KKN dan Makna Pengabdian yang Perlu Ditinjau Ulang

Wait 5 sec.

Foto Ilustrasi: Nadia Azzahra FauziSetiap semester genap tiba, ada satu kegiatan yang sering membuat mahasiswa tingkat akhir mulai memperhitungkan: Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ini bukan karena takut akan penempatan di lokasi terpencil atau harus beradaptasi dengan situasi baru, tetapi karena satu pertanyaan yang nyaris selalu muncul sejak awal persiapan: dari mana dananya?Bagi banyak mahasiswa, KKN adalah kesempatan belajar yang berharga. Mereka belajar untuk hidup di tengah masyarakat, memahami masalah yang terjadi, bekerja dalam tim, dan merancang program yang diharapkan dapat memberi manfaat bagi desa yang mereka layani. Namun, di balik niatan mulia tersebut, ada isu yang jarang dibahas secara terbuka, yaitu besar biaya yang harus ditanggung mahasiswa selama KKN.Di berbagai universitas, cara pembiayaan KKN bervariasi. Beberapa kampus memberikan dukungan dana, sementara yang lain membebankan mayoritas kebutuhan operasional kepada mahasiswa. Hasilnya, banyak kelompok KKN beralih kepada iuran bersama untuk memenuhi berbagai keperluan, mulai dari transportasi menuju lokasi, sewa atau kebutuhan posko, konsumsi, hingga implementasi program kerja. Tak jarang juga mereka harus mencari sponsor atau menggalang dana agar kegiatan yang telah direncanakan dapat berlangsung.Kondisi ini menimbulkan pertanyaan yang cukup penting. Jika KKN merupakan bagian dari kurikulum resmi di perguruan tinggi dan merupakan syarat untuk kelulusan, mengapa masalah pendanaan sering kali harus dicari solusinya oleh mahasiswa sendiri?Isu tidak berhenti pada biaya saja. Mahasiswa juga dihadapkan pada tanggung jawab untuk merencanakan program yang diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Harapan tersebut tentu baik. Namun dalam praktiknya, banyak program yang tidak dapat berjalan setelah KKN berakhir. Banyak kegiatan yang terhenti saat mahasiswa kembali ke kampus, tidak ada pendampingan lanjutan atau mekanisme keberlanjutan yang jelas. Akibatnya, program yang telah direncanakan dengan usaha, waktu, dan biaya yang tidak sedikit sering kali hanya memberikan hasil yang bersifat sementara.Di sisi lain, mahasiswa juga perlu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi di lapangan. Tinggal di lingkungan baru berarti menghadapi keterbatasan fasilitas, akses transportasi, masalah sanitasi, hingga perbedaan kondisi tempat tinggal dibandingkan dengan keseharian mereka. Tantangan semacam ini merupakan bagian dari proses pembelajaran. Namun, ketika keseluruhan risiko tersebut juga disertai dengan beban finansial yang besar, sangat wajar jika muncul pertanyaan mengenai sejauh mana kampus telah memastikan bahwa mahasiswa mendapatkan dukungan yang cukup selama KKN.Masalah lain yang juga krusial adalah ketidakkonsistenan kebijakan antarkampus. Di beberapa universitas, pengalaman magang atau kegiatan lain yang memiliki aspek pengabdian kepada masyarakat dapat diakui sebagai bentuk pembelajaran setara dengan KKN. Di tempat lain, kebijakan tersebut mungkin belum diterapkan atau memiliki persyaratan yang berbeda. Dampaknya, mahasiswa sering harus menyesuaikan diri dengan aturan yang berubah atau bervariasi, meskipun tujuan pembelajarannya hampir sama.Padahal, baik KKN maupun bentuk pembelajaran di luar kelas lainnya memiliki tujuan yang serupa, yaitu mengembangkan kemampuan yang sulit didapat hanya dengan metode pengajaran formal. Mahasiswa belajar untuk berinteraksi dengan masyarakat, merancang program, bekerja sama dalam tim, menyelesaikan konflik, dan menghadapi masalah nyata yang tidak selalu memiliki solusi dalam buku. Pengalaman-pengalaman seperti ini menjadi esensi dari KKN.Karena itu, fokus evaluasi seharusnya tidak pada dedikasi individu, tetapi pada fondasi dari pelaksanaan itu sendiri. Institusi pendidikan harus memastikan bahwa mahasiswa tidak tertekan oleh ketidakpastian mengenai pendanaan, perubahan mekanisme, atau beban tanggung jawab yang tidak seimbang dengan dukungan yang tepat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat seharusnya menjadi pengalaman pendidikan yang berharga, bukan suatu pengalaman yang membawa beban biaya dan kebingungan.KKN selalu menjadi komponen penting dalam pendidikan tinggi. Program ini menghubungkan mahasiswa dengan keadaan sosial yang tidak bisa sepenuhnya dipahami hanya dari kelas. Namun, untuk mencapai sasaran tersebut, pelaksanaan perlu dievaluasi secara berkala. Pasalnya, pengabdian kepada masyarakat seharusnya tidak berlandaskan pengorbanan mahasiswa, melainkan berdasarkan tanggung jawab bersama antara institusi, mahasiswa, dan masyarakat yang menjadi mitra dalam pengabdian tersebut.Mungkin kini saatnya pertanyaan yang muncul setiap kali musim KKN tidak lagi berbunyi, "Darimana biayanya?", tetapi bertransformasi menjadi, "Bagaimana cara memastikan KKN benar-benar menyajikan pengalaman belajar yang adil, bermakna, dan berkelanjutan untuk semua pihak yang terlibat?".