Ilustrasi generated by AIRibuan orang memenuhi stadion. Jutaan lainnya menonton lewat televisi dan ponsel. Media sosial dipenuhi cuplikan gol, perdebatan taktik, dan prediksi juara. Namun di banyak sudut Indonesia, ada pemandangan yang berbeda. Kursi-kursi kafe yang biasanya penuh saat musim Piala Dunia justru tidak seramai yang diharapkan.Bagi sebagian pemilik usaha, Piala Dunia biasanya bukan sekadar tontonan olahraga. Ia adalah momentum ekonomi. Nobar menghadirkan pelanggan tambahan, memperpanjang jam operasional, dan meningkatkan penjualan makanan maupun minuman. Tetapi kali ini, berkah itu terasa lebih kecil. Penyebabnya bukan karena masyarakat Indonesia kehilangan kecintaan pada sepak bola. Penyebabnya adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana: waktu.Sebagian besar pertandingan berlangsung ketika mayoritas masyarakat Indonesia sedang tidur, bekerja, atau bersiap menghadapi aktivitas esok hari. Akibatnya, antusiasme tetap tinggi, tetapi tidak selalu berubah menjadi aktivitas ekonomi.Fenomena ini menarik karena menunjukkan satu hal yang sering luput dari perhatian. Dalam ekonomi modern, waktu tidak hanya menentukan produktivitas, tetapi juga menentukan arah perputaran uang.Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto Indonesia serta menyerap sebagian besar tenaga kerja nasional. Di dalam kelompok besar UMKM itu terdapat ribuan kafe, warung makan, kedai kopi, dan usaha kuliner kecil yang sangat bergantung pada keramaian pelanggan. Ketika sebuah peristiwa besar mampu mengumpulkan banyak orang dalam waktu yang sama, omzet mereka ikut bergerak.Itulah mengapa konser musik, festival daerah, pertandingan olahraga, hingga acara car free day sering memberi dampak ekonomi yang lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. Uang bergerak karena manusia berkumpul. Dan manusia berkumpul karena waktunya memungkinkan.Piala Dunia biasanya memiliki efek yang sama. Ketika pertandingan berlangsung pada malam hari yang nyaman bagi penonton Indonesia, kafe-kafe menggelar nobar, layar proyektor dipasang, meja tambahan disiapkan, dan berbagai usaha kecil ikut menikmati keramaian. Namun ketika pertandingan berlangsung dini hari atau menjelang subuh, situasinya berubah. Banyak orang memilih tetap mengikuti hasil pertandingan melalui media sosial keesokan harinya daripada harus mengorbankan waktu istirahat.Di sinilah kita melihat bahwa ekonomi ternyata tidak hanya soal modal, barang, atau jumlah konsumen. Ada faktor yang sering tidak masuk dalam pembicaraan sehari-hari, yaitu kecocokan waktu.Bayangkan sebuah restoran terbaik membuka layanan utama pukul tiga pagi. Makanannya mungkin lezat, pelayanannya mungkin sempurna, tetapi jumlah pelanggan tetap akan terbatas karena waktu tidak mendukung. Prinsip yang sama berlaku pada banyak aktivitas ekonomi. Produk yang baik belum tentu berhasil jika hadir pada waktu yang salah.Hal ini semakin relevan di era digital. Hari ini, perhatian manusia menjadi komoditas yang sangat mahal. Sebelum tidur, seseorang mungkin sudah menghabiskan waktu bekerja, membaca pesan WhatsApp, membuka Instagram, menonton TikTok, hingga mengejar berbagai urusan pribadi. Ketika pertandingan dimulai pada pukul dua atau tiga dini hari, sepak bola tidak hanya bersaing dengan rasa kantuk. Ia bersaing dengan kebutuhan dasar manusia untuk beristirahat.Para ekonom menyebut fenomena ini sebagai attention economy atau ekonomi perhatian. Dalam dunia yang dipenuhi informasi, sumber daya yang paling langka bukan lagi informasi itu sendiri, melainkan perhatian manusia. Setiap aplikasi, media, platform hiburan, dan penyelenggara acara berlomba-lomba mendapatkan beberapa menit dari waktu kita.Piala Dunia tahun ini secara tidak langsung memperlihatkan batas dari ekonomi perhatian tersebut. Sebesar apa pun sebuah peristiwa global, ia tetap harus berhadapan dengan kenyataan bahwa manusia memiliki waktu dan energi yang terbatas.Dari sudut pandang lain, sepinya nobar justru menunjukkan sesuatu yang positif. Banyak orang mulai menyadari bahwa waktu istirahat bukan barang mewah. Seorang guru tetap harus mengajar pagi hari. Seorang sopir tetap harus berkendara dengan aman. Seorang pedagang tetap harus membuka lapak. Seorang pekerja tetap harus menyelesaikan target. Mereka memilih tidur bukan karena tidak mencintai sepak bola, melainkan karena memahami bahwa produktivitas esok hari lebih penting daripada kesenangan sesaat.Di sinilah pelajaran yang sebenarnya.Selama ini kita sering mendengar ungkapan bahwa waktu adalah uang. Namun Piala Dunia kali ini menunjukkan bahwa waktu bahkan lebih berharga daripada uang. Uang yang hilang masih bisa dicari kembali. Waktu yang hilang tidak pernah bisa dibeli ulang. Tidak ada tabungan waktu, tidak ada pinjaman waktu, dan tidak ada diskon untuk satu jam kehidupan yang telah berlalu.Mungkin banyak kafe yang tidak memperoleh keuntungan sebesar yang mereka harapkan selama Piala Dunia kali ini. Namun di balik kursi-kursi yang kosong itu tersimpan sebuah pelajaran yang lebih besar. Ekonomi bergerak ketika perhatian manusia berkumpul pada waktu yang sama. Dan ketika waktu itu tidak pernah benar-benar bertemu, bahkan pesta olahraga terbesar di dunia pun tidak selalu mampu menggerakkan roda ekonomi hingga ke sudut-sudut kafe di Indonesia.Barangkali itulah ironi sekaligus pelajaran paling menarik dari Piala Dunia tahun ini. Kita menyaksikan bahwa trofi terbesar sepak bola dunia bisa menunggu empat tahun untuk diperebutkan kembali. Tetapi waktu yang terlewat hari ini tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.