Ilustrasi logo Instagram. Foto: Pavel105/ShutterstockBeberapa waktu lalu, seorang teman bercerita bahwa ia lebih nyaman mengunggah cerita di second account daripada di akun utamanya. Awalnya saya mengira alasannya sederhana, yaitu karena jumlah pengikut di akun kedua lebih sedikit. Namun, setelah mendengarkan ceritanya, saya menyadari bahwa yang ia cari bukan sekadar ruang dengan audiens yang lebih terbatas, melainkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri tanpa terus-menerus memikirkan penilaian orang lain.Di akun utamanya, ia selalu mempertimbangkan apa yang akan diunggah. Foto dipilih dengan hati-hati, caption ditulis seperlunya, bahkan ia kerap mengurungkan niat untuk membagikan sesuatu karena khawatir dianggap berlebihan. Sebaliknya, di second account, ia merasa jauh lebih bebas. Ia bisa mengunggah foto yang tidak sempurna, mengeluhkan tugas kuliah yang menumpuk, membagikan meme yang menurutnya lucu, atau sekadar bercerita bahwa hari itu terasa melelahkan.Ilustrasi Gen Z. Foto: Fit Ztudio/ShutterstockCerita itu membuat saya penasaran. Saya kemudian bertanya kepada beberapa teman lain, dan menariknya, sebagian besar memberikan jawaban yang hampir serupa. Mereka mengaku lebih nyaman membagikan cerita di second account bukan karena ingin menyembunyikan diri atau menjalani "kehidupan kedua". Bagi mereka, akun tersebut terasa lebih aman karena tidak perlu terlalu memikirkan apakah unggahan mereka akan dianggap berlebihan, memalukan, atau justru mengundang komentar yang menghakimi.Salah seorang teman bahkan mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak takut bercerita, tetapi takut tidak dipahami. Baginya, second account menjadi tempat untuk mengekspresikan diri tanpa khawatir ceritanya disalahartikan atau menjadi bahan pembicaraan orang lain. Kalimat sederhana itu membuat saya berpikir bahwa yang dicari banyak orang bukanlah akun kedua, melainkan rasa aman untuk menjadi diri sendiri.Fenomena seperti ini bukan lagi hal yang asing, terutama di kalangan Generasi Z. Second account telah berkembang menjadi lebih dari sekadar akun cadangan. Bagi sebagian orang, akun tersebut menjadi ruang yang lebih personal untuk berbagi cerita, mengekspresikan emosi, atau mengunggah hal-hal yang mungkin tidak ingin mereka tampilkan di akun utama.Di balik fenomena tersebut, muncul pertanyaan yang menurut saya menarik. Mengapa seseorang merasa membutuhkan "ruang kedua" agar bisa lebih leluasa menunjukkan sisi dirinya? Apakah akun utama telah berubah menjadi ruang yang dipenuhi ekspektasi untuk selalu terlihat baik, atau memang setiap orang membutuhkan ruang yang lebih personal untuk mengekspresikan dirinya?Pertanyaan itulah yang membuat fenomena second account layak dibahas lebih jauh. Sebab, di balik unggahan yang tampak sederhana, tersimpan persoalan yang lebih besar tentang bagaimana manusia membangun identitas, membuka diri, dan berkomunikasi di era digital.Pengalaman teman-teman tersebut mengingatkan saya pada Social Penetration Theory yang diperkenalkan oleh Irwin Altman dan Dalmas Taylor pada 1973. Teori ini menjelaskan bahwa keterbukaan diri berkembang ketika seseorang merasa diterima, dipercaya, dan tidak khawatir akan penilaian negatif dari orang lain. Semakin besar rasa aman yang dirasakan, semakin besar pula kemungkinan seseorang mengungkapkan pikiran, perasaan, maupun pengalaman pribadinya.Fenomena second account tampaknya sejalan dengan penjelasan tersebut. Ketika seseorang hanya berbagi dengan lingkaran yang lebih kecil dan terdiri atas orang-orang yang dipercaya, tekanan untuk menjaga citra diri cenderung berkurang. Akibatnya, mereka lebih leluasa mengekspresikan pikiran, emosi, maupun pengalaman tanpa merasa harus selalu tampil sempurna. Temuan ini juga diperkuat oleh penelitian Lathifunnisa, Firdasannah, dan Nurbadriah (2025) yang menunjukkan bahwa banyak pengguna second account memanfaatkan akun tersebut sebagai ruang untuk melakukan self-disclosure karena merasa lebih aman, nyaman, dan terbebas dari tekanan penilaian sosial yang sering muncul di akun utama.Namun, rasa aman saja tampaknya belum cukup untuk menjelaskan mengapa seseorang dapat menampilkan dua sisi yang berbeda di media sosial. Untuk memahami hal tersebut, perspektif dramaturgi dari Erving Goffman menawarkan sudut pandang yang menarik. Goffman menggambarkan kehidupan sosial layaknya sebuah pertunjukan. Dalam situasi tertentu, seseorang berada di front stage, yaitu ruang ketika ia menampilkan citra yang ingin dilihat oleh orang lain. Sebaliknya, back stage menjadi ruang yang lebih pribadi, tempat seseorang tidak lagi merasa harus memainkan peran tertentu.Jika dianalogikan