Ilustrasi Mata Uang Rupiah (Sumber: IqbalStock https://pixabay.com/id/photos/rupiah-mata-uang-uang-keuangan-7304261/)Upah yang tak sebanding dengan biaya hidup membuat banyak pekerja sulit bertahan di tengah kenaikan harga pangan, transportasi, dan kebutuhan harian. Pernyataan “Orang rakyat di desa gak pakai dolar kok, iya kan?” Justru memantik perdebatan soal bagaimana pemerintah melihat kondisi ekonomi rakyatnya.Tepat di atas podium, Prabowo Subianto mengucapkan kalimat tersebut dengan lantang. Bertepatan dengan peresmian Museum Marsinah. Simbol dibalik kisah pilu, amarah, dan semangat dari para buruh pada masa orde baru.Pernyataan tersebut memantik pembelaan dari Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun. Menurutnya, hal tersebut merupakan upaya untuk menjaga stabilitas psikologis masyarakat. Pemerintah selalu meminta rakyat tetap tenang di tengah janggalnya inkonsistensi kerja mereka.Mata uang rupiah masih terus tertekan hingga pertengahan 2026. Awal bulan Juli, rupiah sempat ambruk pada nilai Rp17.994 per dolar AS. Kondisi ini menyeret Rupiah ke dalam lima besar daftar mata uang terlemah di dunia, tepat di bawah Rial Iran, Pound Lebanon, Dong Vietnam, dan Kip Laos.SAWAH YANG MELIMPAHFamiliar dengan istilah bumi pertiwi, indonesia kabarnya luas dengan hamparan sawah dan ladang pertanian. Hijau lahannya membentang, melimpah, bahkan membelah lanskap pedesaan. Semuanya diiringi dengan peranan tanah yang subur, sungguh karunia Tuhan bagi kehidupan pangan di Indonesia.Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tahun 2025, luas panen padi sepanjang tahun 2025 sebesar 11,32 juta hektare, naik sebanyak 12,69 persen dari tahun 2024. Ditambah dengan total produksi yang mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling.Peningkatan tersebut, tergolong besar dalam rantai pangan negeri ini. Melihat kondisi tersebut, Eka Nindita (19) mahasiswa yang menempuh studi pertanian di Universitas Padjadjaran telah dilatih untuk membaca kegelisahan para petani lokal.Memasuki tahun kedua di dunia perguruan tinggi, Eka melihat sendiri bagaimana para petani kian terdesak oleh cadangan beras nasional, ketidakpastian cuaca, hingga harga pasar yang tak sebanding dengan tenaga. Ia menyebut, “Tingginya pertumbuhan penduduk tidak diimbangi dengan naiknya produktivitas beras di dalam negeri,” tuturnya mengenai dinamika impor beras.Melalui agenda Panen Raya dan pengumuman Swasembada Pangan Nasional, di Desa Kertamukti, Karawang, pada 7 Januari 2026. Presiden Prabowo mengungkapkan tercapainya swasembada pangan dengan produksi beras pada tahun 2025 sebanyak 34,71 juta ton.Mengutip dari ANTARA News, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2026."Di akhir 2025 Indonesia mencapai swasembada beras dan pangan sempurna, yaitu tidak ada impor dan stok tertinggi selama Republik ini berdiri," Ujarnya.Namun, tuntutan tersebut tidak serta merta menekan harga di lapangan. Bagi Eka, hal tersebut terasa rumit karena kerja petani lokal belum benar-benar dihargai setimpal.Ketergantungan pada produk impor memang menjadi bayangan hitam bagi petani lokal di Desa, meski kini pemerintah menyatakan bahwa bayangan itu sudah berakhir. Eka menambahkan bahwa impor diberlakukan untuk menutupi kekurangan produktivitas beras dalam negeri. Namun, persoalan yang sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar pasokan pangan.“Dalam permasalahan ini kita masih membutuhkan petani sebagai ujung tombak pangan kita, justru yang mengancam posisi petani kita adalah faktor iklim dan sistem itu sendiri.” jelasnya.Kualitas pangan yang dicerna dalam tubuh sudah tidak dipertanyakan asal-usulnya, urgensi utama yang paling terpikirkan yakni kesediaan pangan dan harga yang terjangkau. Permintaan pemerintah selalu sama setiap kali badai masalah berlalu lalang: tetap tenang.Jaminan harga beras tidak akan meroket terus digaungkan, seolah bisa menjadi payung yang melindungi keresahan rakyat dari hantaman dolar. Mengutip pada laman Bank Indonesia per awal Juli 2026, kini harga beras kualitas bawah berkisar dari Rp14.500-Rp14.700 per kg, kualitas medium Rp16.100-Rp16.350 per kg, hingga yang tertinggi kualitas super mencapai Rp17.650 per kg.Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juni 2026 justru menurun sebanyak 0,06 persen pada bulan Juni 2026. Dipicu oleh kenaikan indeks harga yang diterima lebih rendah dari harga yang harus dibayar. Kekhawatiran Eka tergambarkan, pada ancaman posisi petani yang bukan dari beras impor melainkan dari sistem itu sendiri.Dari Sawah ke Pabrik, Beban Buruh yang Sama BeratnyaHarga yang melambung tersebut dirasakan oleh seluruh rakyat, baik dari desa maupun kota. Terasa di ruang sempit kehidupan harian seorang buruh pabrik di Kota Kembang, Bandung. Mendapatkan upah minimum kota, rasanya apa yang sudah Rendy (23) tunggu-tunggu setiap akhir bulan bisa cepat terkuras dalam satu kedipan mata.Daya beli yang menggerus seisi dompet membuatnya selalu memperhitungkan biaya hidup sehari-hari. Senin hingga Sabtu, ia dihantui oleh bayang-bayang kontrak pekerja yang dapat diputus kapanpun secara sepihak. Sudah tiga tahun bertahan dengan seragam yang sama, rutinitas yang terus berulang dari hadirnya mentari hingga rembulan, dibawah pengawasan serta aturan tidak tertulis yang harus diikuti, menyisakan ruang untuk bernapas di tengah tuntutan kewajiban dan hidup yang serba diperhitungkan.Si bungsu yang kini harus menjadi tulang punggung, ia rela menafkahi kehidupan keluarga demi menyambung hidup. Ditinggalkan sang kakak ke luar kota demi memenuhi kewajibannya sebagai ayah, Rendy sanggup bertahan di tengah kegaduhan ini.Hidup di sebuah kontrakan kecil dalam gang sempit, ia menjalani kesehariannya dengan tempo yang selalu sama. Bertahan dari seorang buruh harian, kini Rendy bekerja dengan status pegawai kontrak. Namun, masih ada rasa tak tenang dalam hati karena kebutuhan yang terus bertambah, diiringi dengan pendapatan yang harus dibagi untuk banyak hal.Pengeluaran biaya makan sehari-hari, transportasi hingga rumah kontrakan yang setiap bulan menunggu untuk dibayar. Ia mengaku, “harga sembako sekarang makin mahal, kayak beras, minyak, kayak gitu. Ngaruh juga sih ke transportasinya, kayak bensin tuh naik harganya.” jelasnya saat menceritakan kenaikan harga di Indonesia.Rasa khawatir menyelimuti hidupnya, dibalik seluruh biaya yang harus ditanggung, ia membayangkan kenaikan harga pangan dalam tiga sampai enam bulan ke depan. Baginya, setiap kenaikan harga terasa memangkas upahnya yang sudah tidak terlalu besar. Alih-alih bertambah longgar, ruang untuk memenuhi kebutuhan hidup kini kian menyempit.Hemat menjadi kunci untuk bertahan hidup, setiap menghitung pengeluaran ia memilah kebutuhan yang sekiranya bisa dipangkas, setiap Rupiah disisihkan sebijak mungkin agar tak cepat habis. “Ada sih, lebih ke hemat kayak dipatok perhari tuh buat makan atau apa kayak lebih disisihkan uangnya berapa, gitu.” ujarnya.Bantuan Negara dan Beban yang Terus BertambahSituasi tersebut menunjukkan batas layak penerima bantuan yang dianggap sudah cukup sering kali menjadi perdebatan. Banyak posisi pekerja yang rapuh, berada di ujung jurang, status pekerjaan yang belum bisa disebut aman serta upah yang belum cukup untuk mengejar kebutuhan harian menjadi pertanyaan mengenai pentingnya bantuan sosial dari pemerintah.upah kecil dengan biaya hidup yang tinggi, apakah ini bentuk sejahtera?Bagi Rendy, bantuan dari pemerintah sangat cocok untuk keluarganya. Ia mengatakan, "kalau dibilang layak, ya layak sih soalnya kan orang tua udah disebut lansia, kalau cocok dapet sih sembako, sama uang tunai. inginnya harga pangan naiknya jangan terlalu tinggi lah, dan kalau bisa yang jangan terlalu naik itu dari bensin"Kehidupan buruh yang tengah ia jalani seolah-olah berdiri di persimpangan yang rumit. Upah yang diterima belum bisa mencukupi semua kebutuhan hidup yang terus bergerak naik. Bantuan sosial dari pemerintah kini dapat dilihat dari upah yang diterima. Soal upah yang mampu menanggung biaya hidup yang kian memburuk. Tidak semua keadaan berada pada titik aman, kini semuanya hanya tentang cukup untuk bertahan.(yui)