiliki tenaga sosial. Sayangnya, momen semacam itu semakin jarang muncul.Karena itu, Didong tidak boleh berujung pada festival budaya atau slogan pelestarian tradisi. Mengembalikan fungsi sosial Didong setidaknya membuka kembali ruang agar syair-syair Didong dapat merespons persoalan yang sedang dihadapi masyarakat hari ini.Festival dan perlombaan Didong, misalnya, dapat memberi ruang lebih besar bagi tema-tema tentang lingkungan, tata kelola sumber daya alam, dan masa depan kampung. Sekolah, lembaga adat, dan komunitas budaya juga dapat melibatkan para ceh dalam pendidikan lingkungan berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, Didong tidak hanya diwariskan sebagai kesenian, tetapi juga sebagai sarana refleksi bersama.Di saat yang sama, pemerintah daerah perlu melihat Didong bukan semata sebagai agenda kebudayaan, melainkan sebagai ruang dialog publik yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat tentang persoalan sosial dan ekologis yang mereka hadapi.Sebab masyarakat Gayo mungkin tidak sedang kehilangan Didong sebagai pertunjukan. Yang perlahan menjauh justru kebiasaan mendengar kembali nasihat-nasihat yang hidup di dalamnya.Artikel ini merupakan hasil kolaborasi diseminasi sains para pakar bersama CommsLab.