BPBD Samarinda Siaga Karhutla, Juli-Agustus Diprediksi Jadi Puncak Kemarau

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, SAMARINDA - Pemerintah Kota Samarinda mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring masuknya periode cuaca panas yang diperkirakan berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak dini untuk mencegah terjadinya kebakaran yang dapat meluas dan mengganggu aktivitas masyarakat.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan perubahan pola cuaca mulai terlihat sejak akhir Juni. Meskipun hujan masih turun di beberapa wilayah, intensitasnya semakin berkurang dan suhu udara cenderung meningkat.Menurutnya, sejumlah informasi dari instansi terkait menunjukkan bahwa periode Juli hingga Agustus berpotensi menjadi fase terpanas tahun ini. Kondisi tersebut diperkuat dengan adanya pengaruh fenomena iklim yang dapat meningkatkan risiko munculnya titik api di sejumlah kawasan.“Awal Juli sampai Agustus diperkirakan menjadi puncak panas. Kami juga menerima informasi adanya potensi dampak El Nino yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kebakaran, termasuk di kawasan tempat pembuangan akhir,” ujar Suwarso pada Sabtu (11/7/2026).Ia menjelaskan, beberapa wilayah di Samarinda pernah mengalami kebakaran lahan pada musim kemarau sebelumnya. Kawasan seperti Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran menjadi daerah yang masuk dalam pemantauan karena memiliki riwayat kejadian serupa.Sebagai langkah pencegahan, BPBD telah memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran dan Manggala Agni. Selain itu, keberadaan Kelurahan Tangguh Bencana juga dioptimalkan untuk mendukung deteksi dini dan penanganan awal apabila ditemukan kebakaran di lingkungan masyarakat.Suwarso menuturkan sistem penanganan darurat telah disiapkan agar seluruh unsur terkait dapat bergerak cepat saat menerima laporan dari lapangan. Dengan pola koordinasi tersebut, kebakaran diharapkan dapat ditangani sebelum meluas ke area yang lebih besar.“Semua unsur sudah siap. Ketika ada laporan dan titik lokasi diketahui, penanganan bisa langsung dilakukan bersama-sama,” katanya.Di samping kesiapan petugas, BPBD menilai peran masyarakat menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan karhutla. Warga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membersihkan sampah maupun membuka lahan.Menurut Suwarso, tindakan tersebut masih menjadi salah satu penyebab utama munculnya kebakaran saat musim kemarau. Selain menimbulkan kerugian lingkungan, aktivitas pembakaran juga dapat mengancam keselamatan pelakunya sendiri.Ia mengingatkan pernah terjadi kasus warga meninggal dunia akibat terjebak asap ketika melakukan pembakaran lahan. Peristiwa itu menjadi pelajaran penting agar masyarakat lebih berhati-hati dalam mengelola lahan selama musim kering.“Kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara dibakar. Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan setelah kebakaran terjadi,” tegasnya.BPBD berharap kesadaran masyarakat terus meningkat sehingga risiko kebakaran selama puncak musim kemarau dapat ditekan. Dengan dukungan seluruh pihak, ancaman karhutla di Samarinda diharapkan dapat diminimalkan sepanjang periode cuaca panas tahun ini.