Ketika Sepak Bola Bukan Lagi Sekadar Lapangan Hijau di Piala Dunia 2026

Wait 5 sec.

Pemain Timnas Prancis Kylian Mbappe menendang bola ke arah gawang Timnas Paraguay pada pertadingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Philadelphia, Pennsylvania, AS, Sabtu (4/7/2026). Foto: Charly TRIBALLEAU / AFPKylian Mbappe baru saja mencetak gol penalti yang membawa Prancis melaju ke perempat final Piala Dunia 2026. Pertandingan melawan Paraguay di Philadelphia disebut sebagai salah satu laga paling panas yang pernah tercatat di turnamen ini, penuh pelanggaran keras, emosi yang meluap, dan insiden di atas maupun di luar lapangan. Tapi yang kemudian ramai diperbincangkan bukan tentang golnya, bukan tentang permainan kotor Paraguay yang sempat ia sindir, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.Seorang senator Paraguay bernama Celeste Amarilla melontarkan ejekan berbau rasisme kepada Mbappe di media sosial. Ia menyebut penyerang berdarah Kamerun itu sebagai orang yang berpura-pura menjadi orang Prancis, sebuah pernyataan yang langsung memicu kemarahan di Prancis, kecaman dari pemerintah Paraguay sendiri, dan pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh sepak bola sudah maju, dan seberapa jauh rasisme masih bertahan di dalamnya?Ketika Gol Tidak Cukup untuk Membuktikan DiriMbappe lahir di Bondy, pinggiran Paris. Ayahnya berasal dari Kamerun, ibunya dari Aljazair. Dia tumbuh sebagai orang Prancis, bermain untuk Prancis, dan kini memimpin Prancis sebagai kapten di Piala Dunia. Tapi bagi sebagian orang, semua itu rupanya masih belum cukup.Ejekan senator Amarilla bukan sekadar hinaan kepada satu individu. Ini adalah cerminan dari cara pandang sebagian orang yang masih mengukur keabsahan identitas seseorang berdasarkan warna kulit atau asal-usul leluhur, bukan berdasarkan tempat tumbuh, bahasa yang digunakan, atau kontribusi yang telah diberikan. Mbappe sudah mencetak 19 gol di Piala Dunia sepanjang kariernya, menyamai rekor Lionel Messi, tapi bagi senator itu, angka-angka tersebut tampaknya tidak bicara apa-apa.Prancis Marah, Paraguay pun MaluRespons yang datang tidak main-main. Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, menyebut pernyataan Amarilla menjijikkan dan semakin tidak dapat diterima justru karena keluar dari mulut seorang politisi. Federasi Sepak Bola Prancis menyatakan dukungan penuh kepada Mbappe dan menyerukan agar sang senator dijerat hukum.Yang menarik, bahkan pemerintah Paraguay sendiri memilih untuk tidak membela warganya. Kementerian Luar Negeri Paraguay secara resmi menegaskan bahwa pernyataan Amarilla sama sekali tidak mewakili posisi negara atau rakyat Paraguay, dan bertentangan dengan nilai-nilai penghormatan terhadap martabat manusia yang mereka junjung. Sebuah kecaman yang langka, dari pemerintah terhadap warganya sendiri, tapi juga sebuah pengakuan bahwa apa yang diucapkan sang senator melampaui batas yang tidak seharusnya dilampaui.Mbappe Pilih Diam, tapi Lapangan Tetap BerbicaraDi tengah semua keributan itu, Mbappe memilih tidak merespons secara terbuka. Pelatih Didier Deschamps menegaskan kaptennya dalam kondisi mental yang baik dan sepenuhnya fokus untuk menghadapi Maroko di perempat final malam ini. Bagi Deschamps, satu-satunya tempat untuk menjawab adalah di atas lapangan.Dan malam ini, Prancis menghadapi Maroko di Boston Stadium, mengulang semifinal Piala Dunia 2022 yang dimenangkan Prancis dua gol tanpa balas. Keduanya bukan tim sembarangan: Mbappe memburu gol ke-20 di Piala Dunia untuk menyamai rekor Messi, sementara Maroko datang dengan catatan delapan penampilan di mana Ounahi selalu mencetak gol dalam tim yang menang.Tapi di luar segala statistik dan prediksi, ada sesuatu yang lebih penting dari hasil akhir malam ini. Piala Dunia adalah salah satu panggung terbesar di mana dunia menonton bersama, dan ketika seorang senator memilih momen itu untuk melontarkan ejekan rasial kepada pemain terbaik di lapangan, dunia pun menyaksikannya bersama pula. Itu bukan hanya masalah Paraguay dan Prancis. Itu masalah kita semua.