Pemandangan indah sebuah kuil tradisional dengan patung yang mencolok di Beijing, Tiongkok (Sumber foto: zhangkaiyv/Pexels)Di era globalisasi saat ini, diplomasi tidak lagi dipahami sebagai suatu praktik yang kaku dan terbatas pada pembahasan isu-isu terkait politik, ekonomi, maupun militer semata. Keterlibatan antara pemerintah suatu negara yang berkolaborasi dengan masyarakat global, berandil besar dalam diplomasi dengan melalui pendekatan berbagai instrumen non-militer, salah satunya adalah diplomasi berkekuatan lunak (soft power diplomacy). Konsep soft power diplomacy didefinisikan sebagai kemampuan suatu negara untuk memengaruhi pihak lain guna mencapai hasil yang diinginkan melalui daya tarik, bukan melalui paksaan atau imbalan, dan lahir dari kombinasi antara ketiga aspek sumber daya penting, yaitu budaya, nilai politik, dan kebijakan luar negeri (Nye, 2008).Konsep ini kemudian melahirkan instrumen baru yang dikenal sebagai diplomasi budaya, yang merupakan rangkaian aktivitas yang dilaksanakan secara langsung oleh atau melalui kerja sama dengan otoritas diplomatik suatu negara yang ditujukan untuk mengembangkan dan memajukan kepentingan kebijakan luar negeri dari negara tersebut dalam bidang kebudayaan (Pajtinka, 2014). Dalam praktiknya, diplomasi budaya menjadi salah satu strategi soft power diplomacy dari Tiongkok untuk menunjukkan citra positif negaranya kepada dunia internasional melalui lembaga promosi budaya yang bernama Confucius Institute.Confucius Institute adalah lembaga promosi budaya yang didirikan oleh pemerintah Tiongkok pada 2004. Awalnya, pendirian lembaga ini dilatarbelakangi dari pertimbangan suatu gagasan dari pemerintah untuk memperkenalkan bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok lebih luas di kancah global. Gagasan ini diperkuat mengingat bahasa Mandarin telah diakui sebagai bahasa internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1973. Inisiatif pendirian lembaga tersebut semakin diperkuat seiring dengan ambisi besar Tiongkok pada awal abad ke-21 untuk tidak hanya dikenal sebagai negara dengan kekuatan ekonomi yang tengah bertumbuh secara pesat, tetapi juga sebagai negara dengan kapasitas yang unggul dalam bidang pendidikan dan kebudayaan (Sun, 2023).Sebagai lembaga promosi budaya dan bahasa berskala internasional, Confucius Institute memiliki tiga fungsi besar sebagai berikut.Fungsi pendidikan bahasa, yang mencakup pengajaran bahasa Mandarin beserta penelitian yang terkait dengannya, pelatihan bagi calon pengajar bahasa Mandarin, serta pengembangan kurikulum bahasa Mandarin melalui penyusunan bahan ajar dan sumber belajar yang komprehensif.Fungsi sertifikasi dan pertukaran budaya, yang tercermin dari penyelenggaraan program pertukaran bahasa dan budaya antara Tiongkok dengan negara mitra, serta penyelenggaraan ujian dan sertifikasi kemahiran bahasa resmi seperti tes HSK, yang kerap menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan beasiswa atau melanjutkan studi ke Tiongkok.Fungsi riset dan konsultasi, mencakup kegiatan penelitian dan pemberian jasa konsultasi terkait pendidikan, budaya, ekonomi, dan berbagai topik lain yang relevan dengan Tiongkok.Sejak awal didirikan, Confucius Institute dioperasikan oleh Hanban, organisasi yang berasa di bawah Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok. Pada Juli 2020, menghadapi kritik dari dunia internasional yang terus meningkat, pemerintah Tiongkok melakukan restrukturisasi dengan menggantikan namanya menjadi Center for Language Education and Cooperation (CLEC) (Peterson dkk., 2022). Pada saat yang bersamaan, CLEC mendirikan organisasi nirlaba baru bernama Chinese International Education Foundation (CIEF) yang secara formal menggantikan Hanban dalam mengelola Confucius Institute, meskipun CIEF tetap berada di bawah pengawasan Kementerian Pendidikan Republik Rakyat Tiongkok. Perubahan struktural ini kemudian sering dikritik sebagai upaya rebranding daripada perubahan substansial dalam kontrol pemerintah terhadap program Confucius Institute.Selain kritik tersebut, para peneliti internasional, khususnya dari Barat, sering menghubungkan Confucius Institute sebagai alat propaganda pemerintah Tiongkok untuk menunjukkan images yang baik kepada dunia internasional dan berusaha menutup-nutupi topik-topik yang sensitif secara politis melalui praktik censorship. Dikutip dari Foreign Policy, pada 2018, ketika jurnalis Bethany Allen-Ebrahimian diundang untuk mengisi forum di Savannah State University, Georgia, Amerika Serikat. Sebelum acara tersebut dimulai, referensi biografinya yang diketahui menyinggung pengalaman meliput Taiwan telah dihapus oleh pihak penyelenggara atas permintaan Direktur Confucius Institute di universitas setempat, Luo Qijuan. Setelah forum tersebut, Bethany ditegur secara langsung oleh Luo karena dalam forum tersebut dia secara terang-terangan mengkritik Tiongkok. Hal ini menunjukkan bahwa Confucius Institute tidak hanya melakukan praktik censorship secara preventif, tetapi juga menindaklanjuti argumentasi yang dianggap tidak sesuai dengan narasi resmi Beijing.Kasus ini bukan hanya terjadi sekali, namun sering kali menjadi bagian dari pola yang lebih luas yang melibatkan apa yang dikenal sebagai "The Three Ts," yaitu Taiwan, Tibet, dan peristiwa Pembantaian di Lapangan Tiananmen pada 1989 yang tidak boleh disinggung di dalam lingkungan kampus yang memiliki Confucius Institute (Kang, 2021). Spekulasi tersebut membuat Confucius Institute sering dianggap melewati batas dari tugas pokok dan fungsinya sebagai lembaga promosi bahasa dan budaya. Pola tersebut telah menjadi salah satu alasan utama mengapa negara-negara Barat semakin kritis dan skeptis terhadap kehadiran Confucius Institute di institusi akademik mereka.Terlepas dari kritikan tersebut, Confucius Institute berhasil melakukan ekspansi internasional secara signifikan sebagai salah satu instrumen utama diplomasi budaya Tiongkok yang berbasis soft power diplomacy di panggung global. Menurut laporan tahun 2025 yang dipublikasikan oleh CIEF, terdapat 513 Confucius Institute yang tersebar di 164 negara. Selain itu, program Confucius Classroom yang menargetkan sekolah menengah juga telah mencapai 754 lokasi di seluruh dunia.