Habis Tanjung Verde Terbenam di Piala Dunia, Terbitlah Konten Negatif Argentina

Wait 5 sec.

Ilustrasi konten negatif seputar Piala Dunia 2026 (Dibuat dengan AI Gemini)Kegigihan tim nasional sepak bola Tanjung Verde saat menghadapi kesebelasan Argentina mempesona penonton Piala Dunia 2026. Tidak lama setelah pertandingan itu, konten mengapresiasi pemain Cabo Verde memenuhi linimasa.Seperti banyak pengguna media sosial lainnya, saya menonton konten-konten itu dan menyukai beberapa di antaranya. Namun tidak lama setelahnya isi linimasa yang awalnya perayaan mulai berubah semakin gelap.Bersamaan dengan mengalirnya konten serba-serbi Tanjung Verde, menyeruak juga konten negatif tentang Argentina. Awalnya muncul konten yang membahas tulisan jurnalis Argentina tentang rasisme di negaranya yang tercermin dari yel-yel terhadap pemain berkulit hitam di negara rival terbesar mereka di Amerika Selatan: Brazil.Setelahnya muncul konten dari seorang kreator berkulit hitam di Argentina tentang diskriminasi oleh negara terhadap mereka. Budaya dan eksistensi sosial mereka secara sistematis dipinggirkan di Argentina.Pada satu titik saya berhenti dan bertanya, ada apa ini? Saya memang bukan pendukung Argentina, tetapi mengapa algoritma medsos menggiring saya dari informasi soal pertandingan Piala Dunia ke arah yang bisa menumbuhkan sentimen negatif terhadap timnas Argentina, suporternya, dan lebih jauh lagi, negaranya?Datafikasi, cara algoritma mengenali penyuka atau pembenci Messi di Piala DuniaIlustrasi algoritma (Dibuat dengan AI Gemini)Sejak membuka media sosial, seketika itu juga platform merekam aktivitas dan memformulasikannya menjadi data tentang profil dan preferensi seorang pengguna. Proses ini dalam ranah kajian media disebut sebagai datafikasi yang menjadi dasar logika media sosial.Datafikasi memungkinkan algoritma bekerja untuk personalisasi sehingga platform bisa memberikan konten sesuai selera pengguna. Personalisasi bertujuan membuat pengguna betah berlama-lama di sebuah platform karena merasa informasi yang didapat menarik dan relevan.Riset terhadap algoritma media sosial oleh dua peneliti University of Zurich, Maximilian Boeker dan Aleksandra Urman menunjukkan datafikasi mengambil data dari tindakan sadar seperti mengklik like atau membagikan ulang sebuah konten. Juga dari perilaku yang tidak disadari seperti melewati sebuah konten atau melihat sebuah video pendek dengan rentang waktu tertentu.Data ini diakumulasi dan setiap membuka pengguna membuka media sosial aktivitasnya saat itu dibandingkan dengan perilaku sebelumnya untuk menyusun dan merevisi rekomendasi konten. Misalnya saja sejak perhelatan Piala Dunia dimulai seorang pengguna tidak pernah berinteraksi dengan konten seputar Messi dan Argentina, tapi sering menyukai konten tentang Cristiano Ronaldo. Algoritma merekam itu dan saat pertandingan Tanjung Verde dan Argentina terjadi, pengguna mungkin akan menerima lebih memberikan lebih banyak konten terkait Tanjung Verde dan bukannya Argentina.Selain preferensi, algoritma juga menerima data dari feedback loop atau umpan balik. Setelah merekam perilaku, algoritma mencoba menyajikan konten untuk menguji apakah sebuah topik menarik perhatian pengguna. Jika pengguna ternyata mengonsumsi konten yang ditawarkan atau bahkan menyukainya, maka algoritma menganggap topik yang ditawarkan itu cocok dan akan terus menawarkan konten dengan topik yang sama.Masalah kemudian muncul ketika algoritma merekomendasikan semakin banyak konten dari topik yang sama itu. Konten apa yang selanjutnya akan ditawarkan agar pengguna tidak bosan dan justru semakin tertarik dengan sebuah topik?Konten kontroversi dan menguras emosi mendorong pengguna menghabiskan waktu lebih banyak di medsosRiset-riset menunjukkan konten yang bisa membuat pengguna media sosial terjerat perhatiannya adalah konten-konten yang sensasional dan kontroversial yang memancing emosi. Konten-konten itu membuat seorang pengguna tidak saja menghabiskan waktu lebih lama dan lebih intens berinteraksi dengan konten, tetapi juga bisa menarik koneksi sosialnya untuk mengonsumsi konten yang sama.Proses feedback loop dalam datafikasi ini yang bisa sedikit menjelaskan pengalaman penyebab linimasa berubah dari konten soal pertandingan Tanjung Verde melawan Argentina