dengan media sosial, akun utama sering kali menjadi front stage. Unggahan dipilih dengan lebih hati-hati karena audiensnya lebih luas dan beragam. Sebuah foto mungkin dipilih berkali-kali, sementara caption ditulis, dihapus, lalu ditulis kembali sebelum akhirnya dipublikasikan. Sebaliknya, second account lebih menyerupai back stage, ruang yang memberi kebebasan untuk menunjukkan sisi diri yang lebih spontan kepada orang-orang yang dipercaya.Pandangan tersebut juga didukung oleh penelitian etnografi virtual yang diterbitkan pada 2026 mengenai penggunaan second account di Instagram. Penelitian itu menemukan bahwa pengguna cenderung lebih terbuka dalam mengungkapkan emosi, pengalaman pribadi, maupun kesehariannya di akun kedua. Sebaliknya, akun utama lebih banyak digunakan sebagai ruang untuk membangun dan menjaga citra diri di hadapan audiens yang lebih luas. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa konsep front stage dan ack stage masih relevan untuk memahami cara individu mengelola identitasnya di media sosial saat ini.Meski demikian, perbedaan tersebut tidak berarti seseorang memiliki dua kepribadian. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun menampilkan diri secara berbeda sesuai dengan situasi yang dihadapi. Cara kita berbicara dengan keluarga tentu berbeda dengan cara kita berbicara kepada dosen, teman dekat, atau rekan kerja. Perbedaan itu bukan menunjukkan bahwa kita menjadi orang yang berbeda, melainkan karena setiap hubungan memiliki tingkat kedekatan, batasan, dan ekspektasi yang tidak sama.Karena itu, second account lebih tepat dipahami sebagai cara seseorang mengelola identitasnya di ruang digital. Bukan untuk berpura-pura menjadi orang lain, melainkan untuk menentukan kepada siapa, kapan, dan dalam situasi seperti apa ia merasa cukup aman untuk membuka dirinya. Pada akhirnya, yang ditampilkan seseorang di media sosial bukan hanya dipengaruhi oleh teknologi, tetapi juga oleh kebutuhan manusia untuk merasa diterima, dipahami, dan aman ketika membangun hubungan dengan orang lain.Pada akhirnya, second account bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebagai hal yang sepenuhnya positif maupun negatif. Kehadirannya justru menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan diri. Ada yang merasa nyaman berbagi cerita di akun utama, ada pula yang membutuhkan ruang yang lebih kecil dan lebih personal agar dapat berbicara dengan lebih leluasa.Fenomena ini juga mengingatkan bahwa media sosial bukan sekadar tempat berbagi momen, tetapi ruang yang dipenuhi berbagai ekspektasi. Tidak sedikit orang yang merasa perlu terlihat baik, produktif, atau selalu bahagia di hadapan banyak orang. Akibatnya, sisi diri yang lebih personal sering kali hanya dibagikan kepada lingkaran yang benar-benar dipercaya.Dalam konteks tersebut, second account bukan berarti seseorang sedang menciptakan identitas baru. Sebaliknya, akun itu menjadi cara untuk mengatur batasan tentang siapa yang boleh melihat sisi tertentu dari dirinya. Hal serupa sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kita mungkin bercerita dengan sangat terbuka kepada sahabat, tetapi memilih lebih berhati-hati ketika berbicara dengan orang yang baru dikenal. Perbedaannya, di media sosial batasan itu diwujudkan melalui akun, daftar pengikut, atau berbagai fitur yang memungkinkan kita memilih audiens.Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah apakah second account adalah tempat menjadi diri sendiri atau topeng baru. Pertanyaan yang patut kita renungkan justru, mengapa begitu banyak orang merasa membutuhkan ruang kedua untuk menunjukkan sisi dirinya yang tidak berani mereka tampilkan di ruang pertama?Barangkali, jawabannya bukan terletak pada second account itu sendiri. Bisa jadi, yang sebenarnya dicari banyak orang adalah rasa aman untuk menjadi diri sendiri tanpa harus terus-menerus memikirkan bagaimana mereka akan dinilai oleh orang lain. Fenomena second account akhirnya memperlihatkan bahwa di balik perkembangan teknologi dan media sosial, kebutuhan manusia untuk diterima, dipahami, dan merasa aman ketika berkomunikasi tetap tidak berubah.Mungkin, yang benar-benar kita butuhkan bukanlah akun kedua. Yang kita butuhkan adalah ruang yang membuat kita tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun. Ketika ruang seperti itu semakin banyak kita temukan, baik di dunia digital maupun di kehidupan nyata, barangkali kita tidak lagi membutuhkan "ruang kedua" hanya untuk merasa menjadi diri sendiri.Referensi:Analisis Pengungkapan Diri Pengguna Second Account Instagram: Studi Etnografi Virtual. (2026). Jurnal Komunikasi Universitas Garut.