Jajaki Proyek Amonia Bersih, Pupuk Indonesia Bidik Emisi Turun 96% hingga 2050

Wait 5 sec.

Ilustrasi PT Pupuk Indonesia (Persero). Foto: Dok. Pupuk IndonesiaPT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca hingga 96 persen pada 2050 melalui berbagai inisiatif dekarbonisasi. Mulai dari efisiensi energi, circular economy, pemanfaatan CO2 menjadi produk bernilai tambah, penggunaan energi hijau, nature-based solutions, serta pengembangan amonia bersih.Senior Project Manager Sustainability and Clean Ammonia Pupuk Indonesia, Erlangga Rismantojo, mengatakan target tersebut merupakan bagian dari peta jalan dekarbonisasi perusahaan menuju Net Zero Emission 2050.“Pupuk Indonesia telah menyusun peta dekarbonisasi. Hingga tahun 2050 target kami adalah untuk menurunkan emisinya sampai 96 persen atau sekitar 24,9 juta ton CO2 ekuivalen melalui technology based initiatives dan mencapai penurunan emisi 100 persen dengan tambahan inisiatif berbasis alam atau nature-based solutions” ujar Erlangga dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (20/9).Menurut Erlangga, efisiensi energi juga menjadi salah satu langkah utama untuk menekan konsumsi gas bumi dan emisi dari proses produksi. Pupuk Indonesia juga mendorong modernisasi dan optimasi fasilitas produksi agar tetap kompetitif sekaligus lebih rendah karbon, salah satunya melalui pengembangan pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur.Dalam proyek tersebut, emisi CO2 dari proses produksi dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan soda ash yang dibutuhkan berbagai industri, antara lain kaca dan deterjen. Menurut dia, pemanfaatan CO2 tersebut membuka peluang terbentuknya rantai industri baru berbasis karbon.Ilustrasi PT Pupuk Indonesia (Persero). Foto: Dok. Pupuk IndonesiaProduk kaca yang dihasilkan, misalnya, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan panel surya. Sehingga menciptakan keterkaitan dengan pengembangan energi terbarukan.Selain itu, Pupuk Indonesia juga mengembangkan sejumlah proyek clean ammonia. Perusahaan tengah menjajaki dan mengkaji pembangunan fasilitas green ammonia di sejumlah lokasi existing dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan. Salah satu skema yang dikaji adalah penggunaan listrik berbasis energi terbarukan melalui Renewable Energy Certificate (REC).Dalam pengembangan blue ammonia, fasilitas Carbon Capture and Storage (CCS) menjadi salah satu enabler utama. Teknologi ini menangkap CO2 yang dihasilkan dari proses produksi dan kemudian disimpan melalui injeksi ke dalam formasi geologi bawah permukaan.Implementasi CCS, lanjut Erlangga, membutuhkan koordinasi dengan penyedia jasa, pembangunan infrastruktur, serta kajian kelayakan lebih lanjut.Di sisi energi, perusahaan juga terus melakukan diversifikasi sumber energi untuk mengurangi ketergantungan pada satu sumber energi sekaligus memperkuat ketahanan energi. Inisiatif Pupuk Indonesia antara lain mengembangkan instalasi solar photovoltaic, pemanfaatan biomassa, serta menggunakan REC.Diversifikasi tidak hanya dilakukan pada energi, tetapi juga bahan baku. Menurut Erlangga, dinamika rantai pasok global menunjukkan pentingnya bagi industri pupuk untuk memiliki sumber bahan baku yang beragam."Pupuk Indonesia saat ini masih mengimpor sebagian bahan baku karena tidak seluruh kebutuhan dapat dipenuhi dari dalam negeri. Untuk menjaga keamanan pasokan, perusahaan bekerja sama dengan pemasok berbagai bahan baku, termasuk fosfat, potash, dan sulfur dari sejumlah negara," tutur Erlangga.Perusahaan pun mendorong integrasi vertikal dengan mengupayakan penguasaan sumber bahan baku di berbagai lokasi. Strategi tersebut ditujukan untuk mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika global.