Mengapa Sekolah Negeri Tetap Jadi Primadona?

Wait 5 sec.

Ilustrasi suasana penerimaan murid baru (AI-Generated)Setiap musim penerimaan murid baru, persoalan keterbatasan daya tampung sekolah negeri kembali terulang. Hal ini terlihat pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 di Kota Tangerang. Pemerintah Kota Tangerang mencatat sekitar 22.000 calon peserta didik mendaftar ke SMP negeri, sementara daya tampung yang tersedia hanya sekitar 10.000 kursi. Untuk mengakomodasi sekitar 12.000 siswa yang tidak tertampung, pemerintah menyediakan 79 SMP dan MTs swasta gratis melalui Program Gampang Sekolah sebagai upaya memperluas akses pendidikan (tangerangkota.go.id, 25 Juni 2026).Kebijakan tersebut layak diapresiasi karena membantu memastikan setiap anak tetap dapat melanjutkan pendidikan. Namun, di balik langkah tersebut muncul pertanyaan yang lebih mendasar: jika sekolah swasta telah digratiskan, mengapa masyarakat tetap menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan utama? Pertanyaan inilah yang perlu dijawab agar pembenahan pendidikan tidak berhenti pada perluasan akses, tetapi juga menyentuh akar persoalan.Biaya Bukan Satu-satunya PersoalanSelama ini, biaya sering dianggap sebagai penyebab utama masyarakat enggan memilih sekolah swasta. Namun, pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa meskipun berbagai program subsidi telah mengurangi beban biaya pendidikan, minat masyarakat terhadap sekolah negeri tetap lebih tinggi. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak berhenti pada aspek pembiayaan semata.Di mata banyak orang tua, sekolah negeri masih dipersepsikan memiliki fasilitas yang lebih lengkap, tenaga pendidik yang lebih merata, dan lingkungan belajar yang lebih baik. Sebaliknya, sebagian sekolah swasta masih menghadapi keterbatasan sarana, guru, maupun pembiayaan operasional, bahkan pada beberapa kasus masih terdapat pungutan di luar biaya utama. Persepsi inilah yang membentuk pilihan masyarakat, sehingga menggratiskan sekolah swasta dapat memperluas akses pendidikan, tetapi belum tentu mampu mengubah pandangan publik mengenai kualitasnya.Lebih dari Sekadar Sekolah GratisPendidikan tidak cukup diukur dari tersedianya bangku sekolah, tetapi juga dari mutu layanan yang diterima setiap peserta didik. Selama kualitas antar sekolah masih menunjukkan kesenjangan, masyarakat akan terus berlomba memperoleh tempat di sekolah yang dianggap lebih unggul. Dalam konteks ini, program sekolah swasta gratis merupakan langkah positif untuk memperluas akses, tetapi belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan, yaitu pemerataan kualitas pendidikan.Kesadaran akan pentingnya pemerataan tersebut juga tercermin dalam dinamika kebijakan nasional. Setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa pendidikan dasar harus dapat diakses secara gratis, pemerintah bersama DPR mulai menyusun skema implementasi yang juga mencakup sekolah swasta. Komisi X DPR RI menegaskan bahwa putusan tersebut bersifat final dan mengikat, meski pelaksanaannya memerlukan perencanaan anggaran yang matang agar mutu layanan pendidikan tetap terjaga. (dpr.go.id, 30 Juni 2026). Dengan demikian, tantangan ke depan bukan hanya memperluas sekolah gratis, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas tanpa memandang jenis sekolah yang dipilih.Membangun Pendidikan yang BerkeadilanDalam perspektif kebijakan publik, pendidikan merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa. Karena itu, peran negara tidak berhenti pada penyediaan akses pendidikan, tetapi juga mencakup tanggung jawab untuk menghadirkan layanan yang berkualitas dan dapat dinikmati secara merata oleh seluruh warga negara.Ketika kualitas pendidikan masih dipengaruhi oleh status sekolah, kemampuan ekonomi keluarga, atau lokasi tempat tinggal, kesempatan memperoleh pendidikan terbaik menjadi tidak sepenuhnya setara. Oleh sebab itu, tantangan utama bukan hanya memperluas akses, melainkan juga memastikan pemerataan mutu agar pendidikan benar-benar berfungsi sebagai pelayanan publik yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat.Perspektif Islam: Pendidikan sebagai Hak DasarSejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa pendidikan memperoleh perhatian besar dari negara. Berbagai lembaga pendidikan didukung melalui pembiayaan Baitul Mal, sementara para pendidik memperoleh dukungan yang memungkinkan mereka menjalankan tugasnya secara optimal. Kebijakan tersebut membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tanpa dibatasi oleh kemampuan ekonomi.Dalam literatur fikih siyasah, Islam menempatkan pendidikan sebagai bagian dari ri'ayah (pelayanan dan pengurusan urusan rakyat) yang menjadi tanggung jawab negara. Berangkat dari paradigma tersebut, negara berkewajiban menyediakan akses pendidikan sekaligus berupaya menjaga mutu penyelenggaraannya agar setiap warga memiliki kesempatan yang adil untuk memperoleh layanan pendidikan yang layak.Orientasi ini menunjukkan bahwa pendidikan dalam Islam tidak dipandang semata sebagai aktivitas penyelenggaraan layanan publik, tetapi juga sebagai sarana membentuk kepribadian, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menyiapkan generasi yang mampu berkontribusi bagi kemajuan peradaban. Dengan demikian, pemerataan akses pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari hambatan biaya, melainkan juga sebagai ikhtiar menghadirkan kualitas pendidikan yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakatMembangun Kepercayaan terhadap Semua SekolahProgram sekolah swasta gratis merupakan langkah yang patut diapresiasi karena memperluas akses pendidikan bagi masyarakat. Namun, kebijakan ini hendaknya menjadi awal dari pembenahan yang lebih mendasar, yakni membangun kepercayaan masyarakat terhadap mutu seluruh satuan pendidikan melalui pemerataan kualitas guru, sarana pembelajaran, tata kelola, serta dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.Pada akhirnya, keberhasilan sistem pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya sekolah yang digratiskan, tetapi dari kemampuannya menghadirkan akses dan kualitas pendidikan yang setara bagi setiap anak. Dengan demikian, pendidikan tidak sekadar membuka pintu sekolah, melainkan juga membuka kesempatan yang sama bagi seluruh generasi untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan terbaiknya.