Muhammadiyah Berduka, Ketum PP 'Aisyiyah Periode 2000-2010 Berpulang

Wait 5 sec.

Prof. Dr. Chamamah Soeratno, Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah periode 2000 hingga 2010. Foto: Dok. PP MuhammadiyahMuhammadiyah berduka. Prof. Dr. Chamamah Soeratno, Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah periode 2000-2005 dan 2005-2010 berpulang pada Selasa (7/7) pukul 20.13 WIB.Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya sosok cendekiawan sekaligus tokoh 'Aisyiyah ini.Di mata Haedar, Chamamah adalah sosok yang memiliki dedikasi, pemikiran luas, dan semangat pengabdian yang luar biasa."Kita kehilangan tokoh 'Aisyiyah dan Muhammadiyah yang cendekia serta memiliki spirit tinggi dalam perjuangan Persyarikatan. Beliau selain Guru Besar senior di UGM, juga dikenal sebagai tokoh perempuan yang memiliki keluasan pemikiran dan radius interaksi hingga tingkat global. Beliau bahkan pernah menyampaikan pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mewakili 'Aisyiyah," kata Haedar dalam keterangan tertulisnya.Dalam kenangan Haedar, Chamamah merupakan pribadi yang ramah tetapi teguh pada prinsip. Di berbagai forum, Chamamah dikenal terbuka terhadap perbedaan pandangan serta menghormati siapa pun yang berdialog dengannya."Kami mengenal beliau sebagai figur yang ramah, tetapi tegas dalam pendirian dan pandangan," kenangnya."Diskusi dengan beliau selalu berlangsung penuh semangat, namun tetap sangat menghargai perbedaan pendapat. Kepada generasi muda pun Prof. Chamamah selalu menunjukkan rasa hormat dan tidak segan menerima pandangan maupun masukan," tuturnya.Pengabdian Chamamah pun telah memajukan 'Aisyiyah. Menurut Haedar, Chamamah adalah teladan yang patut diwarisi oleh generasi penerus. Kepemimpinannya dibangun di atas fondasi keilmuan, keluasan jejaring, dan semangat berkhidmat yang tidak pernah surut."Pengkhidmatannya penuh untuk memajukan 'Aisyiyah. Bagi para pimpinan 'Aisyiyah generasi setelah beliau, penting untuk belajar tentang kegigihan, spirit berkhidmat, keluasan pergaulan, serta yang terpenting terus memperluas ilmu dan pemikiran. Itulah kekuatan yang sangat berharga bagi seorang pemimpin penggerak Persyarikatan," ungkap Haedar.