Herd Immunity untuk Bumi

Wait 5 sec.

Herd Immunity, sumber: AIKetika pandemi Covid-19 melanda, manusia berlomba menemukan vaksin. Para ilmuwan bekerja siang dan malam, pemerintah menggelontorkan anggaran besar, sementara masyarakat rela mengantre demi satu suntikan kecil. Dunia akhirnya belajar bahwa melawan ancaman global tidak cukup dilakukan sendirian. Dibutuhkan perlindungan kolektif agar kehidupan dapat kembali berjalan.Hari ini, ancaman itu telah berganti wajah.Ia tidak lagi menyerang paru-paru manusia, melainkan perlahan menggerogoti keseimbangan bumi. Ia tidak memenuhi ruang perawatan rumah sakit, tetapi memenuhi laporan tentang banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan gagal panen. Ia tidak membuat tubuh demam, tetapi membuat harga pangan melonjak dan kehidupan jutaan orang menjadi semakin rentan.Virus yang Menyerang DapurKrisis iklim sering dianggap sebagai isu lingkungan. Padahal dampaknya jauh melampaui itu. Ketika musim hujan bergeser, produksi pertanian ikut berubah. Ketika kekeringan berkepanjangan melanda, pasokan pangan menurun. Akibatnya, harga kebutuhan pokok meningkat dan beban terbesar selalu dirasakan oleh masyarakat kecil.United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) mencatat bahwa bencana terkait iklim telah menyebabkan kerugian ekonomi global hampir US$3 triliun selama dua dekade terakhir. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat petani yang kehilangan panen, nelayan yang kehilangan hasil tangkapan, hingga keluarga yang harus membayar lebih mahal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Karena itulah, perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan lingkungan hidup. Ia telah menjadi persoalan ekonomi, ketahanan pangan, bahkan kesejahteraan masyarakat.Saat pandemi, manusia memiliki vaksin. Namun ketika bumi "jatuh sakit", tidak ada satu suntikan yang mampu memulihkan semuanya dalam semalam.Dunia memang telah bergerak melalui Sustainable Development Goals (SDGs), Paris Agreement, hingga komitmen Net Zero Emission. Indonesia pun menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 31,89 persen secara mandiri dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030. Namun sebesar apa pun kebijakan pemerintah, ia tidak akan cukup tanpa partisipasi masyarakat.Sebab bumi tidak memiliki sistem kekebalan yang bekerja sendiri.Ketahanan bumi justru dibangun oleh jutaan tindakan kecil yang dilakukan secara bersama-sama. Satu pohon yang ditanam. Satu mata air yang dijaga. Satu hektare mangrove yang direstorasi. Semua tampak sederhana, tetapi ketika dilakukan secara kolektif, dampaknya menjadi luar biasa.Wakaf Hijau Menjadi KekebalanDi sinilah wakaf hijau menemukan maknanya. Selama ini banyak orang memandang wakaf hanya identik dengan pembangunan masjid atau fasilitas ibadah. Padahal wakaf juga dapat diwujudkan dalam bentuk yang menjaga keberlanjutan kehidupan, seperti konservasi hutan, perlindungan sumber air, rehabilitasi mangrove, pertanian produktif, hingga penyediaan energi bersih bagi masyarakat.Setiap wakaf hijau mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Namun ketika dilakukan oleh jutaan orang, ia membentuk ketahanan ekologis yang menyerupai herd immunity. Bukan kekebalan bagi tubuh manusia, melainkan kekebalan bagi bumi yang kita tinggali bersama.Pandemi pernah mengajarkan bahwa keselamatan lahir dari kebersamaan. Krisis iklim mengajarkan pelajaran yang serupa. Tidak ada satu negara, satu lembaga, atau satu orang yang mampu mengatasinya sendirian.Pada akhirnya, bumi tidak membutuhkan lebih banyak pahlawan. Bumi membutuhkan lebih banyak orang biasa yang bersedia melakukan satu kebaikan luar biasa secara bersama-sama.Mungkin, vaksin terbaik bagi bumi bukanlah sesuatu yang disuntikkan ke tubuh manusia. Melainkan sesuatu yang kita tanam, kita jaga, dan kita wakafkan untuk generasi yang bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.