Sering konsumsi pangan ultraproses dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus

Wait 5 sec.

● Kebiasaan konsumsi pangan ultraproses (UPF) dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker usus.● UPF diduga bisa merusak fungsi usus dan menyebabkan peradangan berulang yang memicu kanker.● Untuk mencegah risiko ini, kita bisa memilih makanan dengan pengolahan seminim mungkin.Kanker usus adalah salah satu jenis kanker paling mematikan di Indonesia. Kanker usus besar (kolorektal), misalnya, menyebabkan 19.255 kematian menurut data Global Cancer Observatory 2022.Sejumlah penelitian mengungkapkan peningkatan risiko kematian akibat kanker usus ada hubungannnya dengan gaya hidup tidak sehat, termasuk kebiasaan mengonsumsi pangan ultraproses (UPF). UPF adalah makanan siap saji yang mengandung bahan makanan tambahan dari proses industrialisasi, seperti pemanis buatan, pewarna makanan, pengubah tekstur, dan bahan pengawet. Contoh pangan ini meliputi produk daging olahan siap saji (seperti sosis atau nugget) hingga makanan dan minuman kemasan di minimarket.Hubungan UPF dengan risiko kanker ususStudi kohort di Amerika Serikat yang rilis tahun 2025 menemukan bahwa perempuan yang sering mengonsumsi pangan ultraproses berisiko tinggi kena kanker usus jenis adenoma. Kanker ini tumbuh di lapisan dinding usus.Riset tersebut menganalisis data konsumsi 29 ribu perawat perempuan usia kurang dari 50 tahun selama 24 tahun (1991 — 2015).Hasilnya, sebanyak 1.189 perempuan mengalami kanker usus jenis adenoma karena kebiasaan mengonsumsi UPF sebanyak 34,8% dari total kebutuhan kalori. Jumlah ini setara 5 — 6 porsi UPF per hari.Peneliti menemukan bahwa UPF merupakan faktor pemicu kanker tunggal, meskipun sudah mempertimbangkan faktor risiko lainnya. Misalnya, berat badan, penyakit diabetes, dan pola makan peserta.Studi kohort lainnya di AS yang rilis pada 2022 menemukan bahwa sering konsumsi makanan siap saji memicu 3.216 kasus kanker usus besar. Penelitian ini menganalisis data lebih dari 46 ribu tenaga kesehatan laki-laki dan perempuan selama 28 tahun (1986-2014).Hasil riset tersebut tetap konsisten meski peneliti sudah mempertimbangkan indeks massa tubuh dan kualitas pola makan peserta.Meski mekanismenya dalam menyebabkan kanker belum sepenuhnya dipahami, bahan kimia dalam makanan ultraproses diduga bisa merusak fungsi penyerapan nutrisi usus, serta memicu peradangan terus-menerus (termasuk melalui obesitas)—yang dalam jangka panjang menyebabkan sel-sel usus membelah lebih cepat menjelma kanker.Temuan ini perlu diantisipasi masyarakat, mengingat Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menemukan bahwa 48% kaum muda berusia 15-34 tahun di Tanah Air mengonsumsi daging olahan berpengawet dan minuman manis lebih dari sekali per pekan.Pentingnya membatasi konsumsi pangan ultraprosesKendati sejumlah studi menemukan hubungan antara konsumsi makanan ultraproses dengan risiko kanker, sejumlah ahli nutrisi menilai bahwa temuan tersebut belum bisa sepenuhnya membuktikan UPF sebagai penyebab tunggal kanker secara langsung. Sebab, belum pernah ada uji coba terkontrol secara acak (membandingkan satu kelompok dengan plasebo) untuk mengetahui dampak mengonsumsi makanan ultraproses menyebabkan kanker atau tidak. Secara etis, tidak mungkin riset secara acak membagi orang ke dalam kelompok yang mengonsumsi UPF dalam jumlah sangat besar sepanjang hidup mereka.Namun, karena berbagai dampak UPF terhadap kesehatan sudah dikenal luas, kita tetap perlu bijaksana dalam membatasi asupan makanan padat energi, tapi miskin nutrisi tersebut.Cegah risiko kanker dari dapurSaat ini kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menghindari pangan ultraproses. Akan tetapi, kita bisa memilih makanan dengan pengolahan seminim mungkin.Kita bisa memulainya dari rumah dengan membuat sendiri makanan sehat bergizi seimbang, tanpa campuran pengawet, penambah rasa, ataupun pewarna makanan. American Institute for Cancer Research (AICR) merekomendasikan untuk lebih banyak mengonsumsi sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh. Kalaupun ingin makan daging, konsumsilah daging utuh.Rekomendasi AICR ini efektif dalam mengurangi risiko terkena beberapa jenis kanker sebanyak 60%.Jika ingin membuat makanan bertahan sedikit lebih lama, kita bisa mencampurkan garam, gula, dan bahan-bahan dasar di dapur sebagai pengawet alami. Makanan yang proporsional membatasi penggunaan garam dapur 1 sendok teh dan gula 4 sendok makan per hari. Selain itu, olah makanan pakai minyak goreng maksimal 2 sendok makan per hari. Hindari penggunaan minyak trans alias minyak yang berkali-kali digunakan untuk menggoreng makanan.Mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang yang minim pengolahan tak hanya bermanfaat mengurangi risiko kita terkena kanker, tetapi juga bahaya penyakit mematikan lainnya.Sani Rachman Soleman tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.