Ilustrasi dibuat oleh AI.Beberapa orang merayakan hari jadinya dengan meriah, sementara yang lain-bahkan hari jadinya saja tak diingat oleh siapa pun termasuk dirinya sendiri. Memangnya apa bagusnya dari sebuah hari dan tanggal kita dilahirkan?Bukankah hidup adalah sebuah kenestapaan, saat pertama kali menyapa dunia saja kita menangis. Maka, berbahagialah mereka yang mati muda, begitu kata Gie. Setidak-tidaknya, dia tidak kehilangan apa-apa meskipun tak juga menanam apa-apa.Tapi, marilah kita rayakan usia kita. Setiap waktu dan detik adalah anugerah yang diberikanNya untuk menjadi seseorang yang kita banggakan dan Tuhan rayakan. Dengan begitu, segala kesangsian dan kejemuan akan sirna atas keridhoanNya.Memulai kembali hidup dengan sadar. Barangkali, itu adalah visi kehidupan manusia modern. Setelah lama sekali, sejak akil baligh pikiran dan perasaannya terombang-ambing algoritma. Kritisisme sebagai dasar fondasi peradaban sirna dihadapan fomoisme dan konsumerisme yang berlebihan.Bayangkan, seorang insan sederhana hidup di sebuah negara dengan total hampir 280 juta populasi. Setiap harinya menghabiskan waktu dengan scrolling media sosial, lama-kelamaan pikirannya bukan lagi milik dirinya sendiri, ujungnya, kehilangan daya pikirnya.Maka, memulai kembali hidup dengan sadar adalah berani untuk berpikir di atas otak sendiri. Tentunya, dibarengi dengan pengetahuan yang tersublim dari buku-buku baik. Kata Hamka, buku-buku yang baik memberi makan untuk ruh secara baik.Tapi, memangnya ada buku tak baik? banyak. Buku-buku tak baik itu, yang dalam pembuatannya dibarengi dengan perzinahan intelektual, dikotori dengan senggama-senggama palsu dan penuh kemunafikan. Asal terlihat bagus dan mengagumkan. Seperti hasil-hasil survei dan indeks pembangunan-pembangunan yang dibikin pemerintah.Dalam realitasnya, indeks-indeks itu, survei-survei itu jauh panggang daripada api. Hanya bumbu-bumbu penelitian, gincu-gincu intelektual. Sebabnya, sudah ribuan hari Republik berdiri tetapi keadaannya semakin hari semakin teruk, membuat kita meradang hingga mengobarkan api revolusi di setiap gang.Di era media sosial, kemunafikan dan kebohongan itu semakin dipertontonkan. Dibantu para pendengung yang membengkokan moral dan pikiran sebengkok-bengkoknya. Membuat kita malu sebagai sebuah bangsa yang katanya berprikemanusiaan dan beradab.Berprikemanusiaan yang seperti apa? saat rasionalitas dibatalkan demi kekuasaaan? beradab yang bagaimana saat etika hanya diperdebatkan tetapi gugur di dalam kenyataan? baik pendemo atau yang didemo, keduanya sama mendegilkan. Pilu juga memilukan.Oleh sebabnya, hal kedua tentang menjalani hidup dengan sadar adalah sadar diri atas apa yang bisa dan tidak bisa, sadar atas pikiran dan perilaku diri sendiri. Secara etika politik-demokrasi, perdebatan ini jauh hari sudah dibahas sejak era Nabi Plato. Tetapi menjadi sangat relevan hari ini tatkala melihat keadaan negeri yang semakin ngeri. Perlu diingat, republik dibentuk dari setiap keluarga-keluarga (bukan cuma keluarga Solo), dan tiap keluarga yang jumlahnya jutaan itu, dibentuk atas tiap individu-individu. Saat individunya baik, maka yang lainnya pun menjadi baik.Dulu, ada seorang Muslim yang mengomentari seorang pemimpin. Kata dia, "kenapa kamu tidak seperti Umar ibn Aziz?", sebagai informasi, umar ibn aziz itu khalifah dari Dinasti Umayah paling terbaik. Dan kalian tahu apa jawaban dari pemimpin itu?, "kalau kamu ingin mendapatkan pemimpin seperti Umar, maka jadilah rakyat seperti rakyatnya Umar".Dan ini menjadi cocok untuk kita terapkan di Republik kita hari ini. Tentunya, dengan menjalani segalanya secara sadar. Kesadardirian, kesadaran atas pikiran itu menjadi utama hari-hari ini dibanding apa pun. Hari ini usiaku bertambah satu tahun. Aku tidak ingin menjadikan ulang tahun sekadar penanda umur, tetapi penanda kesadaran. Bahwa mulai hari ini aku ingin berpikir lebih jernih, membaca lebih banyak, hidup lebih jujur, dan bertindak lebih bertanggung jawab. Sebab perubahan republik selalu bermula dari perubahan seorang manusia yang berani memerintah dirinya sendiri.