Satu kilo emas batangan terlihat di pabrik penyulingan emas dan perak serta pabrikan batangan Argor-Heraeus di Mendrisio, Swiss, 13 Juli 2022. Foto: REUTERS/Denis BalibouseHong Kong resmi memulai uji coba operasional sistem kliring emas baru. Langkah ini ditujukan agar Hong Kong menjadi pusat perdagangan emas batangan (bullion) terbesar di Asia.Dikutip dari Bloomberg pada Selasa (7/7), sistem kliring baru tersebut akan menjadi fondasi bagi Hong Kong untuk berkontribusi dalam pembentukan harga acuan global bagi pasar perdagangan emas.“Maksud kami, tentu saja adalah membangun pasar perdagangan emas institusional di Hong Kong yang sangat maju. Hal itu juga mencakup penguatan secara signifikan terhadap fasilitas penyimpanan dan pemurnian emas kami dalam beberapa tahun ke depan,” kata Kepala Eksekutif Hong Kong, John Lee.Dengan meluncurkan sistem kliring baru tersebut bulan ini, Hong Kong juga dinilai berhasil memperoleh keuntungan sebagai pelopor dalam upayanya menjadi pusat perdagangan emas terkemuka di Asia. Selain Hong Kong, bulan lalu Singapura juga mengumumkan inisiatif serupa untuk membangun sistem kliring yang ditargetkan selesai pada akhir tahun ini.Di Hong Kong, nantinya perusahaan milik pemerintah, Hong Kong Precious Metals Central Clearing Ltd, akan menawarkan layanan yang komprehensif mulai dari penyimpanan dan penarikan emas hingga penyelesaian transaksi di pasar over-the-counter (OTC).“Proses tersebut melibatkan sejumlah bank beserta para nasabahnya, termasuk perusahaan tambang, perusahaan pemurnian emas, perhiasan, dan investor lainnya,” ujar Lee.Sebanyak 11 lembaga keuangan nantinya akan berada dalam dewan perusahaan kliring tersebut. Perusahaan-perusahaan itu termasuk JPMorgan Chase & Co, HSBC Holdings Plc, UBS Group AG, serta lima bank asal China.Ketika uji coba sistem kliring baru akan dimulai, sedikitnya ada empat bank dalam sistem kliring Hong Kong yang telah mengimpor emas batangan berukuran besar untuk membangun persediaan yang memungkinkan penyerahan fisik emas.Di samping itu, Hong Kong juga akan bekerja sama dengan Shanghai Gold Exchange untuk menciptakan mekanisme sistem yang lebih efisien sehingga para pelaku pasar dapat menggunakan kepemilikan emas mereka untuk bertransaksi.Sebelumnya, Hong Kong juga telah mengundang sejumlah bank sentral negara-negara yang tergabung Belt and Road Initiative Beijing untuk berpartisipasi dalam sistem kliring tersebut. Hal itu dilakukan untuk memperkuat kredibilitas Hong Kong sebagai pusat perdagangan emas batangan.Gubernur Bank Sentral China, Pan Gongsheng, juga sudah merespons dengan mengatakan bahwa bank sentral China akan terus meningkatkan alokasi cadangan devisa nasional ke Hong Kong.Pusat Perdagangan Emas AsiaIlsutrasi emas batangan. Foto: Reuters/Edgar SuDalam beberapa bulan terakhir, Hong Kong dan Singapura memang semakin agresif menyusun strategi untuk memanfaatkan tingginya permintaan emas di Asia sekaligus menantang dominasi London sebagai pusat perdagangan emas dunia.Di Hong Kong, berbagai infrastruktur pendukung juga tengah dipersiapkan untuk memperbesar kapasitas perdagangan, pemurnian, dan penyimpanan emas. Perusahaan logistik terbesar di China, SF Holding Co, juga berencana membuka fasilitas penyimpanan emas (vault) di dekat Bandara Internasional Hong Kong tahun ini.Di saat yang sama, perusahaan perbankan, fintech, dan sekuritas di Hong Kong juga kini saling bersaing merekrut tenaga ahli perdagangan logam mulia dengan menawarkan gaji tinggi.Sebaliknya, Singapura saat ini hanya memiliki satu fasilitas pemurnian yang menghasilkan bullion dengan sertifikasi London Good Delivery atau standar internasional untuk perdagangan emas batangan.“Hong Kong memiliki perusahaan pemurnian, produsen perhiasan, pabrik, hingga perusahaan tambang. Kota ini juga menjadi gerbang menuju Asia Timur, termasuk China daratan, Jepang, dan Korea,” kata Bernard Sin, Direktur Regional Greater China di MKS PAMP SA.Meski memiliki tujuan yang sama, Hong Kong dan Singapura diperkirakan akan mengembangkan hal yang berbeda dalam industri emas. Pendiri Gold Harvest Management, Doris Bao, mengatakan Singapura kemungkinan akan lebih fokus pada bisnis penyimpanan emas sementara Hong Kong akan mengembangkan perdagangan dan pemurnian emas dengan dukungan jaringan logistik yang kuat.Singapura saat ini memiliki kapasitas penyimpanan sedikitnya 2.200 ton emas di dua brankas berkeamanan tinggi milik swasta, yaitu sekitar 500 ton di The Reserve dan sedikitnya 1.700 ton di Le FreeportSebagai perbandingan, Hong Kong hanya memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 150 ton di fasilitas milik pemerintah yang berada di kawasan bandara. Namun, kapasitas gudang komersialnya tidak dipublikasikan.