Gerobak Makanan sebagai Cermin Terbatasnya Lapangan Kerja Formal

Wait 5 sec.

Sumber: (Gemini, 2026)Menjelang malam, gerobak makanan mulai memenuhi sudut jalan. Minyak dipanaskan, mi direbus, adonan digoreng, dan pesanan dibungkus satu per satu. Di sekitarnya, pengemudi ojek daring, pekerja toko, mahasiswa, hingga pegawai kantoran mengantre untuk mendapatkan makanan yang murah, cepat, dan cukup mengenyangkan.Pemandangan seperti itu semakin mudah ditemukan di berbagai kota. Kehadiran pedagang makanan kerap dibaca sebagai bukti kreativitas dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi. Ketika pekerjaan sulit ditemukan, masyarakat dianggap mampu menciptakan peluang sendiri. Ketika pendapatan terbatas, mereka dinilai pandai menyesuaikan pengeluaran.Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Usaha kecil memang menjadi sumber penghidupan bagi jutaan keluarga. Para pedagang kaki lima juga bukan pihak yang layak disalahkan. Mereka bekerja dengan sumber daya yang tersedia dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga di tengah ketidakpastian ekonomi.Namun, menjamurnya gerobak makanan murah juga dapat dibaca dari sisi yang berbeda. Fenomena tersebut bisa menjadi tanda bahwa lapangan kerja formal belum mampu menyerap tenaga kerja secara memadai.Membuka usaha makanan merupakan salah satu pilihan yang relatif mudah dimasuki. Modal dapat disesuaikan dengan kemampuan, keterampilan dasar bisa dipelajari, dan pasarnya selalu tersedia karena setiap orang membutuhkan makanan.Di sisi lain, kemudahan tersebut membuat persaingan semakin padat. Penghasilan pedagang sangat dipengaruhi lokasi, cuaca, harga bahan baku, jumlah pembeli, hingga panjangnya jam kerja. Tidak sedikit pelaku usaha yang harus bekerja sejak pagi hingga malam tanpa kepastian berapa banyak pendapatan yang akan dibawa pulang.Mereka juga kerap bekerja tanpa jaminan kesehatan, perlindungan kecelakaan kerja, tabungan pensiun, maupun kepastian pendapatan ketika sakit. Dalam kondisi seperti itu, usaha informal tidak selalu lahir dari keberanian mengambil peluang. Sebagian tumbuh karena tidak ada pilihan pekerjaan lain yang lebih stabil.Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rendahnya angka pengangguran belum tentu menandakan pasar kerja dalam keadaan sehat. Seseorang yang berjualan beberapa jam sehari tetap dapat dicatat sebagai penduduk bekerja. Begitu pula pekerja keluarga yang tidak menerima upah tetap atau pekerja lepas yang hanya memperoleh pendapatan pada hari-hari tertentu.Pekerjaan yang layak seharusnya mampu memberikan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pekerjaan juga semestinya menawarkan jam kerja yang manusiawi, kesempatan meningkatkan keterampilan, serta perlindungan ketika pekerja sakit, mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, atau memasuki masa tua.Tanpa unsur tersebut, bekerja hanya menjadi cara untuk bertahan dari satu hari ke hari berikutnya.Persoalan ini berkaitan dengan melemahnya kemampuan sektor industri dalam menciptakan pekerjaan formal dalam jumlah besar. Selama bertahun-tahun, industri manufaktur menjadi salah satu jalan bagi pekerja untuk berpindah dari pekerjaan berproduktivitas rendah menuju pekerjaan dengan upah dan perlindungan yang lebih baik.Namun, perkembangan industri belum mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja. Proses yang sering disebut sebagai deindustrialisasi dini membuat sebagian tenaga kerja berpindah ke sektor jasa dan perdagangan sederhana sebelum industri nasional benar-benar mencapai tingkat kematangan.Akibatnya, perpindahan tenaga kerja dari desa ke kota tidak selalu disertai peningkatan kesejahteraan. Banyak orang meninggalkan pertanian atau pekerjaan tradisional, tetapi kemudian masuk ke perdagangan kecil, jasa informal, transportasi daring, atau usaha makanan dengan produktivitas yang tidak jauh berbeda.Dalam situasi tersebut, muncul satire tentang “Republik Tepung”. Istilah itu menggambarkan masyarakat perkotaan yang semakin bergantung pada gorengan, mi instan, roti, dan berbagai makanan murah berbahan dasar tepung.Tepung tentu bukan persoalan utama. Tidak semua makanan berbahan tepung otomatis buruk. Masyarakat juga tidak dapat begitu saja disalahkan karena memilih makanan murah.Masalah sebenarnya terletak pada terbatasnya pilihan.Ketika pendapatan tidak sebanding dengan biaya hidup, masyarakat akan mencari makanan yang paling terjangkau, mudah ditemukan, cepat disajikan, dan mampu menahan lapar. Dalam kondisi itu, kebutuhan gizi sering kali harus dikalahkan oleh kemampuan isi dompet.Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada kelompok berpenghasilan rendah. Pekerja kantoran yang terlihat mapan juga dapat mengalami tekanan serupa. Pakaian rapi, telepon genggam mahal, atau pekerjaan di gedung perkantoran tidak selalu menggambarkan kondisi keuangan yang aman.Di balik penampilan tersebut, terdapat biaya sewa tempat tinggal, cicilan, ongkos transportasi, kebutuhan keluarga, serta harga kebutuhan pokok yang terus menekan pendapatan. Mengurangi pengeluaran untuk makan kemudian menjadi salah satu cara paling mudah untuk mempertahankan gaya hidup dan memenuhi kewajiban lainnya.Masyarakat yang terus-menerus menyesuaikan kualitas makanan dan kebutuhan dasarnya kemudian diberi label tangguh. Mereka dipuji karena mampu bertahan, seolah-olah kemampuan bertahan tersebut merupakan bukti bahwa sistem ekonomi telah bekerja dengan baik.Program Makan Bergizi Gratis hadir dalam konteks tersebut. Program ini memiliki tujuan penting karena negara perlu memastikan anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok rentan memperoleh asupan gizi yang memadai.Program itu juga berpotensi menggerakkan ekonomi daerah apabila kebutuhan bahan makanan dipasok oleh petani, nelayan, peternak, koperasi, dan pelaku usaha lokal. Pengadaan dalam jumlah besar dapat menciptakan pasar yang lebih stabil bagi produsen pangan.Namun, program bantuan makanan tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi keluarga. Makanan gratis untuk anak di sekolah tidak otomatis memperbaiki pendapatan orang tua. Bantuan pangan juga tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap upah layak, pekerjaan formal, hunian terjangkau, transportasi publik, dan perlindungan sosial.Karena menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar, pelaksanaan program tersebut perlu terus dievaluasi. Pertanyaannya bukan apakah masyarakat pantas memperoleh makanan bergizi. Masyarakat tentu berhak mendapatkannya.Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah program pangan berjalan bersama kebijakan penciptaan lapangan kerja, peningkatan upah, penguatan pendidikan vokasi, serta pembangunan industri yang mampu menyerap tenaga kerja.Kebijakan gizi dan kebijakan ketenagakerjaan seharusnya saling melengkapi. Negara tidak cukup hanya memastikan masyarakat memperoleh makanan hari ini, tetapi juga perlu menciptakan kondisi agar keluarga mampu membeli makanan bergizi dengan pendapatannya sendiri pada masa mendatang.Pemerintah perlu memperluas industri yang mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas. Hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan komoditas dasar yang menggunakan modal besar, tetapi hanya menciptakan sedikit pekerjaan.Pendidikan dan pelatihan vokasi juga harus terhubung dengan kebutuhan dunia kerja. Pelatihan tidak seharusnya hanya menghasilkan sertifikat, melainkan membuka jalan menuju pemagangan, penempatan kerja, dan peningkatan pendapatan.Sementara itu, usaha mikro perlu dibantu agar dapat berkembang, bukan sekadar didorong untuk terus bertambah. Pelaku usaha membutuhkan pembiayaan, teknologi produksi, lokasi usaha yang jelas, perlindungan sosial, serta akses ke rantai pasok perusahaan dan pengadaan pemerintah.Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi tidak seharusnya dinilai dari seberapa pandai masyarakat menyiasati kekurangan. Ekonomi yang kuat adalah ekonomi yang memberikan lebih banyak pilihan kepada warganya, mulai dari pilihan pekerjaan, makanan, tempat tinggal, hingga kemampuan merencanakan masa depan.Gerobak di pinggir jalan dapat menjadi simbol kerja keras dan keberanian masyarakat. Namun, kehadirannya tidak boleh digunakan untuk menutupi minimnya pekerjaan formal dan rendahnya kualitas pekerjaan.Masyarakat memang mampu bertahan. Akan tetapi, mereka seharusnya tidak terus-menerus dipaksa menjadi tangguh hanya karena sistem ekonomi belum mampu memberikan kehidupan yang lebih layak.