Lokasi titik api di TN Berbak Sembilang, Rabu (16/9/2026). Foto: Dok. TN Berbak dan SembilangKebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di area Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang di Sumatera Selatan. Kondisi itu mengancam satwa dilindungi seperti harimau sumatera yang habitatnya di sana.Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang, Yunaidi, mengatakan titik api berawal dari daerah Bagan 9, Desa Tanah Pilih, Kabupaten Banyuasin, namun karena angin yang kencang dan medan sulit dijangkau membuat api terus membesar."Kebakaran sudah terjadi sejak awal September, namun karena sulitnya akses untuk menjangkau lokasi dibutuhkan waktu sekitar dua hari dua malam sampai petugas Manggala Agni tiba di lokasi," katanya, Rabu (16/9).Menurutnya, tidak ada akses jalan membuat petugas kesulitan menjangkau lokasi. Sungai-sungai yang biasa bisa dilalui semuanya kering dan tidak efektif untuk dilalui."Sejak 4 September sebenarnya sudah dilakukan water bombing oleh BNPB Sumsel tapi sampai sekarang masih ada kebakaran," jelasnya.Kemudian sekitar 3 hari yang lalu, lanjut Yunaidi, tim menerjunkan alat berat traktor untuk mampu menembus akses darat di area taman nasional. Namun, jarak ke lokasinya cukup jauh, sekitar 4-5 kilometer melalui hutan.Petugas Manggala Agni menembus hutan untuk menuju lokasi titik api di TN Berbak Sembilang, Rabu (16/9/2026). Foto: Dok. TN Berbak dan Sembilang"Tim yang ke lokasi berjumlah 20 orang Manggala Agni dari Jambi. Mudah-mudahan hari ini bisa tembus ke lokasi titik api dan bisa dipadamkan," katanya.Yunaidi menjelaskan untuk luas area yang terbakar saat ini belum dapat dipastikan karena harus menunggu pendinginan dan pemetaan melalui drone, tapi estimasi dari perhitungan di lapangan sudah di atas 4.000 hektare area yang terbakar."Asap sendiri cenderung ke arah Provinsi Jambi karena mengikuti arah angin, karena kalau dari administratif itu lokasinya lebih dekat ke Jambi daripada ke Palembang," ujarnya.Termasuk juga pengerahan Manggala Agni yang lebih memungkinkan diakses dari Jambi. Mengingat akan lebih jauh jika didatangkan dari Palembang karena harus melalui laut.Kondisi kebakaran saat ini sepenuhnya terjadi di area gambut dengan kedalaman mencapai 2 meter sehingga pemadaman api harus dilakukan dengan membanjiri area tersebut."Jadi kalau hari ini ada api, di bagian atasnya saja yang padam. Besok saat siang hari dan kondisi panas bagian bawah gambut tadi akan kembali terbakar dan terus meluas," jelasnya.Lokasi titik api di TN Berbak Sembilang, Rabu (16/9/2026). Foto: Dok. TN Berbak dan SembilangApalagi akses yang sulit dijangkau membuat api terus meluas, petugas juga berupaya mencari sumber-sumber air terdekat agar lebih cepat melakukan pemadaman.Di sisi lain, kata Yunaidi, TN Berbak dan Sembilang sendiri merupakan habitat dari satwa liar seperti harimau sumatera, beruang, dan makanan harimau sendiri seperti rusa dan babi hutan."Tapi sampai saat ini satwa seperti harimau sumatera terbilang aman di habitatnya karena habitat hidupnya itu di hutan-hutan yang vegetasinya padat atau lebat," jelasnya."Kalau pun terbakar masih di are ujung-ujungnya saja. Hanya saja jika api terus meluas maka bukan tidak mungkin akan berdampak ke sejumlah satwa yang ada di Taman Nasional," katanya.Meski demikian, Yunaidi menyebut api cenderung lebih cepat membakar lahan gambut yang vegetasinya semak belukar dan pakis-pakisan yang sudah mengering.