Kiat Mengembalikan Kepercayaan

Wait 5 sec.

Ilustrasi suasana ied dalam sebuah keluarga (sumber: https://www.pexels.com/)Anak kecil yang telanjur sering ditakut-takuti berisiko membenci sosok atau lembaga tertentu. Misalnya, kalau kita sering berkata, "Kalau kamu enggak nurut, nanti disuntik dokter, ya", wajar saja kalau anak jadi takut diperiksa dokter ketika dia sakit. Atau, apabila kita kerap menakut-nakuti anak dengan kalimat, "Kalau enggak mau makan, Bunda panggilkan Pak Satpam! Biar kamu dibawa ke pos sana, tinggal sama Pak Satpam saja", jelas saja anak jadi takut kepada satpam. Padahal, kalau misalnya suatu hari nanti anak hilang di mal, dia tentu perlu menghampiri satpam atau petugas keamanan.Apabila ingin memperbaiki sikap anak, maka orang tua perlu bertobat dahulu dan memperbaiki dirinya. Mintalah maaf kepada anak dan akui kesalahan yang Ayah-Bunda pernah perbuat kepada mereka."Nak, Bunda minta maaf, ya. Kemarin Bunda sering menakut-nakuti kamu. Omongan Bunda tentang Pak Satpam dan Pak Dokter itu enggak benar. Bunda bilang begitu karena cuma pengin kamu menurut. Setelah baca buku tentang pola asuh, Bunda jadi sadar kalau tindakan itu salah. Bunda janji enggak akan menakut-nakuti kamu lagi."Jadi, ajak anak mengobrol secara terbuka. Mungkin butuh beberapa kali diskusi sampai akhirnya dia mengerti. Selanjutnya, biasakan berdiskusi dengan anak. Anak kita sangat cerdas. Jangan anggap dia anak kecil yang tak akan mengerti apabila diajak bicara. Semakin sering anak diajak berdiskusi, semakin dewasa pemikirannya. Kesadarannya akan semakin terbangun dan kita tak perlu lagi meminjam nama "satpam", "dokter", "polisi", atau siapa pun untuk membuatnya mengikuti apa yang kita inginkan.Buatlah aturan main atau kesepakatan yang jelas. Kita ingin anak berhenti main game apabila sudah terlalu lama? Buatlah kesepakatan: berapa jam dalam sehari anak boleh bermain game? Dari pukul berapa sampai pukul berapa? Adakah persyaratan yang harus dilakukan oleh anak sebelum bermain game? Misalnya, dia harus mengerjakan pekerjaan rumah dan mandi sore terlebih dahulu. Lalu, bagaimana jika anak melanggar kesepakatan ini? Apa konsekuensinya? Susunlah kesepakatan ini secara terperinci bersama anak. Setelah itu, jalankan kesepakatan secara tegas dan konsisten. Anak akan menghargai orang tua yang bersikap konsisten.Misalnya, dalam kesepakatan, anak hanya boleh bermain game selama dua jam. Apabila waktu dua jam sudah habis, dekatilah anak, tatap matanya, dan katakan dengan nada serius bahwa jatah bermainnya sudah habis."Kita sudah sepakat kalau waktu main game-mu hanya dua jam. Kalau kamu melanggar, konsekuensinya Bunda akan simpan PlayStation-mu di lemari selama dua hari penuh. Nah, sekarang kamu mau matikan sendiri PlayStation-nya atau Bunda yang matikan?"Apabila anak tak kunjung menurut setelah diperingatkan, segera jalankan konsekuensi yang telah ditetapkan. Matikan konsol game-nya dan segera simpan.Bagi beberapa orang, bersikap tegas dan konsisten seperti ini bukan hal yang mudah karena sudah terlalu lama bersikap tak berdaya. Karena itu, di sekolah Maha Karya Gangga yang saya kelola, terletak di Singaraja, Bali, orang tua yang menunjukkan perilaku seperti ini akan kami bimbing, menjalani konseling, dan kami latih untuk mengatasi kebiasaan buruk ini. Lalu setelah beberapa lama, kami adakan evaluasi.Intinya, orang tua dibuat berdaya kembali. Sebelum mengubah perilaku anak, memang orang tua yang seharusnya berubah terlebih dahulu. Bagaimana mungkin anak bisa berubah, kalau orangtuanya tidak mau berubah?