Fenomena PayLater di Kalangan Mahasiswa: Solusi atau Jebakan?

Wait 5 sec.

Ilustrasi paylater. Foto: ShutterstockPerkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat bertransaksi. Salah satu inovasi yang berkembang pesat adalah layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal sebagai PayLater, yaitu fasilitas yang memungkinkan pengguna membeli barang atau jasa sekarang dan membayarnya di kemudian hari.Kemudahan tersebut menjadikan PayLater semakin populer, terutama di kalangan generasi muda, termasuk mahasiswa. Di satu sisi, layanan ini menawarkan solusi atas kebutuhan finansial jangka pendek. Namun, di sisi lain, PayLater juga berpotensi menimbulkan masalah apabila digunakan tanpa perencanaan keuangan yang matang.Popularitas PayLater di Indonesia terus meningkat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa nilai pembiayaan BNPL di sektor perbankan terus mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Pada awal tahun 2025, outstanding pembiayaan PayLater telah mencapai sekitar Rp22,57 triliun, meningkat lebih dari 46% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan jumlah rekening pengguna mencapai sekitar 24,44 juta akun. Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan PayLater telah menjadi bagian penting dari ekosistem keuangan digital Indonesia. (Katadata)Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling dekat dengan perkembangan teknologi finansial. Sebagian besar aktivitas mereka telah terhubung dengan aplikasi digital, mulai dari berbelanja, memesan transportasi, hingga membeli kebutuhan akademik secara daring. Dalam kondisi tertentu, PayLater memang dapat memberikan manfaat. Ilustrasi paylater. Foto: ShutterstockTidak semua mahasiswa memiliki kondisi keuangan yang stabil karena masih bergantung pada uang saku orang tua atau penghasilan dari pekerjaan paruh waktu. Ketika membutuhkan buku kuliah, laptop, atau perlengkapan akademik secara mendesak, PayLater dapat menjadi alternatif pembiayaan jangka pendek tanpa harus meminjam kepada teman atau keluarga.Selain itu, apabila digunakan secara bertanggung jawab, PayLater juga dapat melatih mahasiswa untuk mengatur arus kas dan memahami kewajiban finansial. Pengguna belajar menyusun prioritas pengeluaran, memperhatikan jatuh tempo pembayaran, serta bertanggung jawab atas keputusan keuangan yang diambil. Dengan kata lain, PayLater bukan semata-mata alat konsumsi, tetapi juga dapat menjadi sarana belajar mengelola keuangan apabila digunakan secara disiplin.Namun, manfaat tersebut tidak dapat dipisahkan dari berbagai risiko yang menyertainya. Kemudahan memperoleh limit kredit hanya melalui telepon genggam membuat sebagian mahasiswa terdorong melakukan pembelian secara impulsif. Berbagai promosi seperti cashback, diskon, dan cicilan ringan sering kali membuat seseorang merasa mampu membeli sesuatu yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansialnya. Akibatnya, pengeluaran meningkat sementara pendapatan tetap terbatas.Kondisi tersebut diperkuat oleh berbagai hasil penelitian. Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 mengenai mahasiswa pengguna Shopee PayLater menunjukkan bahwa gaya hidup hedonis dan sikap keuangan pribadi berpengaruh terhadap perilaku keuangan mahasiswa. Artinya, semakin konsumtif gaya hidup seseorang, semakin besar pula kecenderungan menggunakan PayLater tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan secara matang. (Jurnal FEB UMI)Penelitian lain terhadap mahasiswa juga menemukan bahwa kemampuan mengendalikan diri (self-control) menjadi faktor penting dalam kecenderungan menggunakan PayLater. Mahasiswa yang memiliki pengendalian diri yang baik cenderung lebih mampu mempertimbangkan kebutuhan sebelum melakukan pembelian dibandingkan mereka yang mudah tergoda oleh promosi dan tren konsumsi. (Indo Jurnal)Risiko penggunaan PayLater tidak hanya berhenti pada bertambahnya tagihan. OJK mengingatkan bahwa keterlambatan pembayaran dapat tercatat dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK). Riwayat kredit yang buruk berpotensi menyulitkan seseorang ketika ingin mengajukan pinjaman, kartu kredit, atau Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di masa mendatang. Oleh karena itu, penggunaan PayLater tidak boleh dipandang sebagai "uang tambahan", melainkan sebagai utang yang tetap harus dilunasi sesuai perjanjian. (OJK Portal)Ilustrasi paylater. Foto: ShutterstockMenurut saya, permasalahan utama bukan terletak pada keberadaan PayLater, melainkan pada cara masyarakat, khususnya mahasiswa, menggunakannya. Teknologi finansial pada dasarnya diciptakan untuk memberikan kemudahan dan meningkatkan inklusi keuangan. Akan tetapi, tanpa disertai literasi keuangan yang memadai, kemudahan tersebut justru dapat mendorong perilaku konsumtif dan memperburuk kondisi finansial penggunanya.Karena itu, peningkatan literasi keuangan perlu menjadi perhatian bersama. Kampus dapat memberikan edukasi mengenai pengelolaan keuangan pribadi, penyusunan anggaran, dan risiko penggunaan kredit digital. Orang tua juga memiliki peran penting dalam membiasakan anak untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Di sisi lain, penyedia layanan PayLater perlu terus meningkatkan edukasi kepada pengguna mengenai risiko kredit, bunga, denda, dan konsekuensi keterlambatan pembayaran.Pada akhirnya, PayLater bukanlah solusi yang selalu baik, tetapi juga bukan jebakan yang pasti merugikan. Layanan ini dapat menjadi solusi apabila digunakan secara bijaksana untuk kebutuhan yang benar-benar penting dan sesuai dengan kemampuan membayar. Sebaliknya, apabila digunakan hanya untuk memenuhi gaya hidup konsumtif, PayLater dapat berubah menjadi jebakan finansial yang dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga memengaruhi kondisi keuangan seseorang pada masa depan. Oleh karena itu, sebelum menekan tombol "Bayar Nanti", mahasiswa sebaiknya bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya sekadar menginginkannya?