di media menjadi pembahasan soal rasisme dan diskriminasi sosial di Argentina. Pengguna medsos yang antipati terhadap Cristiano Ronaldo atau yang kesal karena Portugal menang setelah wasit menganulir gol penyama kedudukan dari Krosia mungkin akan menerima konten-konten tentang Portugal atau Ronaldo yang lebih menguras emosi.Upaya algoritma untuk membuat pengguna berlama-lama di media sosial berpeluang mengantar mereka berjumpa pada konten-konten yang kontroversial dan emosional sehingga bisa menyeret penonton ke sentimen negatif yang berlebihan. Sentimen negatif yang berlebihan itu lebih besar peluangnya di ajang Piala Dunia yang memang tontonan berbasis sentimen.Piala Dunia, berkumpulnya penonton dengan sentimen samaIlustrasi penonton Piala Dunia 2026 (Dibuat dengan AI Gemini)Piala Dunia bukanlah kompetisi yang rasional bagi sebagian besar penontonnya. Jika Piala Dunia ajang yang rasional, tentulah cuma orang yang negaranya masuk putaran final yang menontonnya. Nyatanya banyak penonton berasal dari negara yang tidak lolos ke Amerika, Kanada, dan Meksiko seperti pemirsa di Indonesia.Mayoritas penonton pertandingan Piala Dunia menyaksikannya karena alasan emosional. Mulai dari pemain favoritnya atau pemain dari klub yang didukungnya berlaga di sana atau punya kedekatan emosional dengan negara yang bertanding.Saat aktivitas menonton itu tumpah ke media sosial terbentuklah sebuah komunitas besar yang seperti disampaikan pakar komunikasi Zizi Papacharissi adalah affective public atau publik yang disatukan dengan emosi dan sentimen yang sama. Artinya, ada sekelompok orang dengan sentimen serupa menyaksikan sebuah pertandingan yang sama.Penonton Piala Dunia adalah affective public, komunitas besar yang terbentuk karena kesamaan sentimenSecara fisik memang mereka terpisah, namun jarak dan waktu itu menghilang saat pendukung sebuah negara masuk ke media sosial. Perasaan penonton Piala Dunia tumpah ruah di medsos apalagi setelah laga yang menegangkan hingga menit-menit akhir serta penuh drama dan kontroversi. Emosi sesaat yang tengah tinggi itu bisa berubah cepat menjadi sentimen negatif yang berlebihan ketika berjumpa dengan konten-konten yang negatif tentang negara lawan.Semakin mendekati final, tensi akan kian tinggi. Jika Anda mendukung salah satu tim calon juara dan punya perasaan kuat terhadap kesebelasan itu, maka potensi berjumpa dengan konten negatif terhadap sosok atau negara yang dianggap “musuh” akan semakin besar, Di titik persimpangan jalan feedback loop algoritma itu perilaku di medsos selanjutnya akan menentukan data yang akan disetor sebagai umpan balik untuk algoritma.Seperti dalam kasus Tanjung Verde tadi, pengguna medsos ketika berdiri di pertigaan algoritma tadi bisa memilih belok ke jalan tentang keindahan Tanjung Verde dan mendapatkan konten yang menunjukkan cat bus di sana mirip Metro Mini di Jakarta. Atau adanya pesepak bola dari Cabo Verde yang pernah bermain di PSM Makassar dan Arema Malang.Bisa juga berbelok ke pembahasan tentang rasisme dan diskriminasi yang tentunya memerlukan kematangan emosi untuk tidak larut menjadi kebencian yang berlebihan terhadap Argentina. Kepedulian terhadap masalah rasisme dan kelompok marjinal di Argentina bukanlah alasan untuk membenci semua orang Argentina atas kebijakan negatif pemerintahnya atau perilaku negatif sebagian penduduknya hanya karena terbawa emosi sesaat akibat tontonan Piala Dunia.Bukankah semua negara seperti itu, termasuk juga Indonesia. Tidak semua orang setuju dengan kebijakan dan sikap pemerintah serta pendapat mayoritas penduduk di Indonesia.Emosi sesaat dan algoritma media sosial bisa mengalihkan penonton dari esensi putaran final Piala Dunia: adu ketangkasan antar-negara tanpa kekerasan dan senjata. Momen ketika kita bisa menyaksikan beragam budaya dunia berjumpa dan negara-negara menyumbangkan para pemain terbaiknya untuk dinikmati bersama oleh sesama penyuka sepak bola.Seperti disampaikan beberapa komentator sepak bola, lampaui saja perdebatan dan kontroversi supaya bisa fokus menikmati jalannya pertandingan dan kompetisi. Resapi perasaan hangat melihat perjuangan tim-tim kuda hitam seperti Tanjung Verde dan mungkin momen terakhir melihat pemain bintang seperti Neymar, Messi, dan Ronaldo bermain di Piala Dunia. Siuuuuu!!!!