Atlet tembak reaksi DIY, Hans Christian Pratama Tioparta Manihuruk. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi DarmaAtlet tembak reaksi DIY, Hans Christian Pratama Tioparta Manihuruk, pernah menjadi pelatih kepala tim tembak reaksi Kepolisian Kota Sharjah, Uni Emirat Arab. Pada 2018 dan 2019, ia menyiapkan anggota tim kepolisian tersebut untuk menghadapi pertandingan antarkota.Menurut Hans, tawaran melatih datang setelah pihak di Sharjah melihat aktivitas dan prestasinya di dunia menembak. Dalam setiap periode, ia tinggal di sana sekitar dua hingga tiga bulan.Hans menyusun materi, jadwal, hingga program latihan tim. Ia mengatakan sejumlah anggota tim berhasil memperbaiki hasil pertandingan. Ada yang sebelumnya menempati posisi ketiga naik menjadi kedua, sementara yang berada di posisi kedua menjadi juara.Selama melatih, Hans juga memperoleh fasilitas untuk menjalankan latihannya sendiri sebagai atlet.“Saya menularkan ilmu, tapi saya juga mendapatkan fasilitas yang baik dari sana,” ujarnya.Pandemi Covid-19 kemudian menghentikan kegiatan melatihnya di Sharjah. Ketika kembali mendapat tawaran, Hans memilih tidak berangkat karena kesibukannya di Indonesia semakin padat.Berawal dari Senapan Angin dan AirsoftAtlet tembak reaksi DIY, Hans Christian Pratama Tioparta Manihuruk. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi DarmaHans lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia mulai mengenal senapan angin saat duduk di bangku SMP hingga awal SMA. Saat itu, menembak masih menjadi hobi dengan sasaran seperti baterai dan koin.Ketika kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Hans mengenal komunitas airsoft dan mulai mencoba tembak reaksi menggunakan airsoft gun.Ia kemudian mengikuti kompetisi dan meraih prestasi di nomor Airsoft IPSC sebelum beralih ke tembak reaksi menggunakan senjata api.Hans mulai serius menjadi atlet sekitar 2015. Ia mengikuti berbagai kejuaraan di Indonesia dan luar negeri.Di tingkat nasional, Hans dua kali meraih emas PON, masing-masing pada PON Papua 2021 dan PON XXI Aceh-Sumut 2024. Pada PON 2024, ia juga memecahkan rekor pada nomor yang diikutinya.Ia kemudian meraih medali perunggu pada nomor tembak reaksi standar di SEA Games Thailand 2025.Selain berkompetisi, Hans menjalankan bisnis di bidang menembak dan terlibat dalam pembinaan atlet. Menembak juga menjadi topik skripsinya saat menempuh pendidikan Teknik Informatika. Ia membuat aplikasi Android tentang dasar-dasar teknik menembak.Latihan dan Persiapan Sebelum BertandingAtlet tembak reaksi DIY, Hans Christian Pratama Tioparta Manihuruk, saat bertanding di SEA Games Thailand 2025. Foto: Dok. IstimewaHans menekankan pentingnya menuntaskan persiapan sebelum pertandingan, mulai dari istirahat, latihan, nutrisi, hingga peralatan.“Pertandingan itu bukan cari menang,” kata Hans.Menurutnya, atlet perlu memastikan persiapan telah dilakukan dengan baik sebelum datang ke arena dan menampilkan kemampuan terbaik.Ia menyebut ada pekerjaan rumah atlet yang tidak diketahui orang lain. Dalam pengalamannya, waktu yang dihabiskan untuk berlatih jauh lebih banyak dibandingkan yang terlihat dari luar.Hans mengatakan atlet yang merasa prestasinya belum berkembang perlu mengevaluasi apa yang telah dilakukan, termasuk membandingkan porsi latihannya dengan kompetitor.“Sudah juara pun kita masih belajar, sudah juara pun kita masih latihan.”Setelah meraih emas dalam dua edisi PON, Hans menargetkan emas berikutnya pada PON 2028 di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.Menurut Hans, materi pertandingan pada PON mendatang akan berbeda dari dua edisi sebelumnya. Tim perlu mempelajari format tersebut dan menyusun strategi.Berbagi Teknik dengan KompetitorAtlet tembak reaksi DIY, Hans Christian Pratama Tioparta Manihuruk, saat melatih tim tembak kepolisian Kota Sharjah, Uni Emirat Arab. Foto: Dok. IstimewaSelain menjadi atlet, Hans dipercaya sebagai Kepala Bidang Tembak Reaksi Perbakin DIY. Ia ikut terlibat dalam program latihan dan pengembangan atlet daerah.Sofan Hadi, yang pernah mendampingi tim, menceritakan bagaimana Hans membagikan teknik kepada kompetitor menjelang PON Papua 2021.Saat itu, Sofan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Hans sebelum mengizinkan seorang kompetitor mengikuti persiapan tim. Hans mempersilakan kompetitor tersebut melihat persiapan, termasuk teknik dan taktik yang digunakan.“Ketika kompetitor bertemu kompetitor, ternyata luar biasa. Jawabannya tidak seperti yang dibayangkan. Di sini open, semuanya terbuka. Bahkan teknik dan taktik kita sodorkan semuanya,” kata Sofan saat bercerita ke Pandangan Jogja di Jupiter Shooting Club, Selasa (8/9).Menurut Sofan, kompetitor yang ikut berlatih bersama tim Hans itu kemudian meraih medali perunggu pada PON Papua 2021.Ia juga mengatakan Hans pernah membantu memperbaiki senjata kompetitor yang bermasalah dalam sebuah kejuaraan.“Ilmu yang dimilikinya, dia tidak segan-segan. Bahkan tidak pernah tutup-tutupan tentang strategi,” ujar Sofan.Menyiapkan Atlet Penerus, Terkendala PeralatanKetua Bidang Pembinaan Prestasi (Kabid Binpres) Pengurus Daerah Perbakin DIY, Sofan Hadi. Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi DarmaSofan mengatakan Perbakin DIY ingin menyiapkan lebih banyak atlet agar prestasi tembak reaksi tidak bergantung pada satu nama.Beberapa atlet mulai dipersiapkan, termasuk Daniel yang turut berlatih dan mendampingi persiapan Hans. Ada pula Almas, petembak putri yang telah meraih sejumlah prestasi di tingkat nasional.Menurut Sofan, kendala utama pembinaan saat ini adalah peralatan, terutama senjata dan peluru.Harga satu peluru, kata dia, berkisar Rp8.000 hingga Rp10.000. Dalam satu sesi latihan, pemakaian dapat mencapai sekitar 200 butir, bergantung pada materi latihan.Dengan jumlah tersebut, kebutuhan biaya peluru saja mencapai sekitar Rp1,6 juta hingga Rp2 juta per sesi.Sofan berharap pembinaan dapat menghasilkan lebih banyak petembak dengan spesialisasi di berbagai divisi tembak reaksi.“Kita pengen ada Hans-Hans yang lain menyusul,” kata Sofan.