Ilustrasi KB IUD. Foto: WiP-Studio/ShutterstockKasus yang dialami Renzy Firnendya Prilihandini (30) menarik perhatian setelah IUD yang dipakainya selama tiga tahun ternyata sulit dilepas karena terbenam di dinding rahim. Alat kontrasepsi tersebut dipasang saat ia menjalani operasi caesar, sehingga memunculkan pertanyaan apakah prosedur tersebut meningkatkan risiko embedded IUD.Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, SpOG, menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar."Tidak, pemasangan iud post placental tidak menyebabkan risiko terjadinya embedded IUD,” ucap dr. Andrew saat dihubungi kumparanMOM, Kamis (9/7).Ia menjelaskan, embedded IUD merupakan kondisi ketika sebagian alat kontrasepsi menempel atau masuk ke dalam dinding otot rahim (miometrium), sehingga proses pelepasannya menjadi lebih sulit.Apa penyebab IUD bisa terbenam?Menurut dr. Andrew, terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan embedded IUD. Salah satunya adalah posisi IUD yang kurang tepat sehingga sebagian alat menusuk ke otot rahim.Selain itu, ukuran rahim yang lebih kecil dibandingkan ukuran IUD, serta faktor teknis saat pemasangan maupun pelepasan, juga dapat memengaruhi terjadinya kondisi tersebut.“Embedded IUD biasanya karena posisi IUD yang salah sehingga menusuk ke otot rahim, ukuran rahim lebih kecil dari IUD hingga kemampuan dokter pada proses pemasangan dan pelepasan juga menjadi faktor,” ujarnya.Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dr. Andrew Yurius Christian, SpOG dalam podcast Ask the Expert kumparanMOM. Foto: kumparanPada kasus Renzy, dokter juga menemukan polip endometrium saat tindakan histeroskopi. Namun, dr. Andrew menegaskan bahwa polip bukanlah penyebab utama IUD menjadi terbenam.Menurutnya, keberadaan polip dan mekanisme kerja IUD yang menimbulkan peradangan ringan pada dinding rahim memungkinkan sebagian IUD tersangkut pada jaringan polip yang tumbuh. Meski begitu, polip tidak secara langsung menyebabkan embedded IUD, begitu pula sebaliknya.Kenapa IUD Sulit Dilepas?Selain itu, dr. Andrew juga mengatakan, IUD yang telah menancap terlalu dalam ke otot rahim, bahkan hingga sebagian besar berada di dalam miometrium, akan lebih sulit dicabut secara manual. Kondisi ini juga semakin menantang apabila benang IUD sangat pendek. Ilustrasi KB IUD Tembaga. Foto: ShutterstockDalam kondisi seperti itu, pasien biasanya memerlukan tindakan histeroskopi agar IUD dapat dilepas dengan aman. Namun, ia menambahkan bahwa tidak semua dokter spesialis obstetri dan ginekologi melakukan tindakan tersebut.“Tidak semua obgyn bisa melakukan histeroskopi dan biasanya memang kompetensi SpOG KFER. Tapi kalau sudah pernah terlatih SpOG biasa, bisa-bisa saja,” imbuhnya.karena histeroskopi umumnya menjadi kompetensi dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas, endokrinologi reproduksi (SpOG KFER), meski dokter yang telah mendapatkan pelatihan juga dapat melakukannya.Jangan Lewatkan Kontrol Rutin IUDMeski kasus embedded IUD dapat terjadi, dr. Andrew mengingatkan bahwa kondisi tersebut tergolong jarang sehingga perempuan tidak perlu takut menggunakan IUD sebagai metode kontrasepsi.Ilustrasi mengecek KB IUD. Foto: Allo4e4ka/ShutterstockIa menyarankan pengguna IUD menjalani kontrol secara berkala, setidaknya satu kali dalam setahun, atau lebih cepat jika muncul keluhan seperti nyeri atau perdarahan yang tidak biasa."Kontrol secara berkala satu tahun sekali atau lebih awal jika ada keluhan," ujar dr. Andrew.Menurutnya, pemeriksaan rutin penting untuk memastikan posisi IUD tetap baik sekaligus mendeteksi lebih dini bila muncul masalah yang memerlukan penanganan.