Konferensi pers Jazz Goes to Campus (JGTC) The City Series Vol. 2 di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanJazz Goes to Campus (JGTC) akan memasuki penyelenggaraan ke-49 pada 2026. Hampir lima dekade berjalan, festival musik yang digagas mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) itu masih membawa semangat awalnya: membuat musik jazz lebih dekat dengan anak muda.The 49th Jazz Goes to Campus akan digelar pada 8 November 2026 di FEB UI Campus Ground, Depok. Tahun ini, JGTC mengusung tema “Resonating Jazz Through Every Soul” dan menghadirkan lebih dari 30 penampil dalam empat panggung.Sejumlah musisi yang masuk dalam daftar penampil antara lain Kunto Aji, Perunggu, Sal Priadi, Maliq & D’Essentials, HIVI!, The Groove, Yura Yunita, Pamungkas, serta White Shoes & The Couples Company. Line-up tersebut menunjukkan pilihan JGTC yang tidak terpaku pada satu genre, tetapi tetap mempertahankan unsur jazz dalam musik yang dibawakan.Bagi pendiri JGTC, Candra Darusman, semangat tersebut tidak jauh berbeda dari alasan festival ini pertama kali dibuat pada era 1970-an.Konferensi pers Jazz Goes to Campus (JGTC) The City Series Vol. 2 di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanSaat itu, jazz lebih banyak dinikmati melalui pertunjukan di hotel yang relatif sulit dijangkau mahasiswa. JGTC kemudian hadir di lingkungan kampus agar musik tersebut dapat dinikmati lebih dekat oleh mahasiswa dan masyarakat.Semangat tersebut kemudian dikenal sebagai upaya untuk “membumikan jazz”.Hampir 50 tahun kemudian, gagasan tersebut masih menjadi bagian dari identitas JGTC. Salah satunya melalui program band competition yang menjadi ruang bagi musisi muda untuk menunjukkan kemampuan dan mendapatkan kesempatan berkembang.Ketua Forum Jazz Indonesia dan promotor jazz internasional, Chico Hindarto, bahkan melihat program tersebut sebagai bagian dari investasi jangka panjang bagi ekosistem jazz nasional.Menurut Chico, keberadaan band competition menjadi salah satu cara JGTC membantu menemukan sekaligus mengembangkan talenta-talenta baru. Di tengah semakin banyaknya festival musik di Indonesia, ia juga menilai JGTC perlu mempertahankan identitasnya yang memiliki akar kuat pada musik jazz.JGTC Kembali ke JakartaPerjalanan menuju usia 50 tahun pada 2027 juga membawa JGTC kembali memperkuat hubungannya dengan Jakarta.Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebut JGTC sebagai bagian dari sejarah Jakarta. Meski festival utama kini digelar di Depok, JGTC memang memiliki perjalanan panjang dengan ibu kota sejak pertama kali diselenggarakan.Karena itu, JGTC berencana menghadirkan The City Series di lima wilayah Jakarta. Program tersebut menjadi bagian dari upaya membawa musik jazz kembali hadir di berbagai ruang di kota tersebut.Rangkaian itu juga akan menjadi bagian dari perjalanan menuju perayaan 50 tahun JGTC pada 2027, yang bertepatan dengan momentum 500 tahun Jakarta. Kolaborasi tersebut membuka peluang untuk menghadirkan kegiatan di sejumlah kawasan bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan JGTC dan Jakarta.Konferensi pers Jazz Goes to Campus (JGTC) The City Series Vol. 2 di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanSementara itu, Project Officer The 49th JGTC, Andra Achmad Daradjatun, mengatakan tema tahun ini berangkat dari gagasan bahwa jazz tidak hanya dapat dinikmati sebagai sebuah genre musik, tetapi juga memiliki nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Karena itu, JGTC menghadirkan musisi dari berbagai genre dengan tetap mempertahankan elemen jazz dalam musik mereka.“Jazz bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari,” ujar Andra.Bagi JGTC, keberagaman tersebut menunjukkan bahwa jazz tidak harus hadir sebagai musik yang eksklusif. Kebebasan berekspresi, improvisasi, dan kolaborasi justru menjadi bagian yang membuat jazz dapat terus menemukan pendengarnya di berbagai generasi.Dengan penyelenggaraan ke-49 tahun ini, JGTC tidak hanya bersiap menuju usia 50 tahun. Festival tersebut juga melanjutkan perjalanan yang dimulai hampir lima dekade lalu: membawa jazz keluar dari ruang yang terbatas dan membuatnya lebih dekat dengan generasi baru.