● Keluarga Indonesia semakin kecil, sementara jumlah lansia terus bertambah.● Beban merawat lansia semakin terkonsentrasi pada generasi muda dan perempuan.● Negara perlu memperkuat jaminan sosial dan layanan perawatan jangka panjang.Bayangkan kamu adalah seorang pekerja berusia 30-an yang tinggal di Jakarta, sementara orang tuamu berada di kota asal yang jauh dari Jakarta. Kamu sedang membayar cicilan rumah, membesarkan anak, dan mengejar karier. Pada saat yang sama, orang tuamu mulai membutuhkan biaya berobat atau bantuan untuk aktivitas sehari-hari.Jika kamu hanya memiliki satu saudara, atau bahkan kamu anak tunggal, siapa yang akan berbagi tanggung jawab itu?Situasi seperti ini akan semakin relevan bagi keluarga Indonesia. Pasalnya, hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan angka fertilitas atau kelahiran hidup total (TFR) Indonesia menurun menjadi 2,13 anak per perempuan, dari 2,18 dan 2,28 anak per perempuan pada Sensus Penduduk (SP) 2020 dan SUPAS 2015.Pada saat yang sama, penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 11,97%. Indonesia pun telah memasuki fase ageing population (penuaan penduduk) dengan rasio ketergantungan juga meningkat menjadi 45,05% di 2025 dari sebelumnya 44,3% di 2020. Ini artinya setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung sekitar 45 penduduk usia non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas).Perubahan demografi ini membawa kekhawatiran yang lebih besar daripada sekadar berapa banyak anak yang dimiliki sebuah keluarga. Ketika keluarga semakin kecil dan usia hidup semakin panjang, apakah sistem jaminan sosial, layanan kesehatan, dan perawatan jangka panjang Indonesia sudah siap menopang penduduk yang menua? Baca juga: Tanpa uang pensiun dan jaminan hari tua, masih banyak lansia terjerat kemiskinan dan terpaksa bekerja Keluarga makin kecil, jaring pengaman ikut menyempitSelama ini, keluarga adalah salah satu penyangga utama kehidupan lansia di Indonesia. Anak membantu membayar kebutuhan sehari-hari, menemani orang tua berobat, menyediakan tempat tinggal, atau merawat mereka ketika kemampuan fisik mulai menurun. Data Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023 menunjukkan lebih dari separuh lansia masih tinggal dalam rumah tangga multigenerasi.Keluarga di Indonesia juga semakin tersebar. Pendidikan dan pekerjaan membuat anak dewasa semakin mungkin tinggal jauh dari orang tua. Seorang anak mungkin bekerja di Jakarta, sementara orang tuanya tinggal di Surabaya, Jawa Timur; Medan, Sumatra Utara; atau Makassar, Sulawesi Selatan. Di sisi lain, dukungan anak tetap penting. Lebih dari 70% orang tua lansia masih menerima sejumlah uang dari anak. Keluarga kecil bukan berarti menghilangkan dukungan bagi lansia. Masalahnya, semakin sedikit anak berarti semakin sedikit orang yang dapat berbagi tanggung jawab tersebut.Lebih sedikit anak, lebih besar beban merawatPerawatan lansia dapat terkonsentrasi pada generasi yang sekarang berada di usia produktif. Mereka dikenal sebagai sandwich generation (generasi sandwich): orang yang harus menanggung kebutuhan hidup dua generasi sekaligus, orang tua yang menua dan anak yang belum mandiri secara finansial.Bentuknya mudah ditemukan dalam kehidupan keluarga muda saat ini: gaji bulanan harus dibagi untuk uang sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, cicilan, dan biaya kesehatan orang tua. Ketika orang tua sakit, ia mungkin harus mengambil cuti, pulang ke kampung halaman, lalu membayar pengasuh untuk menjaga anaknya di kota. Baca juga: Maraknya generasi sandwich: refleksi perlunya reformasi sistem pensiun di Indonesia Beban tersebut juga tidak terbagi secara merata. Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO) mencatat biaya jangka panjang perawatan lansia sering kali ditanggung anggota keluarga, terutama perempuan.Ketika layanan perawatan formal masih terbatas, perempuan kerap terpaksa mengurangi jam kerja menunda kariernya, atau bahkan keluar dari pasar kerja untuk merawat anak dan orang tua sekaligus. Ia kehilangan penghasilan pada saat kebutuhan rumah tangga justru meningkat karena harus menanggung biaya dua generasi.Kita tidak sedang menyalahkan bertambahnya jumlah lansia—apalagi menganggap merawat orang tua sebagai sesuatu yang keliru. Merawat orang tua tetap merupakan bagian penting dari hubungan dan tanggung jawab antargenerasi.Persoalannya bukan apakah anak harus merawat orang tua, melainkan apakah anak harus menjadi satu-satunya jaring pengaman ketika orang tuanya menua.Kesejahteraan seseorang di masa tua semestinya tidak sepenuhnya bergantung pada jumlah anak yang dimiliki atau kemampuan ekonomi mereka. Memastikan warga dapat hidup layak di usia tua merupakan bagian dari tanggung jawab negara.Keluarga mengecil, generasi berikutnya juga berubahDampak penurunan fertilitas tidak berhenti pada ukuran keluarga saat ini. Jika kelahiran terus menurun, Indonesia akan menghasilkan kelompok generasi yang semakin kecil. Ketika generasi tersebut memasuki usia kerja, pertumbuhan penduduk usia produktif pun akan melambat.Perubahan ini juga tidak tepat dijelaskan semata-mata dengan anggapan bahwa orang Indonesia “tidak mau punya anak”.Penelitian menunjukkan keputusan memiliki anak dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari pendidikan dan perubahan pola perkawinan hingga biaya membesarkan anak, kondisi pekerjaan, keamanan ekonomi, dan perubahan nilai keluarga. Di Indonesia, keterbatasan finansial menjadi salah satu hambatan utama.Karena itu, Indonesia tidak bisa selamanya mengandalkan pertumbuhan jumlah pekerja untuk menopang ekonomi. Ketika angkatan kerja tumbuh lebih lambat, kualitas manusia, kesehatan, dan produktivitas menjadi semakin penting.Artinya, penurunan fertilitas dan penuaan penduduk bukan dua persoalan yang terpisah. Keduanya perlahan mengubah siapa yang bekerja, siapa yang membutuhkan dukungan, dan siapa yang harus membiayai perawatan.Ketika keluarga tidak lagi cukup, negara harus hadirMasalahnya, sebagian besar pekerja Indonesia belum memiliki jaminan hari tua yang memadai.Sekitar 60% angkatan kerja bekerja di sektor informal yang umumnya tidak memiliki skema pensiun. Akibatnya, hanya sekitar 9% lansia yang bergantung pada dana pensiun, sementara hampir separuh masih mengandalkan keluarga. Bahkan, banyak lainnya tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Baca juga: Manfaat bekerja untuk lansia: bisakah dirasakan pekerja Indonesia? Kebutuhan kesehatan juga meningkat seiring bertambahnya usia. Sistem jaminan kesehatan menghadapi tekanan ketika kebutuhan lansia meningkat. BPJS Kesehatan mencatat defisit Rp14,61 triliun pada 2025, sementara penyakit katastropik seperti jantung, kanker, gagal ginjal, dan stroke menyerap lebih dari seperempat biaya pelayanan kesehatan. Penuaan penduduk diperkirakan turut meningkatkan beban klaim ke depan. Artinya, ketika jumlah lansia bertambah, sistem kesehatan yang diharapkan menopang mereka juga menghadapi tekanan keberlanjutan.Tanpa sistem perawatan jangka panjang yang memadai, biaya dan pekerjaan merawat lansia kembali jatuh kepada keluarga.Pentingnya mengubah cara pandangPerubahan demografi membutuhkan perubahan cara kita memandang jaminan sosial. Keluarga tetap menjadi bagian penting dari sistem perawatan, tetapi negara tidak dapat terus mengandalkan keluarga sebagai penyangga utama masa tua warganya.Ini bukan berarti negara harus menggantikan keluarga. Namun, memastikan warga dapat hidup layak di usia tua merupakan bagian dari tanggung jawab negara.Untuk itu, pemerintah perlu memperkuat perlindungan pendapatan di usia lanjut, memperluas akses layanan kesehatan dan long-term care, serta menyediakan dukungan bagi keluarga dan caregiver yang menjalankan pekerjaan perawatan.Perubahan demografi tidak dapat dihentikan, tetapi negara perlu mempersiapkan dampaknya. Keluarga mungkin semakin kecil, tetapi sistem pendukung kita harus semakin kuat. Baca juga: Pentingnya program pensiun sosial: Karena lansia adalah tanggung jawab negara, bukan hanya anak cucu Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.