Konser Ed Sheeran di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Foto: Dok. PK EntertainmentUsai meneriakkan dukungan di atas panggung, Macklemore dicoret dari jajaran penampil pendukung tur Ed Sheeran. Melalui akun Instagram pribadinya, Ed Sheeran memberikan klarifikasinya.Mengawali penjelasannya, Ed Sheeran menegaskan bahwa dirinya juga prihatin melihat konflik antara Israel dan Palestina. Menurutnya, penderitaan dan rasa sakit yang ditimbulkan di kedua belah pihak merupakan tragedi kemanusiaan."Terlalu banyak perang di seluruh dunia yang menyebabkan penderitaan yang tak terukur, dan tidak satu pun dari perang tersebut yang seharusnya ditoleransi," tutur Ed dalam akun Instagramnya @teddysphotos.Ed kemudian menekankan bahwa dirinya menghormati Macklemore sebagai sesama musisi. Sama dengan penampil pendukung lainnya, Ed membebaskannya untuk memainkan daftar lagu pilihan mereka sendiri.Setelah penampilan Macklemore di konsernya di New Jersey, pihak penyelenggara konser di tanggal tur berikutnya menyampaikan permintaan agar Macklemore dicoret dari daftar penampil pendukung. Jika tidak, maka gelaran konser tersebut akan dibatalkan.Menurut Ed, pihak penyelenggara dan promotor mengambil sikap tersebut karena penyampaian pesannya. Bukan pada apa yang disampaikannya."Saya berbicara panjang lebar dengan pihak penyelenggara konser sepanjang minggu untuk mencoba menjembatani perbedaan. Salah satu orang tersebut adalah Robert Kraft," ujar Ed."Saya juga terlibat dalam pembicaraan langsung dengan promotor bersama para aktivis dari kedua belah pihak untuk mencoba menemukan solusi bersama bagi semua, tetapi keputusan pihak penyelenggara dan promotor adalah final," tambahnya.Ed kemudian menegaskan bahwa pencoretan Macklemore bukan lah keputusannya. Menurut Ed keputusan tersebut diambil oleh promotor."Keputusan Macklemore untuk mengakhiri tur adalah keputusan promotor, bukan keputusan saya. Kontrak Macklemore untuk tur tersebut adalah dengan promotor, bukan dengan saya," tukasnya.Di sisi lain, pelantun lagu Perfect itu mengaku bahwa dirinya tak mau mengecewakan kru konser, artis pendukung, dan penggemarnya yang sudah berencana menyaksikan konsernya."Saya tidak akan pernah mengecewakan para penggemar yang telah membuat rencana, dan saya juga tidak akan meninggalkan kru tur serta artis pendukung dan musisi lain yang bergantung pada saya untuk pekerjaan dan penghidupan mereka," ujar Ed.Ed Sheeran: Tak Bersuara Bukan Berarti Tidak PeduliKonser Ed Sheeran di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Foto: Dok. PK EntertainmentLebih lanjut, Ed Sheeran juga mengungkapkan alasannya tak bersuara soal genosida yang terjadi di Palestina. Menurut Ed, dirinya selalu menggunakan musiknya sebagai platform untuk menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan budaya, dan ini tidak akan pernah berubah. "Mereka yang pernah datang ke salah satu pertunjukan saya akan tahu bahwa pertunjukan tersebut tentang persatuan, kegembiraan, pelarian dari rutinitas, cinta, dan tempat di mana setiap orang merasa diterima," tutur Ed.Ed memastikan bahwa dirinya memiliki pandangan pribadi terkait konflik antara Israel dan Palestina. Namun, dia memilih untuk tidak mengemukakannya di depan umum."Hanya karena saya memilih untuk tidak berbicara di depan umum, bukan berarti saya tidak memiliki pandangan tersebut, dan bukan berarti saya tidak peduli," ungkap Ed.'Bukan pula berarti saya tidak mendukung berbagai isu dengan cara saya sendiri, secara pribadi," tambahnya.Pelantun lagu Photograph itu menekankan bahwa dirinya tidak ingin menggunakan platform profesional saya untuk politik. Sebab audiens saya meliputi anak muda bahkan seringkali anak-anak, dari berbagai latar belakang. 'Mereka yang datang ke pertunjukan saya tidak mengharapkan forum politik. Saya menghormati keteguhan tekad Macklemore untuk berdiri dan meneriakkan apa yang dia yakini. Namun, ada ruang untuk berbagai pendekatan menuju tujuan yang sama: perdamaian," tukasnya. Ed menghormati sikap Macklemore. Namun, dia memilih untuk menggunakan ketenaran dan platform sebagai tempat yang aman dan terlindungi, untuk menjaga diplomasi dan menjaga percakapan tetap terbuka, bukan tertutup. 'Jika kita hanya fokus pada berteriak paling keras, tidak akan ada yang berubah. Ada berbagai pendekatan untuk menjadi pendukung perubahan," tutupnya.