Ilustrasi pekerja yang memanfaatkan teknologi digital untuk bekerja maupun mengembangkan sumber pendapatan tambahan. Sumber: Startup Stock Photos/PexelsMemiliki pekerjaan tetap pernah menjadi jawaban atas banyak kegelisahan. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan, memperoleh pekerjaan dengan gaji bulanan dianggap sebagai penanda bahwa hidup mulai berada di jalur yang benar. Ada kepastian penghasilan, kesempatan untuk menabung, dan harapan bahwa masa depan bisa direncanakan dengan lebih tenang.Namun, gambaran itu perlahan berubah. Bagi banyak pekerja muda saat ini, pekerjaan tetap belum tentu menghadirkan rasa aman. Justru ketika seluruh kebutuhan hidup bergantung pada satu sumber penghasilan, muncul kecemasan baru. Bagaimana jika pekerjaan itu hilang? Bagaimana jika gaji yang diterima tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup?Kegelisahan seperti ini semakin akrab dalam percakapan sehari-hari. Di media sosial, ruang kantor, hingga obrolan bersama teman, pembahasan mengenai pekerjaan sampingan semakin sering terdengar. Ada yang menjadi penulis lepas sepulang kerja, membuka toko daring pada akhir pekan, mengajar kelas secara daring, menjadi kreator konten, atau menjual produk digital. Apa yang dulu sekadar dianggap pekerjaan tambahan, kini lebih dikenal sebagai side hustle.Banyak yang melihat fenomena ini sebagai dampak langsung dari tekanan ekonomi. Anggapan itu memang tidak sepenuhnya keliru. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, biaya tempat tinggal semakin mahal, sementara kebutuhan hidup bertambah dari waktu ke waktu. Dalam situasi seperti itu, mencari tambahan penghasilan menjadi pilihan yang terasa masuk akal.Namun, jika penjelasannya berhenti di sana, kita justru melewatkan persoalan yang lebih besar. Tidak semua pekerja yang menghadapi tekanan ekonomi memilih membangun side hustle. Sebaliknya, tidak sedikit pekerja yang kondisi keuangannya relatif stabil tetap berusaha menciptakan sumber pendapatan kedua. Artinya, keputusan untuk memiliki pekerjaan sampingan tidak semata-mata ditentukan oleh kondisi ekonomi.Data menunjukkan bahwa perubahan ini memang nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 15,45 persen pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan pada 2023, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, survei Katadata Insight Center (KIC) terhadap kelompok kelas menengah menemukan bahwa hampir separuh responden telah memiliki side hustle. Menariknya, alasan yang paling banyak dikemukakan bukan untuk mengejar gaya hidup yang lebih tinggi, melainkan memperkuat ketahanan finansial di tengah situasi ekonomi yang dipandang semakin tidak menentu.Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan sampingan bukan lagi fenomena pinggiran. Ia mulai menjadi bagian dari strategi hidup, terutama bagi generasi muda yang sedang membangun karier.Ilustrasi aktivitas pekerja di lingkungan perkantoran modern. Sumber: CadoMaestro/PexelsIronisnya, di saat peluang ekonomi semakin beragam, rasa aman justru terasa semakin sulit diperoleh. Perkembangan teknologi memang membuka banyak kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari berbagai platform digital. Namun, teknologi yang sama juga mengubah pasar kerja dengan sangat cepat. Gelombang pemutusan hubungan kerja, otomatisasi, perkembangan kecerdasan buatan, hingga perubahan kebutuhan industri membuat banyak pekerja menyadari bahwa kepastian pekerjaan tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang permanen.Dalam kondisi seperti itulah memiliki lebih dari satu sumber pendapatan mulai dipandang sebagai bentuk antisipasi terhadap risiko. Yang dicari bukan sekadar tambahan uang, melainkan ketenangan ketika menghadapi kemungkinan terburuk.Di sinilah side hustle menjadi menarik jika dilihat dari perspektif opini publik. Tekanan ekonomi memang menjadi pemicu, tetapi bukan satu-satunya penjelasan mengapa pekerjaan sampingan kini dianggap sebagai sesuatu yang hampir "wajib" dimiliki. Perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh cara masyarakat membicarakan dan memaknai fenomena ini.Hampir setiap hari kita disuguhi narasi tentang pentingnya memiliki multiple income, membangun personal branding, menciptakan pendapatan pasif, atau memanfaatkan peluang ekonomi digital. Narasi itu hadir melalui media sosial, podcast, seminar, buku pengembangan diri, bahkan cerita dari teman sendiri. Pesannya hampir selalu sama: jangan bergantung pada satu sumber penghasilan.Tidak ada yang salah dengan anjuran tersebut. Memiliki sumber pendapatan tambahan memang dapat memperkuat kondisi keuangan seseorang. Persoalannya muncul ketika pesan yang sama terus diulang hingga perlahan berubah menjadi keyakinan bersama. Mengandalkan satu pekerjaan mulai dipandang sebagai keputusan yang berisiko, sedangkan memiliki side hustle dianggap sebagai pilihan yang lebih bijak.